11 Jam Mako Brimob Belum Terkendali? Ada Apa Sebenarnya?

450
0

DEPOK – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane meminta Polri menjelaskan secara transparan terkait penyebab dan kronologi insiden di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) malam.

“Kenapa situasi mencekam di Mako Brimob itu belum juga terkendali hingga sebelas jam dan membuat aktivitas masyarakat terganggu akibat jalanan diblokir,” kata Neta, Rabu (9/5).

Berdasarkan catatan IPW, kerusuhan di Rutan Mako Brimob sebenarnya sudah terjadi sejak pukul 15.00, Selasa (8/5). Kemudian, mulai sekitar pukul 21.00 (Selasa 8/5) hingga 10.00 (Rabu 9/5), jalanan di sekitar Mako Brimob masih diblokir.

“Ironisnya tidak ada penjelasan yang transparan dari kepolisian tentang kekacauan yang terjadi di Mako Brimob,” ungkap Neta.

Dari informasi yang diperoleh IPW, kekacauan terjadi pukul 15.00 dan tidak cepat dikendalikan. Akibatnya, sekitar pukul 21.00 narapidana teroris berhasil menjebol teralis tahanan. Para napi juga berhasil merampas senjata polisi dan menyandera empat anggota yang satu di antaranya wanita berpangkat inspektur satu (iptu).

Dalam kekacauan itu terjadi aksi tembak menembak antara polisi dengan napi yang menguasai rutan.

Pukul 06.00 sejumlah ambulans tiba di rutan dan terlihat sejumlah orang dibawa. Lalu sekitar pukul 09.30, kata Neta, dia mendapat informasi mobil DVI Polri masuk ke rutan Brimob.

IPW mengimbau kepolisian harus menjelaskan peristiwa ini dengan transparan, apa yang sesungguhnya terjadi, tentang berapa korban tewas dan luka dalam kekacauan itu dan terkait senjata api polisi yang berhasil dirampas napi teroris.

Sebab dari informasi yang diperoleh ada lima sampai tujuh unit senjata api polisi yang dirampas napi teroris. “Inilah yang membuat polisi kesulitan mengendalikan situasi karena para napi melakukan perlawanan sengit dengan senjata api rampasan,” ujarnya.

IPW mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Mako Brimob. Ini adalah kekacauan yang kedua di Rutan Mako Brimob. Kekacauan ini terjadi beberapa saat setelah Brimob memunculkan kontroversi karena berpatroli mengamankan kantor-kantor partai politik di Semarang.

“Bagaimana Brimob bisa berpatroli menjaga kantor orang lain sementara menjaga markasnya sendiri kebobolan. Bagaimana Brimob bisa diharapkan maksimal menjaga pilkada serentak, menjaga markasnya sendiri kebobolan,” papar Neta. (boy/jpnn)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.