2.000 Pemudik dari Zona Merah Masuk Pagerageung Tasik, Puluhan Orang Dikarantina

1112
0

KABUPATEN TASIK – Sedikitnya 2.000 orang warga asal Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya pulang kampung alias mudik dari wilayah zona merah covid-19 (corona) di Jabodetabek.

Dari jumlah tersebut, tercatat ada sebanyak 1.200 orang yang memeriksakan diri ke Puskesmas Pagerageung.

Puluhan pemudik itu terpaksa harus isolasi mandiri karena mengalami keluhan atau berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Plt Kepala Puskesmas Pagerageung, Yoyo Suhartoyo kepada wartawan, Jumat (10/04) siang mengatakan, sebagian besar dari mereka tidak bergejala atau tidak merasakan keluhan.

Namun ada juga sejumlah warga yang pulang kampung itu mengalami keluhan.

Akibatnya, mereka yang ada keluhan terpaksa disarankan untuk isolasi mandiri dan pemantauan melalui telefon selama 14 hari.

“Ada petugas survei dan epidomologinya. Jadi dipantau terus mengenai suhu tubuhnya, mengenai gajala lain misalnya batuk, pilek dan sebagainya. Juga ada demam tinggi,” katanya.

Menurutnya, mereka yang isolasi mandiri, sampai saat ini ada 16 orang yang sudah selesai pemantauan itu.

Meski demikian pihaknya tetap siaga dan terus melakukan pemantauan kepada siapa saja yang baru pulang kampung.

“Alhamdulillah tidak ada peningkatan lagi. Namun kita tetap siaga, karena mungkin pemudik sampai sekarang masih ada yang datang. Kita terus pemantauan lagi,” terangnya.

Tambah Yoyo, karena sampai saat ini pemudik itu masih ada, walaupun memang trennya sudah menurun.

Sehingga masih ada potensial terutama pemudik dari zona merah seperti Bekasi, Jakarta, Depok, Bandung.

“Dan jangan salah juga bahwa dari Kota Tasik potensial karena terdapat yang positif,” ujarnya.

Bahkan pihaknya membuat grup di media sosial, agar lebih mudah melakukan pemantauan dari desa ke desa, agar data juga terus update kemudian diinformasikan.

Selain itu, pihaknya juga mengsosialisasikan perlunya pemakaian masker kepada masyarakat khususnya yang mengalami batuk dan flu.

“Jadi dengan adanya grup, yang perlu kita informasikan seperti itu kita melakukan sosialisasi melalui grup. Kemudian juga kita sosialisasi di puskesmas untuk yang datang ke puskesmas, seperti harus pakai masker,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.