1.700 Warga Alami Gangguan Jiwa, Sebanyak 36 Orang Mengalami Pemasungan

186
0
ISTIMEWA MENANGANI ODJG. Tim gabungan menangani orang dengan gangguan jiwa yang dipasung di Kecamatan Sindangkasih Kabupaten Ciamis beberapa waktu lalu. Di Ciamis, sebanyak 36 ODJG mengalami pemasungan.

CIAMIS – Sebanyak 1.700 warga Ciamis mengalami gangguan jiwa atau disebut orang dengan gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut, 960 diantaranya masuk kategori berat dan 36 diantaranya mengalami pemasungan.

“Jadi pemasungan itu stigma kurang pemahaman di masyarakat, sehingga terbentuk kekhawatiran-kekhawatiran mengamuk, padahal masih bisa ditangani tidak usah dipasung,” ujar

Kepala Bidang Program Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis dr Bayu Yudiawan saat dihubungi Radar Minggu (5/1) pagi.

Dia mengimbau. Masyarakat yang memiliki anggota keluarga mengalami gangguan jiwa jangan sampai dipasung. Namun, mereka harus berkoordinasi dengan puskesmas terdekat, karena sekarang sudah terbentuk tim yang menangani ODGJ.

“Program pembebasan pemasungan itu sudah digalakkan sejak lama oleh kami, tentunya masyarakat harus proaktif melapor ke puskesmas terdekat, pasti datang dan akan ditangani secara jemput bola,” ujarnya.

Tim gabungan tersebut, kata Bayu, beberapa hari ke belakang mena­ngani empat warga Keca­matan Sidangkasih yang meng­alami pemasungan. Empat orang itu ODJG.

Adapun anggota tim gabungan itu, kata Bayu, dari Yayasan Belajar Bersama, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua Bandung, Dinas Sosial dan Dinkes Ciamis. Empat warga yang telah dibebaskan dari pemasungan itu kini diobati di RSJ Cisarua Kabupaten Bandung Barat (KBB).

“Jadi kita lakukan penanganan ODGJ di Kabupaten Ciamis, terus bertahap digalakkan terus dengan harapan mereka sembuh dan kembali berbaur dengan masyarakat pada umumnya,” tuturnya.

Tidak Boleh Disebut Gila

Pakar Kesehatan dari Depar­temen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dr. Budi Anna Keliat SKp, MApp.Sc meminta masyarakat memahami dan menghapus stigma orang dengan gangguan jiwa.

“Fokus tema tahun ini adalah bagaimana mewujudkan keluarga yang sehat jiwa,” jelas Prof Budi kepada jawapos.com beberapa waktu lalu.

Budi menegaskan sejak diter­bitkan­nya Undang-Undang (UU) Kesehatan Jiwa nomor 18 tahun 2014, tak boleh lagi masyarakat me­­nyebut seseorang dengan se­­butan ”gila” pada orang lain. Na­­mun mereka yang menderita gang­­guan jiwa disebut dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Tak boleh lagi bilang gila. Ka­rena kalau gila bukan penyakit,” katanya.

ODGJ dibagi dua sesuai UU, yakni pertama, gangguan mental emo­sional. Jumlahnya 6 persen di In­donesia. Kedua, gangguan jiwa berat, konotasinya sama se­perti Skizofrenia. Jumlahnya 0,17 persen sesuai data Riskesdes 2013.

“Jika selama ini fokus bagaimana harus bebas pasung, karena pa­sien ODGJ yang dipasung adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia. Mereka punya hak untuk pulih,” tutup Prof Budi. (isr/jpc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.