1 Penderita DBD di Kota Tasik Meninggal, 45 Orang Terjangkit & Akan Terus Meningkat

120
0

KOTA TASIK – Jumlah penderita Demam Berdarah Bengue (DBD) di Kota Tasikmalaya terus mengalami peningkatan menjadi 45 kasus, sejak awal Januari 2020 sampai hari ini, Kamis (6/2) sore.

Informasi yang dihimpun di lapangan, satu penderita DBD diketahui meninggal dunia di RSUD dr Soekardjo Kota Tasik, setelah sempat mendapatkan perawatan selama beberapa hari.

Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan dan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasik, Suryaningsih mengatakan, kasus DBD yang terjadi selama awal Januari dan Februari 2020 diprediksi akan terus mengalami peningkatan.

Apalagi, terang dia, faktor pergantian musim kemarau ke musim hujan ditambah cuaca buruk yang selama ini terus terjadi tiap harinya di wilayah Tasikmalaya.

“Kasusnya sekarang ini tercatat bertambah 5 orang jadi 45 orang dan salah satunya meninggal dunia,” ujar Suryaningsih kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Kamis (6/2).

“Sampai sekarang belum ada penetapan kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Pemkot Tasik. Warga diminta tetap waspada atas kejadian itu terutama melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) hingga harus terus berupaya melakukan kebersihan lingkungan,” sambungnya.

Terang dia, meningkatnya jumlah kasus DBD membuat pemerintah tak lagi menggelar upaya fogging. Tapi, terus menyosialisasikan kepada masyarakat pentingnya memberantas sarang nyamuk di lingkungannya.

Selama ini, pemerintah mengklaim kalau kesadaran masyarakat masih rendah dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Upaya yang dilakukan sekarang ini dinas berupaya mengantisipasi membuat gerakan satu rumah satu jumantik, dengan melibatkan puskesmas, RT dan RW agar mereka tetap siaga melakukan langkah pemberantasan sarang nyamuk,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Tasik, Uus Supangat membenarkan kasus DBD di Kota Tasikmalaya sampai sekarang sudah ada korban meninggal dunia di RSUD dr Soekardjo dan 45 orang positif.

“Serangan nyamuk Aedes Aegypti yang telah menyerang warga selama ini tidak memiliki batasan umur mulai dari anak, remaja hingga orang tua,” tuturnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.