
Sejatinya Eky Soerawidjadja SE adalah seorang pengajar (sejak 1986) dan juga Hubungan Masyarakat (Humas) di lingkungan Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Dia adalah sosok yang selalu bersahaja. Baik kepada muridnya, ataupun kepada siapa saja yang menjumpainya. Termasuk kepada Radar, yang siang itu sengaja untuk meminta waktu untuk wawancara Sosok.
Kepada Radar dia menuturkan salah satu penyebab dia terjun dan menceburkan diri ke dalam pengembangan bisnis batik Tasik, sebab dia mengaku sebagai seorang akademis terpanggil untuk memperbaiki kondisi bisnis batik yang saat itu terpuruk. Bermodalkan sebagai pengajar beberapa mata kuliah ekonomi (Ekonomi Moneter, Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro, Sistem Ekonomi) akhirnya sejak tahun 2000 dia terus membangkitkan bisnis batik sampai saat ini.
Sebagai seorang akademis, dia pun memberikan teori-teori yang dia miliki ke para pengrajin. Mulai dari pemasaran sampai dengan permodalan. Hasilnya, walau bergerak perlahan, namun geliat pertumbuhan akhirnya terlihat juga.
Semua keberhasilan tersebut tak lepas dari semangatnya yang terus tertanam dalam jiwanya. “Saya merasa perlu berkiprah dan berperan ditengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari pengabdian masyarakat yang didasari oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi,”ujarnya dengan nada yang tegas.
Faktor yang membuatnya begitu tertantang untuk memperbaiki sistem bisnis batik Tasik, yaitu lokasi pembuatan batik yang berada di wilayah tinggalnya.
“Kebetulan saya tinggal didaerah yang masyarakatnya secara turun temurun melakukan usaha batik menjadi perajin batik, daerah Ciroyom, jalan Cigeureung Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya,”akunya
Dengan panggilan jiwa dan kekutan hatinya, pada awal 2001, dia mengambil langkah untuk memperbaiki sistem bisnis batik yang begitu gemilang di era 1970-an.
“Langkah awal yang saya lakukan untuk membantu para perajin batik disana ialah dengan mendirikan kelompok usaha dan koperasi,”ujarnya.
Langkah tersebut diambil dengan alasan agar para pengrajin bisa memulai berkompetisi dan bersaing secara sehat. Namun hal itu ternyata tidak berlangsung sesuai harapan. Dan akhirnya mengarah kepada kegagalan.
“Faktor utama adalah para perajin batik tidak terbiasa berusaha secara berkelompok. Malahan timbul persaingan antar perajin untuk menjadi pengurus kelompok usaha agar bisa menguasai perajin lainnya. Yang akhirnya timbul ketidakpercayaan antar anggota perajin,”ujarnya.
Setelah mendapatkan kenyatan itu, tekad Ecky untuk membenahi bisnis batik malah semakin menjadi-jadi. Ayah dari R Bayu Soeryawidjadja dan R Banyu Soeryawidjaja ini, tidak menyerah, dia tetap berusaha agar para perajin bisa berkembang.
“Alasannya, karena saya melihat potensi usaha batik bila dikembangkan dengan baik akan menjadi usaha sangat menjanjikan. Apalagi batik merupakan salah satu warisan budaya yang menjadi kembanggaan warga setempat dan bisa membuka lapangan pekerjaan yang luas,”ujarnya yang seolah menerawang kisahnya beberapa tahun silam disaat kini bisnis batik Tasik semakin menggeliat dan menjanjikan. (ino)
Foto: usep saeffulloh
TERKENAL. Batik Tasik kini semakin terkenal saja. Terlebih banyak acara yang mempromosikan batik khas warga kota santri ini.













Ramalan Cuaca Kota...? 