114 Santri Ponpes di Pangatikan Garut Sembuh dari Corona, Sebagian Masih Diisolasi

28
0
radartasikmalaya.com
ilustrasi covid-19/ radartasikmalaya.com

KARANGPAWITAN – Santri dari salah satu pesantren di Kecamatan Pangatikan, yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19 dan mendapatkan perawatan di rumah sakit, kini sudah berangsung pulih. Saat ini, ada 34 santri yang sudah dipulangkan dari rumah sakit karena sudah dinyatakan sembuh.

“Totalnya sudah ada 114 santri yang dipulangkan karena sudah sembuh. Saat ini 34 orang, kemarin (Senin) 80 orang,” ujar Juru Bicara Pesantren Nasrul Fuad saat dihubungi wartawan, Selasa (3/11).

Nasrul menerangkan, total santri yang terpapar Covid-19 ada 163 orang. Dari jumlah tersebut, saat ini sebagian besar sudah bisa pulang dan dinyatakan sehat. Sementara sebagiannya lagi masih menjalani isolasi serta perawatan di rumah sakit.

Untuk santri yang sudah dipulangkan dari rumah sakit, kata dia, kembali pulang ke rumahnya masing-masing. “Hasil tracing dan tracking ke keluarga santri pun tak ditemukan kasus Covid-19,” ujarnya.

Baca juga : Pemkab Garut Serahkan 16 Ambulan ke Puskesmas untuk Pengamanan Corona di Daerah

Menurut dia, untuk santri putra dan putri yang dinyatakan negatif dan menjalani karantina mandiri di pondok pesantren itu semua sudah dikembalikan ke orang tuanya.

“Santri putra yang negatif dan selesai masa karantina sudah pulang. Tinggal santri putri yang besok (hari ini) selesai masa karantinanya dan akan dipulangkan dulu,” katanya.

Nasrul menyebut pihak pesantren memutuskan untuk menghentikan kegiatan sementara. Semua santri baik yang sempat terpapar atau tidak akan dikembalikan ke orang tuanya terlebih dulu.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr Leli Yuliani mengakui hampir sebagian besar santri yang menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit sudah dipulangkan karena sudah sehat.

“Hasil pemeriksaan dan rontgen, kondisi santri semuanya sudah sehat. Saat ini kami pulangkan 34 orang, kemarin ada 80 orang. Kondisi mereka semuanya sehat, karena statusnya OTG (orang tanpa gejala),” ujarnya.

Leli berharap agar pesantren mengetatkan penerapan protokol kesehatan di lingkungannya. “Tak hanya untuk pesantren saja, tapi untuk semua kalangan masyarakat. Semuanya harus menerapkan protokol kesehatan,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.