10 Tahun Lagi Pulau Jawa Diprediksi Mangalami Krisis Air

38
0
PAPARKAN. Ketua Konsorsium Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak, Dr Ahmad Sarmidi saat mengisi acara FGD di Harmoni Hotel Cipanas Garut, Senin (16/11). Yana Taryana / Rakyat Garut

TAROGONG KIDUL – Ketua Konsorsium Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak Dr Ahmad Sarmidi memprediksi, dalam waktu 10 tahun ke depan, Pulau Jawa diprediksi akan mengalami krisis air.

Hal itu dikatakan Sarmidi saat Focus Grup Discussion (FGD) pembahasan peralihan status Gunung Cikuray menjadi taman nasional yang digelar Konsorsium Penyelamatan Cikuray di Harmoni Hotel, Cipanas Garut, Senin (16/11).

Sarmidi mengatakan, krisis air di Pulau Jawa, memang sudah sejak lama diprediksi banyak pihak. Hal ini secara kasat mata bisa dilihat dari padatnya jumlah penduduk yang ada di Pulau Jawa.

“Tidak hanya untuk tempat tinggal (Pulau Jawa), tapi juga industri mulai dari skala rumah tangga sampai industri besar, artinya secara fakultatif itu semua butuh air yang banyak,” kata tim ahli Satgas Citarum ini.

Berdasarkan standar kebutuhan air yang ditetapkan oleh WHO, setiap satu orang membutuhkan air sedikitnya 60 liter per hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari makan minum, mencuci hingga mandi.

Baca juga : Bappeda Jabar Masih Cari Skema Pembayaran Honor untuk Guru Bantu di Garut

Jika variable ini yang digunakan pemerintah, maka krisis air memang sudah didepan mata. Karena, saat ini menurut Sarmidi cadangan air yang ada jauh berkurang, sementara angka kebutuhan air terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk dan industri yang terus tumbuh di Pulau Jawa.

“Secara teoritis memang krisis air itu sudah mulai terjadi, di Jakarta kan sudah terjadi, air sulit didapat, harus dibeli,” katanya.

Sarmidi menjelaskan, krisis air terjadi jika ketersediaan air terbatas dibanding dengan kebutuhan yang ada. Saat ini terjadi, orang mencari solusi dengan memanfaatkan teknologi hingga air menjadi komoditi pasar seperti yang saat ini terjadi.

Niatan Konsorsium Penyelamatan Cikuray untuk meningkatkan status Gunung Cikuray menjadi taman nasional, menurut Sarmidi, bisa menjadi salah satu solusi yang jadi langkah antisipasi terjadinya krisis air di Pulau Jawa.

Karena, salah satu alasan dari kenaikan status ini adalah Cikuray menjadi hulu dari beberapa sungai besar dan adanya kekeringan di kaki Gunung Cikuray yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
“Ada kekurangan air di Cikuray yang secara instingtif masyarakat membaca ini karena hutan gundul,” terangnya.

Dengan peningkatan status Gunung Cikuray, menurut Sarmidi pengelolaan hutan diharapkan bisa menjadi lebih baik dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Baca juga : Disdik Garut Masih Nyari Solusi Dana untuk Bayar Honor Guru Bantu

Hal ini juga menjadi solusi dari penyelamatan keanekaragaman hayati yang jadi asset bangsa Indonesia saat ini yang sudah terdesak hingga berada di gunung-gunung.

“Taman nasional bisa membuat hutan alam yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak atas masalah-masalah lingkungan yang terjadi saat ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Konsorsium Penyelamatan Cikuray Usep Ebit Mulyana mengungkapkan, FGD sebagai Langkah persiapan pembentukan taman nasional Gunung Cikuray. FGD, dilakukan untuk mencari konsep utuh taman nasional Gunung Cikuray.

“Setelah bupati menyetujui Cikuray jadi taman nasional, kita mulai tahapan-tahapan pencarian konsep taman nasional yang terbaik untuk pemerintah daerah, masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Namun, Ebit menyesalkan ketidakhadiran dari pemerintah daerah dalam FGD tersebut. Padahal, FGD bisa menjadi ruang bagi pemerintah daerah mencari bentuk taman nasional yang ideal.

“Kita berharap ke depan pemerintah daerah bisa bersinergi, karena bupati sudah siap, tinggal secara teknis dinas menuangkan dalam konsep,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.