Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

4%

19.6%

8.1%

68.3%

1.100 Ha Lahan di Garut Rawan Kebakaran

82
0
TB A Sofyan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut

TAROGONG KIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyebut wilayah Garut saat ini sudah memasuki musim kemarau. Sejumlah lahan dan hutan di Garut pun rawan terjadi kebakaran.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut TB A Sofyan mengatakan secara umum, luas lahan yang rawan terbakar selama kemarau di Kabupaten Garut kurang lebih 1.100 hektare. Luas tersebut tersebar di beberapa wilayah Garut, mulai utara hingga selatan dan timur sampai barat.

Baca juga : Disdik Garut tak Berani Buka KBM Tatap Muka PAUD, SD dan SMP

“Yang paling rawan terbakar lahan di kawasan Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Sadakeling hingga Hutan Sancang yang ada di Garut Selatan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (31/8).

Menurut dia, memasuki musim kemarau tahun ini setidaknya kurang lebih 18 hektare lahan di Kabupaten Garut terbakar karena beberapa hal, salah satunya di kawasan Gunung Guntur. Luasnya area lahan yang terbakar terjadi akibat minimnya sumber air di lokasi kebakaran, sehingga proses pemadaman dilakukan secara manual atau dilakukan sekat bakar.

“Memang lokasi lahan yang terbakar dan lahan yang rawan kebakaran berada di ketinggian, sehingga jauh dari sumber mata air. Selain itu, kondisi medan juga menjadikan mobil pemadam sulit sampai langsung ke titik lokasi kebakaran. Jadinya kita ya melakukan pemadaman secara manual dengan tim gabungan dari beberapa unsur,” ungkapnya.

Penyebab kebakaran di sejumlah lahan di Kabupaten Garut, dijelaskan Sofyan, bisa terjadi karena faktor alam dan manusia. Faktor alam akibat gesekan pohon di tengah teriknya matahari, sedangkan manusia akibat kelalaian, baik saat melakukan pembakaran ilalang hingga membuang puntung rokok sembarangan.

Tidak jarang, kebakaran lahan dipicu oleh aksi pendaki yang lupa mematikan bekas kegiatan memasak atau menyalakan api unggun saat melakukan pendakian. “Kita jadinya menggiatkan imbauan kepada pendaki bahkan kepada masyarakat juga agar jangan sampai lalai membiarkan bekas memasak atau membuat api unggun masih menyala saat ditinggalkan. Itu bisa memicu kebakaran lahan,” ungkapnya.

Baca juga : Peredaran Daging Beku Impor di Garut Bikin Resah Warga

Saat ini, diakui Sofyan, pihaknya bekerja sama dengan Pehutani dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) memantau wilayah kehutan di Kabuapaten Garut. Hal itu dilakukan karena beberapa kawasan yang rawan kebakaran adalah kawasan milik Perhutani dan BKSDA.

“Kita juga kepada masyarakat yang ada di kawasan lahan yang rawan terbakar memberikan arahan agar bisa mandiri melakukan pemadaman dan membuat sekat bakar sehingga bisa meminimalisasi luas lahan yang terbakar,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.