14 Formasi CPNS Terancam Mubazir

121

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Sepinya minat pelamar CPNS Kota Tasikmalaya untuk formasi dokter spesialis di RSUD dr Soekardjo. Membuat Pemkot berencana meminta perubahan alokasi formasi, supaya lebih memperluas perekrutan bagi formasi dokter unum.

Diketahui dari 14 formasi yang tersedia, belum satu pun pelamar yang terverifikasi Badan Kepegawaian, Pelatihan dan Pendidikan Daerah (BKPPD) Kota Tasikmalaya. Kemungkinan besar bakal tidak terserap alias menjadi mubazir. “Keliatannya untuk rekrutmen CPNS ke depan, dokter spesialis tidak usah, kita fokus ke dokter umum, nanti dokter umum diseleksi dan dibiayai untuk mendapatkan bantuan biaya untuk dokter spesialis dengan ikatan dinas,” ujar Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya H Ivan Dicksan usai menghadiri rapat di DRRD Kota Tasikmalaya, Selasa (9/10).

Menurutnya, apabila rencana usulan perubahan formasi diajukan tahun ini, kata Ivan, Kemungkinan peluangnya sangat kecil. Apalagi, selain kuota sudah fiks dialokasikan, pengumuman dan serangkaian tahapan juga sudah mulai berjalan dalam merekrut calon abdi negara tersebut. “Sulit, karena sudah di plot dan diumumkan. Otomatis kalau tidak ada pelamar, formasi di sana tidak akan terserap,” tuturnya.

Ivan menambahkan nantinya lewat metode bantuan biaya bagi dokter umum menjadi spesialis, diharapkan Pemkot dapat mempertahankan akreditasi RSUD dr Soekardjo sebagai rumah sakit plat merah di Kota Tasikmalaya. Dimana salah satu syaratnya yakni kebutuhan tenaga dokter spesialis harus terpenuhi. “Sekarang dokter spesialis yang ada malah mengajukan pensiun dini, itu banyak. Sementara formasi CPNS untuk dokter spesialis sulit dipenuhi,” keluhnya.

Direktur Utama RSUD Dr Soekardjo, dr Wasisto Hidayat mengatakan sepinya pelamar CPNS di bidang dokter spesialis dilatarbelakangi kendala regulasi. Dalam Undang-Undang ASN dinyatakan untuk mengikuti tes rekrutmen CPNS tidak bisa melebihi usia 35 tahun. “Kalau spesialis rata-rata udah di atas 35 tahun. Saya dengan BKD mau mencoba ke BKN kalau bisa dokter spesialis itu ada pengangkatan khusus mumpung dia mau jadi PNS, diperlukan masyarakat tapi terganjal oleh umur. Spesialis itu sekolahnya saja lima tahun,” keluhnya.

Selama ini, kata dia, menyiasati kekurangan dokter spesialis di rumah sakit pihaknya melakukan pengangkatan dokter spesialis dengan status pegawai tidak tetap (PTT). “Harapan saya untuk spesialis jangan dibatasi 35 tahun, seperti dulu kan sampai 42 tahun. Supaya dokter spesialis bisa ditempatkan di daerah,” tuturnya. (igi)

loading...