132 Kasus DBD di Kabupaten Tasik, 2 Balita Meninggal

73
0

SUKARAME – Balita berusia empat tahun di Kampung Sirung Desa Sukamenak Kecamatan Sukarame meninggal dunia yang diduga akibat terjangkit demam berdarah dengue (DBD), Jumat (24/7).

Kepastian meninggal dunia karena DBD belum bisa dipastikan oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Puskesmas Sukarame karena masih menunggu surat keterangan kematian dan rekam medis dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Baca juga : KPAID Kabupaten Tasik Terbaik Se-Indonesia

Kepala UPT Puskesmas Kecamatan Sukarame Asep Muslihat Permana mengatakan bahwa balita empat tahun itu adalah anak dari perawat atau mantri atas nama Indra dan Sari belum bisa dipastikan meninggal karena DBD.

“Balita tersebut orang tuanya adalah keluarga perawat, jadi waktu itu tidak dirawat atau di bawa ke Puskesmas Sukarame, termasuk diagnosa dan surat keterangan kematiannya dari rumah sakit belum kita terima, jadi kita belum bisa pastikan,” ungkap Asep kepada Radar, Jumat (24/7).

Asep sendiri mengaku belum mendapat laporan lengkap secara medis diagnosa apa yang menyebabkan balita tersebut meninggal dunia. Bahkan, dirinya baru mendapatkan laporan Jumat (24/7) pagi ini.

“Jadi kita tidak dapat laporan, petugas kami belum berani wawancara langsung ke keluarga karena masih berkabung. Tetapi lagi saya tugaskan petugas puskesmas untuk verifikasi data dulu selengkapnya dan cari tahu kronologisnya,” terang dia.

Sebenarnya, lanjut dia, antisipasi sudah dilaksanakan dengan melakukan fogging atau pengasapan di wilayah Sukarame karena sebelumnya di Sukarame pernah terjadi kasus Chikungunya.

“Senin (27/7) atau Selasa (28/7) akan dilakukan fogging di Kampung Sirung Desa Sukarame. Tim medis kami juga sebenarnya tidak tahu kasus ini, karena tidak dirawat di puskesmas, kemungkinan langsung ke RSUD Seokardjo Kota Tasik,” kata dia.

Langkah dari puskesmas sendiri, ungkap Asep, akan melaksanakan verifikasi orang sekitar Kampung Sirung. Jika ditemukan ada gejala yang sama akan dilakukan identifikasi, nanti tim dari puskesmas akan diterjunkan, agar jelas datanya.

“Yang jelas saya mau hitung dulu medical record nanti Senin (27/7) mau diinventarisasi takut-takut ada kasus sama walau teratasi tetapi dikhawatirkan wilayah yang sama,” tambah dia.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk (DKPP) Kabupaten Tasikmalaya Atang Sumardi menambahkan kasus DBD sudah mencapai 132 kasus dari Januari-Juli 2020.

“Dua orang dari dua kasus DBD di antaranya meninggal dari Manonjaya yang dialami anak dibawah 10 tahun dan lansia 60 tahun. Sisanya 130 orang sembuh,” ungkap dia.

Sementara kasus dugaan balita meninggal akibat DBD di Sukarame, kata Atang, DKPP belum menerima laporan secara rekam medis.

Baca juga : Dalam 5 Hari, 94.000 Nasi Bungkus Dibagikan Dishub Kabupaten Tasik, Datanya Sesuai Usulan

“Belum dilihat hasil rekam medis dari rumah sakitnya IGG dan IGM-nya, kemudian trombosit nya. Jadi kami belum bisa menentukan apakah mengidap DBD atau tidak,” terang dia.

Atang menambahkan, bahwa kasus DBD di Kabupaten Tasikmalaya sudah status endemi, artinya sudah muncul dari dalam atau daerah bukan pandemi atau bawaan dari daerah lain.

“Setiap tahun atau musim hujan kasus DBD ini muncul di Kabupaten Tasikmalaya,” jelas dia. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.