NASIONAL

Jelang Lebaran, Uang Palsu Marak

JAKARTA- Tahun ini Polri mengungkap penyebaran 80 ribu lembar lebih uang palsu (upal) yang beredar di mayarakat. Ini merupakan barang bukti 33 kasus pengedaran dan pembuatan upal yang diungkap polisi sepanjang tahun ini.
Kadiv Humas Polri Brigjen (pol) Iskandar Hasan, menyebut tren peredaran ini cenderung meningkat menjelang lebaran. Alasannya peredaran uang sedang meingkat di masyarakat sehingga peluang penyebaran itu lebih mudah. "Kita yakin masih ada yang beredar mungkin dengan lebaran ini pencetakannya lebih cepat," kata Iskandar Hasan di Mabes Polri, Jumat (3/9).
Sementara itu, Kanit Upal dan Dokumen Palsu, Direktorat ekonomi Khusus (Direksus) Bareskrim Polri, Kombespol Darmawan Sutawijaya menambahkan saat ini para pelaku penggandaan uang makin memperbaharui teknologi pencetakan uang mereka. Kondisi ini membuat hasil duplikasi upal lebih sempurna dan mendekati hasil cetakan uang asli yang dikeluarkan Bank Indonesia. "Ini mendekati yang asli," ujarnya di Rupatama Mabes Polri, Jakarta.
Dikatakannya saat ini uang pecahan dengan nominal Rp 100 ribu merupakan yang paling banyak dipalsukan. Menyusul kemudian Rp 50 ribu dan Rp 20 ribuan. "Ada juga pecahan nominal Rp 5 ribu," tambahnya.
Namun dari hasil pengungkapan tak hanya rupiah palsu yang diproduksi para pengganda uang di Indonesia. Sejumlah mata uang asing juga tak luput dari pemalsuan. Antara lain Dolar Amerika, uang Brazil, Turki, Iran, Bulgaria serta Yugoslavia juga dipalsukan. Ini diketahui dari barang bukti yang disita bersama sejumlah mesin pencetak uang dan dokumen penggandaan lainnya.
"Sepanjang Januari-Agustus terungkap 33 kasus dengan tersangka yang telah  diamankan sebanyak 79 orang," tambahnya.
Secara menyeluruh uang palsu yang berhasil disita mencapai Rp 9 miliar. Ini merupakan hasil tangkapan polisi di sejumlah wilayah peredaran seperti Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Dari para tersangka ini belum ditemukan adanya keterlibatan oknum aparat pemerintah atau oknum dari peruri. Namun dari mereka ditangkap sejumlah resedivis penggandaan uang yang pernah ditangkap dalam kasus serupa beberapa tahun lalu. "Memang ada pelaku lama," imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Peredaran Uang Bank Indonesia (BI) yang Muhammad Dahlan menyebut dari barang bukti ini banyak merupakan hasil terungkap di BI.  Modusnya para pelaku menyelipkan uang sebelum di setorkan ke bank dan terungkap setelah uang tersebut sampai di BI.
Dari jumlah peredaran upal kini diperkirakan 1:8 juta. Yakni dari satu juta lembar uang asli terdapat 8 lembar uang palsu.
"Ini artinya masih sama dengan yang terjadi tahun 2009 tidak ada peningkatan," tandasnya. (zul/jpnn)

 

Bocah Tertembak di Rumah Gubernur

Polisi Belum Ungkap Motifnya
BANDUNG – Suasana penuh ketegangan cukup mencolok di sekitar rumah dinas Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Jumat (3/9) petang. Dikabarkan, seorang bocah berinisial RA (12)—teman anak gubernur—mengalami luka tembak saat bermain di rumah orang nomor satu di Jawa Barat itu.
Sumber Bandung Ekspres (Grup Radar Tasikmalaya) di lingkungan Pemprov Jabar menyebutkan, peristiwa saat menunggu azan magrib itu terjadi di kamar salah satu anak gubernur. Belum diketahui pasti, bagaimana mereka bisa masuk dan bermain di dalam kamar serta lolos dari pihak keamanan dalam (Kamdal). Sementara korban, kini masih dalam perawatan di RS Borromeus karena mengalami luka tembak di bagian pundak.
Terang sumber itu, kejadian bermula saat anak gubernur meninggalkan teman-temannya karena hendak mengikuti les sekitar pukul 13.00. Tidak lama sebelum anak gubernur pergi, datang RA dan teman sepermainnya ke Gedung Pakuan.
“Anak Pak gubernur pergi les, mereka tetap main di gedung pakuan,” kata sumber tersebut, tadi malam.
Entah bagaimana cara mereka masuk ke dalam ruangan kamar anak gubernur. Yang pasti, kata sumber itu, anak-anak tersebut menemukan senapan angin di salah satu kamar yang tersimpan di lemari. Senjata pun diletuskan teman anak gubernur lainnya, berinisial RZ, dan mengenai RA. Korban pun akhirnya dilarikan ke RS Borromeus untuk mendapatakan penanganan medis.
Kapolrestabes Bandung Kombes Jaya Subrianto mengaku masih menyelidikan kasus tersebut. Hingga pukul 24.00, kata dia, anggota kepolisian masih ada di RS Borromeus untuk mengumpulkan data serta keterangan saksi-saksi.
“Saya belum memperoleh keterangan lengkap. Anggota saya masih di rumah sakit,” kata Jaya ketika dihubungi wartawan, kemarin.
Meski demikian, ketika dikonfirmasi mengenai kondisi terakhir korban penembakan trsebut, pihak pun RS Borromeus enggan memberikan komentar. (rie)

Kecam Rencana Pembakaran Al-Quran

TASIK- Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Cabang Tasikmalaya mengutuk rencana pembakaran Al-Quran yang akan dilaksanakan pengikut Gereja Dove World Outreach Center di Florida Amerika Serikat pada 11 September 2010.
Dalam pernyataan tertulisnya, Ketua DPD II HTI Tasikmalaya, Dandi Irawan ST mengecam keras tindakan tersebut. Malah kata Dandi rencana tersebut adalah keji dan tidak beradab. “Karena itu, tindakan ini tidak boleh dibiarkan. Harus ada upaya sungguh-sungguh dari pemerintah AS (Amerika Serikat, red), juga dari umat Kristen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia untuk menggalkan rencana sinting itu,” tulisnya dalam selebaran yang dibagikan kepada pengguna Jalan Otto Iskandar Dinata dan Lapangan Dadaha, Kota Tasikmalaya, kemarin sore.
Dalam pernyataan lainnya, Dandi menghawatirkan jika rencana pembakaran tersebut benar-benar dilaksanakan akan memancing reaksi keras dari umat Islam di seluruh dunia dalam berbagai bentuk. “Dan tidak ada satupun yang pihak yang bisa mengendalikan ragam dan intensitas reaksi yang bakal muncul. Dan pasti akan menimbulkan ketegangan dan bahkan konflik keras antar umat beragama. Karena itu rencana itu harus benar-benar dicegah,” ujarnya.
Selain meminta kepad umat Kristen untuk menggalkan rencana tersebut, HTI juga mendesak pemerintah RI untuk berdiplomasi untuk menekan dan menggalkan rencana pembakaran kitab suci bagi kaum Muslim itu.
“Para penguasa Muslim, termasuk di negeri ini harusnya bersikap tegas dan keras jika tidak ingin kejadian itu melahirkan akibat buruk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,”  kecamnya.
Sementara itu salah satu sumber kecaman HTI yakni rencana Pendeta Terry Jones yang menuduh bahwa Islam bertanggung jawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001.
Gereja Dove World Outreach Center adalah sebuah sekte kecil kristen di Florida.
Selebaran Dibagikan ke Pengguna Jalan
Sementara itu dalam aksinya, para anggota HTI membagikan selebaran kecaman terhadap rencana tersebut di Jl Otto Iskandardinata dan Dadaha, Kota Tasikmalaya. Jumlah anggota HTI yang diturunkan berjumlah 39 orang.
Sebanyak 20 menyebarkan selebaran di Lapangan Dadaha. Sedangkan sisanya di Jl Otto Iskandardinata, tepatnya di stopan Alun-Alun Tasikmalaya.
Selain membagikan selebaran, anggota HTI juga membawa   ada yang membawa poster yang isinya kecaman.
Kegiatan tersebut dilaksanakan mulai pukul 15.30 hingga menjelang berbuka puasa. (zlf)








Masuk ke Musala Pesaing Masjidilharam

Pengalaman Ulama Suni Indonesia "Belajar" di Komunitas Syiah Iran (2-Habis)
Iran mulai diminati pelajar Indonesia yang ingin studi Islam. Alumninya kelak bisa menjadi perekat bagi pemahaman yang lebih baik antara penganut Suni dan Syiah. Berikut lanjutan catatan MOH. ALI AZIZ, guru besar IAIN Sunan Ampel, dari Teheran.

MOH. ALI AZIZ, Teheran

SAAT ini jumlah jumlah pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran sekitar 175 orang.  Dari jumlah itu, sebagian besar atau 150 orang memilih  belajar ilmu agama di Hauzah Ilmiyah di Kota Qom.
Hauzah Ilmiyah adalah perguruan tinggi di bawah payung Jamiatul Musthafa Al Alamiyah. Selain di Qom, lembaga tersebut mempunyai beberapa perguruan tinggi di Kota Mashad, Isfahan, dan Gorgan (khusus untuk penganut Sunni). Semula lembaga tersebut bernama Markaz Jahani Ulume Islami. Pergantian nama ini seiring dengan perubahan menjadi universitas, seperti perubahan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia.
Yang menarik, para istri (pelajar/mahasiswa) juga wajib ikut kuliah plus menjadi santri di perguruan tinggi yang sistem pengajarannya bernuansa pondok pesantren itu. Karena mahasiswa sekaligus juga santri, belajarnya seharian penuh. 
Salah seorang anggota IPI yang kerap mendampingi saya selama di Iran adalah Choiruddin, pelajar asal Lombok Timur.  Dia sedang menyelesaikan S2 di Universitas Mazahabe Islami di bawah Kementerian Sains dan Ristek Iran yang berdiri sebelas tahun lalu.
Choiruddin adalah salah seorang di antara tiga mahasiswa yang dikirim PB NU untuk kuliah di negeri Mullah itu. Tiga mahasiswa itu sebelumnya kuliah di Qom. Karena tidak kuat dengan tekanan ideologis (karena berlatar belakang Suni), akhirnya mereka pindah ke universitas di Teheran melalui perjuangan yang berliku-liku.  Di ibu kota Iran mereka agak leluasa untuk menampakkan jati diri sebagai mahasiswa non-Syiah.
Ada dua jenis beasiswa di Iran, yaitu dari pemerintah melalui Kementerian Sains-Ristek dan Jamiatul Musthofa Al Alamiyah, lembaga swasta untuk pusat studi Syiah di Kota Qom. Pelajar menerima beasiswa dari pemerintah Iran antara 400 ribu-1 juta riyal Iran per bulan (nilai tukar satu riyal hampir sama dengan rupiah). "Alhamdulillah cukup, Pak," kata Dadan, mahasiswa Universitas Internasional Imam Khumaeni di Qazvin, sekitar 150 kilometer dari Teheran.
Menurut Dadan, beasiswa itu cukup karena biaya asrama ditanggung.  Demikian pula makan di kampus disubsidi sehingga hanya membayar dua ribu riyal. Padahal, di luar harus 50 ribu sekali makan. Tidak hanya itu, naik bus hanya membayar 200 riyal (Rp 200) dengan tiket jauh dekat.
"Untuk kami yang di Qom hanya (dapat bea siswa, red) 500 ribu riyal,|" kata Abdurrahman, alumnus UIN Alauddin Makasar yang sudah dua tahun di Qom. "Anak saya ini mendapat jatah satu beasiswa," katanya sambil menggendong anaknya yang berusia dua tahun.
Di antara ratusan pelajar Indonesia, ada seorang yang telah menyelesaikan S3 bidang filsafat dan seorang lagi dalam proses penyelesaian S3. Yang lebih hebat, ada pelajar Indonesia yang sudah 28 tahun belajar di Qom. Dia sudah berada di jenjang darajatul mujtahid sehingga beberapa tahap lagi menjadi ayatullah. Bisa jadi, dialah orang Indonesia pertama yang bergelar ayatullah.
Seorang ayatullah sudah diberi otoritas menjadi mujtahid (pengambil keputusan hukum Islam). Ia bisa juga memasuki jenjang yang paling atas, ayatullah udhma yang bisa menjadi rujukan taqlid.  Seorang ayatullah dituntut menguasai satu disiplin ilmu,  sedangkan ayatullah udhma multidisiplin.
Yang menarik, untuk setiap jenjang itu, seseorang harus menghafal sejumlah kitab standar Syiah dan menyusun karya ilmiah. Di Iran, para akhund (ulama) itulah yang mengendalikan negara, mulai level lokal hingga nasional. Sektor swasta maupun negeri. Dengan demikian, tidak ada satu pun lembaga di negeri itu yang lepas dari kontrol agama.
Ironisnya, saat ini gejala degadrasi kepercayaan kepada tokoh agama amat sering saya dengar dari beberapa mahasiswa dan sopir taksi di Teheran. Keluhan itu dipicu oleh, antara lain, naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, buku, bahkan bensin setelah pencabutan subsidi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi para akhund apakah para agamawan bisa membawa Iran lebih sejahtera.
Sebagai negara republik Islam yang menempatkan para agamawan di tempat yang strategis, Iran memiliki perhatian besar pada agama. Salah satu even menarik selama Ramadan ini adalah Pameran Alquran Internasional yang dilaksanakan di Musala Imam Khumeini.
Pameran internasional itu dilaksanakan oleh pemerintah setiap Ramadan. Meski diadakan di "musala, menurut saya,  itulah musala yang terbesar di dunia.
Saya tidak tahu persis luasnya, tapi saya perkirakan ratusan hektare. Saya mengitari dengan sedan sampai berganti tiga nama jalan di jantung Kota Teheran itu, namun belum juga tuntas.  Jangan tanya berapa lama membangunnya!  Sebab, saat ini merupakan tahun ke-20 sejak mulai dibangun (setelah memindahkan ratusan rumah penduduk), tapi pembangunannya belum mencapai 40 persen.
Itulah musala yang sering disebut orang dibangun untuk "menandingi"  Masjidilharam di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah. Di dekat musala ada beberapa hutan buatan dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Di sepanjang tepi jalan raya ada saluran air dari gunung berdiameter 50 cm untuk penyiraman dua kali sehari di tanah gersang itu.
Pameran buka pukul 17.00-24.00. Ini jam buka pameran yang wajar bagi masyarakat Iran karena tidak ada tarawih dan tidak ada tadarus bagi mereka selama Ramadan.
"Subhanallah," ucap saya berkali-kali melihat kemegahan musala dan menyaksikan secara langsung macam-macam kitab Alquran. Desain dan kaligrafi yang ditampilkan belum pernah saya jumpai di museum Belanda maupun di Indonesia.
Tidak hanya itu,  para wanita anggun berpakaian serbahitam menunggu beberapa pengunjung di lobi untuk berdiskusi tentang Alquran. Ada ruang  untuk diskusi, bahkan debat terbuka, tentang tafsir, fikih, atau tauhid yang dipandu oleh akhund.
"Banyak di antara mereka yang berpredikat hujjatul Islam yang setara dengan profesor," kata Choiruddin kepada saya sambil menunjuk debat terbuka yang disiarkan langsung melalui televisi. 
Ada satu stan yang semua penjaganya wanita muda dengan laptop di tangannya. Mereka bukan menjual produk yang terkait dengan Alquran, tapi memamerkan klasifikasi dan kajian mendalam Alquran terkait dengan disiplin ilmu biologi, fisika, astronomi, kedokteran, dan sebagainya.
Persis di pintu keluar, saya mendapat suguhan pameran yang tidak kalah menarik, yaitu patung para nabi, mulai Nabi Adam, Nuh, Ibrahim yang sedang berjihad melawan kaum pembangkang.  Tetapi, tidak ada patung Nabi Muhammad.
Di tempat itu pula Pameran Buku Internasional diadakan setiap tahun dengan suasana yang jauh lebih meriah.  Setelah mengelilingi tempat tersebut,  baru saya paham mengapa namanya musala (bukan masjid). Mungkin agar bisa lebih leluasa untuk mengadakan even-even akbar setiap saat.
Yang membuat saya takjub, semua Alquran yang dipamerkan oleh negeri dengan 97 persen penganut Syiah itu sama persis dengan milik kaum Suni.
Setelah keluar dari tempat pameran, saya bermimpi suatu saat tidak boleh lagi ada bentrokan antara Suni dan Syiah. Sebaliknya, masing-masing bisa bersama-sama membangun peradaban dunia dengan nuansa rahmatan lilalamin. (el/c1/jpnn)



Kaligrafi Indah Itu Ternyata Pelaris Dagangan

Pengalaman Ulama Suni "Belajar" di Komunitas Syiah Iran (1)

Untuk yang ketiga, Prof Dr Moh. Ali Aziz MA, guru besar Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, diundang ke Iran untuk menjadi imam Tarawih dan narasumber kajian Islam selama Ramadan. Berikut catatan perjalanannya dari negeri berpaham Syiah itu yang ditulis dari Teheran.

Prof Dr Moh. Ali Aziz MA, Teheran

"SALOM, salom,"  teriak anak berusia sekitar sepuluh tahun sambil berjalan tergesa-gesa. Kaki kecilnya beringsut di tengah jamaah yang baru selesai salat Duhur di Masjid Hadharat Qaim, kira-kira 50 meter dari Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia Teheran, tempat saya tinggal. Inilah hari pertama Ramadan (11/8) sekaligus salat Duhur berjamaah pertama pada kunjungan ketiga saya di Teheran, Iran.
Masyarakat Iran lebih terbiasa dengan ucapan salom daripada  assalamualaikum  seperti di Indonesia. Bocah berhidung mancung dengan celana panjang dan kaus bergaris itu terlambat datang. Seharusnya dia bertugas sebagai "remote" salat  Duhur. Karena terlambat, dia baru melaksanakan tugasnya untuk salat Asar yang selalu dikerjakan satu waktu dengan Duhur (Demikian juga, salat Isya di sana dikerjakan secara berjamaah pada waktu Magrib). 
Bocah itu langsung memegang mikrofon. Dia berdiri tiga meter sebelah kanan imam. "Allahu Akbar," komando sang bocah kepada jamaah di belakangnya, segera setelah imam yang mengenakan pakaian kebesaran jubah cokelat tua dan serban putih memulai salat. Demikian seterusnya untuk komando rukuk, sujud, iktidal, dan sebagainya.
Pada rakaat kedua salat jamaah itu, saya keliru memahami komando. Sebelum rukuk, terdengar komando takbir. Saya langsung rukuk sebagaimana biasa saya lakukan. Ternyata itu komando doa kunut. Baru takbir berikutnya, komando rukuk.
Dalam perjalanan pulang dengan udara panas yang sampai membuat hidung keluar darah, saya berkata dalam hati, "Hebat benar, seorang bocah bisa memberi komando sang syekh”. Yang menarik, meski memberikan komando, dia tidak ikut salat. Bocah "remote" itu baru salat "sendirian" setelah salat jamaah usai.
Tidak selalu "remote" salat jamaah adalah anak-anak. Di Masjid Jamik Imam Shodiq Alaihissalam di Aqdasiyeh Street Teheran, komando salat diucapkan orang dewasa yang duduk persis di depan imam salat. Dengan celana dan baju lengan panjang yang disingsingkan sedikit dan tanpa tutup kepala, dia memberikan komando dengan suara mantap.
Masyarakat Iran tidak biasa menggunakan tutup kepala saat salat di masjid. Hanya imam yang menggunakan tutup kepala dengan serban hitam atau putih. Serban hitam sebagai tanda bahwa dia sayyid (keturunan nabi) dan warna lainnya bukan sayyid.
Saya memang sering terlihat asing bagi jamaah lainnya. Bukan hanya karena baju dan kulit saya, tapi juga karena cara beribadah saya yang non-Syiah. Sejak wudu saja, saya sudah dipandang aneh. Bagi penganut Syiah, membasuh tangan untuk berwudu tidak boleh dengan membasahinya di bawah pancuran keran, tapi dengan cakupan tangan. Sisa air dari tangan itu lalu diusapkan sedikit di kepala dan sedikit di kaki. Jadi, tanpa mengusap telinga dan tanpa membasuh kaki. Dalam buku Amozes Namaz (petunjuk salat) yang saya beli di Bazar Bozorge (Pasar Besar), ternyata memang demikian aturan wudu.
Ketika masuk masjid, saya juga asing. Mereka mengambil turbah  (tanah bulat atau persegi empat dari tanah "suci" Karbala, tempat cucu nabi sekaligus anak Ali bin Abi Thalib meninggal) yang tersedia di rak pintu masjid untuk alas sujud, sedangkan saya ngeloyor begitu saja. Apalagi sewaktu berdiri salat, hanya saya yang bersedekap. Jamaah lain membiarkan tangan lurus ke bawah. 
Kekakuan di tengah jamaah itu segera cair setelah Karami, warga Iran yang lebih dari 15 tahun menjadi staf lokal KBRI, yang mendampingi saya, menjelaskan kepada jamaah bahwa saya sedang belajar tentang Syiah dan masyarakat Iran. Paham Syiah memang amat kental bagi masyarakat Iran. Berkali-kali saya bertemu orang dan ditanya dengan pertanyaan yang sama: Dari negara mana, penganut Syiah atau tidak, dan ketika saya menjawab Suni, mereka bertanya pengikut mazhab apa?
Pada Ramadan hari ketiga, saya salat Duhur didampingi Choiruddin, pelajar Indonesia yang sudah tiga tahun belajar di Iran, di Haram Muthahar Imam Khumeini (masjid dan makam Imam Khumeini). "Jika ditanya orang, Pak Ustad sebaiknya menjawab saya pengikut Suni bermazhab Imam Syafii,"  pesan Choiruddin.
Benar kata Choiruddin. Beberapa menit kemudian, dua orang berpakaian rapi dan berjas menghampiri saya. Mereka mengajukan pertanyaan yang sama. Dengan bahasa Arab yang lumayan fasih, dua orang itu berbicara sangat sopan dan toleran terhadap kami yang Suni. Bahkan, keduanya "orang kampus sekaligus penghafal Alquran" menyebut beberapa kebaikan Imam Syafii.
Sekalipun ulama Suni, Imam Syafii sangat dicintai penganut Syiah. Banyak penduduk Iran yang bernama Syafii.
"Jika bukan orang kampus, Pak Ustad pasti diceramahi panjang lebar, yang intinya ajakan untuk meninggalkan paham nenek moyang yang tidak benar dan mengikuti Syiah,"  kata Choiruddin setelah mengucapkan Khoda hafez (Tuhan menjagamu) sebagai ucapan perpisahan kepada keduanya.
Hampir semua masjid di Iran yang saya kunjungi dihias dengan kaligrafi yang sangat indah. Jangankan masjid, tembok-tembok rumah dan kantor pun berhias kaligrafi. Pada mihrab Masjid Jamik Imam Shodiq Alaihissalam, misalnya, terdapat kaligrafi  surat An-Nur ayat 35,  "Allah adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi...?. Mengapa ayat itu yang dipilih" Bagi mereka, ayat itu ada kaitannya dengan kedudukan para imam Syiah. Cahaya Allah hanya bisa terpancar di langit dan bumi melalui para imam.
Terdapat juga doa dalam kaca dan berlampu yang menggambarkan penantian akan datangnya Imam Mahdi yang sedang dirindukan sebagai pemberi solusi semua masalah kehidupan. Sebutan untuk imam yang dinantikan itu bermacam-macam.  Ada kalanya dipanggil Wali Ashr, Imam Zaman, Shahibuz Zaman, atau Mahdi al Muntadhar.
Setiap usai salawat nabi dengan lagu yang khas, baik sewaktu mendengar azan maupun selesai salat, mereka selalu menambah dengan doa wa?ajjil farajahum (wahai Allah percepatkan selesainya semua masalah umat dengan kehadiran Mahdi al-Muntadhar). Ada juga doa yang terpampang di tembok, Ya shahibaz Zaman adrikni  (Wahai Imam yang ditunggu, beri saya jalan keluar).
Ada juga kaligrafi yang dipasang di hampir semua toko yang terkenal dengan sebutan kaligrafi  Waiy Yakad. Sebutan itu terkait dengan bunyi awal ayat yang ada dalam kaligrafi tersebut, yaitu Surat Al-Qalam ayat 51, yang artinya  "Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka tatkala mereka mendengar Alquran?.
Pada Ramadan dua tahun yang lalu, saya sudah membeli kaligrafi itu karena indah dan sangat populer. Melihat artinya, saya menduga ayat tersebut untuk penangkal kejahatan. Namun, baru pada kunjungan kali ini saya menemukan jawabannya bahwa itu adalah kaligrafi "pelaris dagangan”.
"Masyarakat Iran yang terkenal cerdas ternyata juga menyukai jimat," kata saya kepada Buyuk, warga Iran yang bertugas sebagai sopir di KBRI. Mendengar kelakar saya itu, dia hanya tersenyum. 
Dadan Maula, ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran, punya pandangan menarik tentang fenomena tersebut. "Bahkan,  "jimat" yang banyak beredar di masyarakat Indonesia ada kaitannya dengan budaya dan keyakinan orang Iran, Pak," katanya setelah sama-sama mengikuti upacara memperingati kemerdekaan ke-65 RI di Teheran.
Dia menunjukkan beberapa bukti, antara lain, gambar pedang pada jimat di Jawa. Gambar itu diduga kuat adalah gambar pedang Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang juga sangat populer di Iran.  Kaligrafi berbentuk kepala singa yang banyak kita jumpai di Indonesia juga sangat mungkin dari Iran. Sebab, gambar tersebut juga ada di bendera Iran pada zaman pemerintahan Shah Pahlevi. Orang Iran menyebut gambar itu dengan shir va khurshid (harimau dan matahari).
Saat berada di pasar dekat masjid, saya ditawari Buyuk yang sudah lansia itu untuk membeli tasbih zahra untuk oleh-oleh. "Tasbih apa lagi," pikir saya. Saya menduga tasbih (alat penghitung zikir) itu terbuat dari bunga karena zahra dalam bahasa Arab berarti bunga. Setelah masuk toko, ternyata itu tasbih biasa seperti yang banyak dijumpai di Indonesia.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang Iran menyebut itu dengan tasbih zahra? Ternyata, karena orang Iran menggunakan tasbih selain untuk berzikir subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar, juga untuk memanggil-manggil imam atau orang suci pujaan mereka. Ya Zahra  (gelar untuk Fatimah, putri Rasulullah, istri Ali bin Abi Thalib) atau Ya Husein (cucu nabi, putri Fatimah) atau Ya Abal Fadhal (imam atau pejuang yang terpotong-potong tubuhnya karena membela Imam Husein di Karbala).
Sebelum keluar dari toko, pemilik toko mengangkat  tangan saya sambil mengatakan dengan bahasa Persia,  Andunezi khaeli khube. Ba Iran Israel ra ruswa kunim (Indonesia sangat baik, bersama Iran, kita tumpas Israel.” "Bale. Mamnun," jawab saya, yang berarti, ya dan terima kasih.
Saya tidak tahu dia paham atau tidak terhadap jawaban saya. Tapi, yang jelas, dia kemudian mengangkat kedua ibu jari tangannya (Jika hanya mengangkat satu ibu jari, itu berarti penghinaan di Iran). Tapi, karena sudah menjadi kebiasaan, saya sering keliru memuji orang dengan satu ibu jari. (bersambung)

Bupati Selamatkan TKW Telantar

Wardah Ditemukan Menangis di Bandara Jeddah

TASIK – Bupati Tasikmalaya Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd menyelamatkan tenaga kerja wanita (TKW) asal Sampang, Madura bernama Wardah (25). Saat ditemukan, Wardah sedang menangis dan dikerumuni orang di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Selasa (31) pukul 19.30 waktu Jeddah.
Tatang menceritakan, pada saat itu dia bersama rombongan hendak pulang ke Tanah Air usai umroh. Setibanya di Bandara Jeddah, dia melihat seorang perempuan menangis sambil dikerumuni orang. Lalu dia mendekatinya.
“Setelah ditanya dia (Wardah, red) mengaku TKW asal Sampang, Madura. Dia ditipu majikannya dan ditelantarkan di Bandara Jeddah,” ujarnya kepada Radar melalui sambungan telepon tadi malam pukul 19.15. Saat itu Tatang baru sampai Karawang perjalanan menuju Tasikmalaya.
Kepada Tatang, Wardah mengaku sudah 21 bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga seorang majikan di Arab Saudi. Namun selama itu, dia tidak pernah digaji. Lalu suaminya di Madura meminta Wardah pulang saja.
“Wardah memang dibeliin tiket dan diantar ke Jeddah oleh majikannya. Namun setibanya di Jeddah, saat pemeriksaan bandara, Wardah ditinggalin majikannya. Bahkan tas berisi handphone dan uang dibawa kabur oleh majikannya. Jadi dia pulang ke Jakarta tanpa punya uang sepeser pun ,” jelas Tatang menirukan ucapan Wardah.
Demi kemanusiaan, Tatang pun mengajak Wardah pulang bersama ke Indonesia. Untuk sementara dia akan dibawa dulu ke Pendopo. “Besok (hari ini, red) saya akan beri ongkos dia untuk pulang ke Madura,” katanya.
Tatang menyatakan, menolong TKW telantar atas dasar kemanusiaan. Dia pun berpesan kepada siapapun jika menemukan orang Tasikmalaya telantar baik di dalam negeri maupun di luar negeri, harus ditolong.
Selain itu, menurut Tatang, kejadian ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah setempat dan perusahaan jasa pengiriman TKW. Tenaga kerja telantar menjadi tanggung jawab perusahaan pengirimnya.
“Untuk warga Tasikmalaya juga harus berhati-hati memilih perusahaan pengiriman TKW. Jangan sampai peristiwa seperti Wardah dialami warga Tasikmalaya,” tandas Tatang.
Di bulan Ramadan ini, Bupati Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd melaksanakan umroh. Dia berangkat hari Senin, 23 Agustus lalu. Tiba di Tanah Air Rabu, 1 September 2010. “Saya memang minta cuti dulu untuk melaksanakan umroh. Masa cuti habis hingga tanggal 4 September (Sabtu, red),”  katanya. (dir)


Boul Berdarah

BUOL- Bentrokan berdarah antara warga dan polisi terjadi di Kota Buol, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Akibatnya sampai kemarin malam tujuh orang tewas, dua kritis, luka 13 orang.
Kekisruhan di Buol berawal dari tewasnya, salah satu tahanan yang bernama Kasmir Timumun (19) pada Minggu malam lalu di dalam sel Mapolsek Biau. Warga meminta pertanggungjawaban atas kematian Kasmir.
Di Mapolsek malam itu, massa terus meneriakkan yel-yel yang pada intinya meminta pertanggungjawaban polisi terhadap kematian Kasmir di dalam sel yang diduga karena dianiaya.
Sekitar satu jam lebih, massa berada di Mapolsek Biau guna mempertanyakan kasus yang menggemparkan warga setempat. Pada kesempatan itu, aparat sempat membuang tembakan, namun tak digubris oleh massa.
Pada kesempatan itu, terjadi pertemuan antara koordinator massa, kakak almarhum Jamal Timumun, dibantu keluarga almarhum lainnya, dengan pihak kepolisian. Pertemuan itu membicarakan soal bukti-bukti kematian.
Untuk mengetahui kematian, pihak kepolisian mengusulkan agar jasad almarhum diautopsi. Usulan itu disepakati, tapi karena malam, jasad almarhum baru bisa diautopsi pada keesokan harinya, Selasa (31/8), kemarin. Massa membubarkan diri setelah mendapat penjelasan dari Kapolres Buol AKBP Amin Litarso SH. Mereka bubar dan pulang ke rumah masing-masing. 
Penjelasan Kapolres Senin malam itu, rupanya tidak memuaskan massa. Tadi malam sekitar pukul 20.30 Wita, saat sebagian warga tengah melaksanakan salat isa berjamaah di masjid, sebagian massa mengepung dan menyerang kantor Mapolsek Biau. Akibat penyerangan itu, sebanyak 16 warga terkena tembakan. Satu di antaranya dikabarkan tewas.
Bupati Buol, Amran Batalipu yang dihubungi Radar Sulteng tadi malam, membenarkan peristiwa itu. Bahkan saat dihubungi, Amran mengaku sedang berada di RSU Buol guna memantau korban yang luka-luka terkena tembakan. “Informasi yang saya dapat ada 16 orang yang luka-luka terkena tembakan, salah satu di antaranya meninggal,” kata Amran.
Amran pun meminta agar masyarakat kabupaten Buol tidak terprovokasi dengan peristiwa itu. Dia meminta agar masyarakat tenang. Sampai tadi malam, semua korban yang luka-luka langsung mendapat penanganan pihak RSU Buol. “Semua biaya pengobatan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten,” kata Amran.
Informasi yang diperoleh koran ini, meskipun suasana sudah normal. Namun sampai pukul 01.00 Wita dini hari, warga masih melakukan pengepungan terhadap Mapolsek Biau. Akibat peristiwa penyerangan itu, beberapa fasilitas Mapolsek mengalami kerusakan.
Kasmir Timumun tewas dalam sel tahanan Polsek Biau. Kasmir ditahan setelah menabrak salah seorang polisi. Almarhum ditemukan petugas sudah tak bernyawa pada Minggu (29/8) di ruang tahanan Mapolsek Biau. Versi polisi, almarhum tewas karena gantung diri dengan kain sarung.
Kapolres Buol, AKBP Amin Litarso SH, yang ditemui Radar Sulteng, Selasa (31/8) di Mapolsek Biau, menjelaskan kronologis awal penangkapan Kasmir. Menurut Kapolres, pada hari Sabtu (28/8) atau malam Minggu, sekitar pukul 22.00 Wita ada balapan liar di Los Kelurahan Kumaligon Kecamatan Biau Kabupaten Buol. Kira-kira empat kilometer sebelah barat dari kota Buol. Saat itu anggota Lantas datang ke TKP dengan kekuatan satu UKL, juga dalam rangkaian Operasi Citra Polantas.
Tiba di TKP kata Kapolres, salah seorang anggota segera menghentikan balapan liar tersebut, tetapi di saat menghentikan beberapa motor melarikan diri, termasuk  almarhum. Pada saat itulah almarhum justeru menabrak seorang anggota polisi lalulintas, bernama Briptu Ridwan yang akrab dipanggil Rido. Akibatnya Rido mengalami luka-luka yaitu luka di bagian belakang kepala, dan patah kaki kanan. “Saat ini Rido sudah dirujuk ke rumah sakit Bhayangkara di Palu,” jelas Kapolres.
Buntut dari kasus itu, polisi kemudian menahan almarhum di sel Polsek Biau.  Namun  baru sehari dalam sel, ungkap Kapolres, almarhum didapat oleh anggota sudah tewas gantung diri. “Soal gantung diri itu kita tidak menduga-duga. Kita panggil keluarga almarhum untuk menyaksikan kondisi terakhir almarhum, lalu kita turunkan jasad almarhum,” urainya.
Selanjutnya polisi melakukan olah TKP dan melakukan visum. Tetapi ketika hendak melakukan autopsi keluarga menolak, sehingga almarhum dibawa pulang ke rumah keluarganya di Bundo Kelurahan Kali Kecamatan Biau Kabupaten Buol, pada hari Minggu pukul 16.00 Wita. “Kita sudah temui keluarga, dan akan minta pernyataan dari keluarga kalau tidak mau autopsi. Tetapi ada kelompok-kelompok massa yang melakukan provokasi dengan pernyataan bahwa kematian almarhum tidak wajar,” terang Kapolres lagi.
Ada pihak-pihak tertentu kata Kapolres, yang membawa massa menuju Mapolsek Biau pada malam itu. Mereka minta untuk dilakukan visum ulang dan otopsi. Namun karena fasilitas di RSUD Buol tidak memungkinkan sehingga proses autopsi baru bisa kita lakukan, Selasa (31/8) kemarin.
Menjawab pertanyaan wartawan koran ini, tentang dugaan penganiayaan, sebagaimana yang dituturkan keluarga almarhum. Kapolres dengan tegas mengatakan akan melakukan penyelidikan terhadap beberapa saksi yang mengetahui perkara itu. “Kalau ada unsur penganiayaan yang dilakukan anggota polisi, kita akan selidiki. Tentu saja dengan kesaksian beberapa orang saksi,” tandas Kapolres.
Menghadapi kemungkinan adanya aksi massa yang akan melakukan aksi unjukrasa atau demonstrasi ke Mapolsek Biau dan Mapolres Buol,  Kapolres juga akan mengambil langkah-langkah antisipatif, dengan mengerahkan personil yang dimiliki Polres Buol. Termasuk personil BKO dari Brimob Polda yang hingga kini masih terus bertugas di wilayah Kabupaten Buol, dan BKO Dalmas dari Polres Tolitoli. “Kami pasti akan mengerahkan personil yang dimiliki untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan pasca kematian almarhum,” pungkasnya.
Hasil Visum:  “Saluran Nafas Tercekik
Dokter yang melakukan autopsi terhadap tubuh almarhum Kasmir Timumun (19) tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban, seperti yang tersebar di tengah masyarakat Buol saat ini. Dokter yang melakukan autopsi, dr I Made Wardana Sp.OP membuka hasil autopsinya Selasa (30/8) kemarin dengan gamblang. 
Usai melakukan autopsi terhadap almarhum Kasmir Timumun  kurang lebih dua jam, yang dimulai dari pukul 09.00 Wita hingga pukul 11.30 Wita, dr I Made Wardana SP.OP, ahli bedah pada RSUD Buol yang melakukan autopsi terhadap tubuh almarhum, menggelar jumpa pers dengan wartawan dan keluarga almarhum di aula RSUD Buol, Selasa (31/8). Guna menjelaskan secara detail hasil autopsi yang dilakukannya bersama tim medis lainnya.  
Walaupun penjelasan dokter Made baru bersifat sementara, dan penjelsannya pun masih secara umum, tetapi paling tidak kata dokter Made dapat mengungkap sedikit misteri dari kematian almarhum Kasmir Timumun. “Penjelasan saya ini sifatnya secara umum, nanti ada hasil kesimpulannya secara tertulis yang akan saya  berikan kepada polisi dan pihak keluarga,” kata dr I Made Wardana, memulai konferensinya.
Ditanya kapan hasil kesimpulan autopsi diberikan kepada polisi dan keluarga almarhum, dokter Made hanya mengatakan hasilnya akan ditulis dan ditandatangani oleh pihak RSUD dalam waktu dekat ini. “Kesimpulan hasil autopsi akan kami berikan dalam waktu dekat ini, setelah ada permintaan dari polisi dan keluarga almarhum,” tandas dokter Made.
Dalam penjelasannya, dokter Made mengatakan hasil pemeriksaan dari autopsi itu dimulai dari tulang tengkorak, kemudian dada, dan kaki tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Tetapi yang ada hanya keretakan atau tanda jejas di leher almarhum. “Kami sudah periksa tulang tengkorak, dada, dan kaki semuanya normal, kecuali di tulang leher ada keretakan dan penyempitan pembuluh darah, dan tanda-tanda jejas. Gambaran jelas sumber kematian ini dari leher, “paparnya.
Demikian pula dengan tanda lebam-lebam akibat benturan atau pukulan benda tumpul kepada anggota badan  almarhum tidak ditemukan dokter.  Termasuk sundutan rokok yang dijejal ke tubuh almarhum, dan kedua belah tangan almarhum. “Tidak ada lebam-lebam  atau tanda kekerasan lainnya di tubuh almarhum,” tegas dr Made.
Dengan pemeriksaan itu, kata dokter made, ia mempertaruhkan reputasi dan profesinya sebagai seorang dokter professional, dan mempertaruhkan sumpah dokter yang diucapkannya saat dilantik sebagai dokter. “Saya berikan keterangan sejujur-jujurnya. Apa yang saya temukan itu yang saya ungkapkan sekarang,” tambahnya.  (rez/mch/jpnn)

Ikut Tarawih dengan Madzhab Hambali, Kecele Karena "Amin nya Terlalu Panjang

Catatan: Dahlan Iskan
Beijing

SUDAH tiga kali saya Lebaran Idul Fitri di Tiongkok, tapi baru sekali ini merasakan salat tarawih di sana. Dua hari berturut-turut saya ke masjid Niu Jie, masjid terbesar di Beijing. Awal bulan puasa ini saya memang harus ke Tiongkok untuk cek kesehatan. Yakni tepat setelah tiga tahun saya menjalani transplantasi hati di Tianjin. Sudah sembilan bulan saya tidak cek kesehatan lantaran banyaknya urusan di PLN.
Setelah selesai cek kesehatan, saya memang ke Beijing untuk mengadakan pertemuan dengan berbagai perusahaan besar yang ada kaitannya dengan PLN. Sebagai Dirut PLN saya berkepentingan untuk mendesak mereka agar proyek-proyek 10.000 MW itu cepat selesai.
Saat di Beijing inilah saya ingin berbuka puasa di masjid Niu Jie. Sudah beberapa kali saya ke masjid ini tapi baru kali ini tepat di bulan puasa. Saya memang ingin berbuka puasa dan salat tarawih di masjid ini.
Berbuka puasa di masjid Niu Jie dilakukan di halaman masjid. Sambil menunggu - berbuka, mereka ngobrol sambil berdiri di halaman. Saya bisa ngobrol lebih asyik karena salah satu pengurus masjid itu pensiunan PLN-nya Tiongkok. Dia ahli turbin. Dia juga banyak tahu soal politik karena termasuk pengurus partai komunis setempat.
Berbeda dengan di Masjidil Haram, Makkah, makanan kecil untuk ta’jil di sini diletakkan di atas meja. Bukan lesehan di tikar. Ada tiga meja tinggi di halaman itu. Di atas meja itu disajikan roti coklat dan sedikit kurma. Lalu ada teko berisi teh dan gelas-gelas plastik.
Wanita tidak bergabung di sini. Isteri saya menyatu dengan jemaah wanita di masjid wanita di sebelah masjid yang bentuk dan arsitekturnya seperti kelenteng ini.
Begitu azan berkumandang, saya langsung mencicipi roti dan minum teh. Azan dilakukan di halaman dekat pintu depan masjid. Saya pikir inilah azan yang tepat, dilakukan di halaman. Bukan di dalam masjid. Rupanya semua jemaah sudah berwudu. Terbukti begitu azan selesai mereka bergegas masuk masjid.
Yang membuat saya tiba-tiba terperangah adalah ini: ketika jemaah mulai pelan-pelan masuk masjid muncullah dari arah bangunan lain, sembilan orang muda berpakaian putih-putih dengan surban berbuntut panjang menjuntai di punggung. Jalannya tegap dan cepat. Tidak tolah-toleh. Tidak pula menyapa jemaah lain. Mereka berjalan lurus masuk ke masjid. Lalu berdiri di barisan terdepan. Salah satunya mengambil posisi sebagai imam.
Oh, mereka memang berbeda dengan jemaah biasa. Bukan hanya pakaiannya. Tapi juga peranannya. Merekalah yang disebut para imam. Imam di sini memang memegang peran sentral. Jemaah biasa tidak bisa mengambil tempat di barisan ini. Barisan imam ini seperti kelas khusus yang lebih tinggi. Merekalah yang mendalami agama. Sedang jemaah biasa cukup mengikuti mereka. Ini agak berbeda dengan di Indonesia. Banyak jemaah biasa di Indonesia yang rajin mendalami pengetahuan agama.
Ruangan masjid ini cukup untuk 700 orang. Di bagian kiri dan kanan ruangan masjid banyak terdapat meja setinggi meja makan dan kursi. Setiap satu kursi ada meja di depannya. Di bagian kiri terdapat sekitar 20 meja-kursi. Demikian juga di sisi kanan.
Rupanya inilah kursi untuk sembahyang bagi orang yang sudah tidak kuat berdiri. Orang tua. Mereka sembahyang sambil duduk di kursi. Sedang meja berlapis kain di depannya tadi untuk landasan bersujud. Di masjid ini infrastruktur salat untuk orang tua disediakan sangat cukup.
Saya tahu Islam di Tiongkok menganut madzab Hambali. Sedikit berbeda dengan Islam di Indonesia yang umumnya menganut madzab Syafi’i. Perbedaan ini tidak banyak. Paling angkat tangannya saja yang hanya sekali sepanjang salat. Yakni saat takbiratul ikram di awal salat. Atau jemaah tidak mengucapkan kata "amin" dengan suara keras dan nada yang panjang saat imam selesai membaca al fatihah.
Ucapan "amin" dari jemaah hanya terdengar sangat pendek dan lemah. Pada rekaat pertama hanya saya sendiri yang mengucap "amin" dengan keras dan panjang. Tentu terasa aneh dan menonjol. Pada rekaat kedua saya tidak mengulangi lagi kenyelenehan itu. -
Ada lagi yang membuat saya kagok. Begitu imam mengucapkan salam pertanda salat sudah selesai, seluruh jemaah spontan berdiri dan bubar. Sebagai orang yang biasa setelah salam masih harus berdoa dan berdzikir, saya kaget melihat itu. Rasanya seperti tidak sopan atau tidak khusyu?. Kalau di Indonesia seseorang melakukan hal seperti itu bisa-bisa cacat sosial: dicap "lam-cat”, habis salam meloncat.
Tapi saya lantas iangat ajaran ini: selesai salat bersegeralah bertebar di muka bumi untuk mencari rizki. Rupanya mereka menerapkan ajaran ini. Karena ini bulan puasa, maka rizki berupa makanan memang sudah siap diserbu. Di halaman lain di luar masjid ini memang sudah disediakan lima meja berikut kursi-kursinya. Di sinilah mereka makan malam. Berbagai roti dan kure tersedia. Yang dari masjid wanita juga bergabung di sini. Makan malam ini waktunya amat longgar. Sebab rangkaian salat tarawih baru akan dilakukan pukul 20.30. Ada dua acara sebelum salat tarawih. Pada 15 menit pertama, delapan imam yang kembali sudah mengambil posisi di barisan depan itu secara bergantian membaca surat-surat pendek dari bagian akhir Al Quran. Lima belas menit berikutnya untuk ceramah agama, tentu dalam bahasa Mandarin. Salah satu imam tampil sebagai penceramah. Ceramahnya pun langsung menuju isi, tanpa mengucapkan "asalamu alaikum" di awal atau di penutupnya.
Tepat jam 21.00 salat tarawih dimulai. Karena 20 rakaat (ditambah 3 rakaat witir) maka jam 22.00 baru selesai. Apalagi tiap dua rakaat diselingi pembacaan puji-pujian dari seluruh jemaah, dan setiap empat rekaan puji-pujian itu lebih panjang. Karena cukup panjang inilah banyak jemaah yang belum hafal. Mereka membawa teks di atas kertas satu folio.
Puji-pujian ini seperti dalam bahasa Arab. Tapi telinga saya kurang bisa menangkap apa bunyi sebenarnya. Yang jelas bukan salawat nabi. Saya penasaran ingin tahu. Setelah rakaat kedelapan saya mencoba meminjam teks itu. Oh, dalam tulisan mandarin. Apakah puji-pujian itu dalam bahasa Mandarin? Tidak. Sebab setelah saya baca tulisan itu tidak ada artinya dalam bahasa Mandarin. Ternyata tulisannya saja yang Mandarin, tapi bunyinya mirip bunyi huruf Arab. Rupanya banyak jamaah yang tidak bisa membaca huruf Arab sehingga ditulis dalam huruf Mandarin.
Cukup banyak yang tawarih malam itu. Sekitar 300 orang, termasuk sekitar 30 orang yang menggunakan kursi. Kali ini tidak sendirian saya "kecele" mengucapkan "amiiin" dalam pengucapan yang keras dan agak panjang. Dari arah belakang terdengar juga "amiin" yang sama.
Setelah tarawih, saya baru tahu ada dua orang asing di situ: satu dari Turki dan satunya lagi dari salah satu negara timur-tengah. Beda dengan saya yang segera ikut cara Hambali, dua orang ini terus saja mengucapkan "amiin" dengan suara yang keras dan panjang selama 23 rakaat malam itu.
Kini lebih lengkap saya mengikuti cara ibadah madzhab Hambali. Mulai dari cara berjamaah, berbuka, tarwih, membayar zakat, memperlakukan imam, memperlakukan orang yang meninggal dunia dan ziarah kubur mereka. (*)

Persib-Srwijaya Berebut Final

PALEMBANG- Pertandingan sengit akan kembali tersaji pada laga pamungkas grup B Inter Island Cup (IIC), nanti malam. Persib Bandung akan menghadapi Sriwijaya FC guna memperebutkan pemuncak klasemen dan lolos ke babak final, 5 September.
Pertandingan tersebut akan dilaksanakan di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang pada pukul 21.00. (Siaran langsung di RCTI).
Bagi kubu Maung Bandung (julukan Persib), Sriwijaya FC bukanlah lawan yang enteng untuk dikalahkan.
"Meski sebelumnya sempat kalah (Sriwijaya FC dari Persiba, 0-3), bukan berarti Sriwijaya tim yang lemah. Mereka tetap tim yang bagus, hanya belum mampu menciptakan gol,” puji pelatih Persib Daniel Darko Janac Kovic, kemarin.
“Tapi, kami tidak memikirkan pertandingan nanti. Saat ini kami fokus pada recovery pemain," ujarnya pelatih yang sempat melatih di Aljazair ini yang membawa kemenangan di laga pertama dari Persiba 3-2.
Di kubu Srwijaya FC, kemenangan Persib atas Persiba menjadi modal penting. Sebab, mereka memiliki kans untuk memuncaki klasemen. Karena sang pemuncak klasemen Persiba Balikpapan, saat ini telah mengoleksi 3 poin dengan surplus 2 gol (5-3). Sedangkan peringkat dua, Persib juga mengoleksi 3 poin dengan surplus 1 gol (3-2). Sehingga, bila ingin lolos, maka Sriwijaya harus menang minimal 6 gol.
“Kami terus berusaha semaksimal mungkin untuk menang setiap pertandingan. Meski kami minim persiapan kami tetap akan berjuang keras," kata pelatih Sriwijaya FC, Ivan Venkov Kolev.
Meski  berat tapi tetap akan  kejar kemenangan.       Panjangnya waktu recovery juga menjadi modal tersendiri bagi Sriwijaya. Tim juara Piala Indonesia tiga kali berturut-turut ini mempunyai waktu rehat sejak, Minggu (29/8) lalu. Hal ini berbanding terbalik dengan Persib yang hanya mempunyai satu hari untuk melakukan recovery. Tapi, misi untuk tebus dosa sekaligus lolos ke partai final, bakal sulit di lakoni Sriwijaya FC. Sebab Persib saat ini sedang dalam kondisi  di atas angin setelah mengalahkan Persiba 3-2.
Apalagi materi tim yang mewakili pulau Jawa ini mumpuni. Lihat saja pemain-pemain terkenal, seperti Christian Gonzalez, Isnan Ali, Haryono, dan Pablo Frances. Praktis, hal ini bakal menjadi ganjalan tersendiri Sriwijaya untuk memuluskan misinya.
Belum lagi, kondisi Sriwijaya FC masih gambling. Setelah lima pemain timnas dan dua pemain asing yakni, Keith Kayamba Gumbs (Pulang kampung) dan Julio Cesar (cedera) bakal absen pada laga ini. Pasti, beban Sriwijaya bakal semakin berat. "Kami fokus pada tim sendiri. Kami tidak ingin melihat kondisi tim lain. Kami tetap akan berjuang maksimal," pungkas Kolev yang tidak mau perang urat syaraf sebelum pertandingan melawan juara Liga Indionesia pertama. (mg43)

  • «
  •  Mulai 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

SELEBRITIS

Ikut Lomba Joget Balon
Kamis, 19 Agustus 2010
PERAYAAN ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia selalu identik dengan lomba. Itu juga yang terjadi di program musik Dahsyat Selasa (17/8). Pagi,... Baca selengkapnya...
Ramadan Ditemani Ibu
Kamis, 19 Agustus 2010
>> Anang HermansyahBULAN puasa ini menjadi yang kedua bagi Anang Hermansyah tanpa Krisdayanti sebagai istri. Penyanyi berusia 41 tahun itu... Baca selengkapnya...
Film Eat, Pray, Love Keok
Rabu, 18 Agustus 2010
HAMPIR sepuluh tahun setelah memenangi Oscar lewat Erin Brockovich, Julia Roberts memutuskan untuk menyisihkan statusnya sebagai bintang kelas A... Baca selengkapnya...

PENDIDIKAN

BSI Pilihan Tepat
Kamis, 19 Agustus 2010
Hadapi Era GlobalisasiTASIK – Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, keahlian dan kemampuan merupakan suatu keharusan bahkan tuntutan yang... Baca selengkapnya...
PKS Bantu Atur Lalu Lintas
Kamis, 19 Agustus 2010
TASIK - Patroli Keamanan Sekolah (PKS) merupakan salah satu jenis kegiatan ekstrakurikuler yang umum ditemui di sekolah-sekolah yang ada di... Baca selengkapnya...
STHG Targetkan Terima 150 Mahasiswa
Kamis, 19 Agustus 2010
TASIK – Sekolah Tinggi Hukum Galunggung (STHG) Tasikmalaya membuka penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2010/2011. Program yang ditawarkan... Baca selengkapnya...

Radar Tasikmalaya TV

Get the Flash Player to see this player.

time2online Extensions: Simple Video Flash Player Module

On Line

Ada 18 tamu online