2 Minggu Tewasnya Del Siswi SMPN 6 Kota Tasik, Begini Kata Para Tokoh

7523
1

TASIK – Dua Minggu sudah sejak Senin (27/1), jenazah DS, siswi SMPN 6 Tasikmalaya ditemukan di gorong-gorong.

Namun, hingga kini penyebab kematian pelajar berusia 13 tahun tersebut belum bisa dipastikan oleh Polres Tasikmalaya Kota.

Aktivis Islam Tasikmalaya Ustaz Iri mempertanyakan kinerja kepolisian yang belum memberikan kepastian (motif kematian DS, Red). Padahal penyelidikan sudah berlangsung sekitar dua minggu lamanya.

Baca juga : 2 Minggu Tewasnya Del Siswi SMPN 6 Kota Tasik, Reskrim: Kami Masih Bekerja

“Karena masyarakat masih bertanya-tanya, tapi mereka tidak bisa menanyakan langsung ke Polres,” ujarnya kepada Radar, Minggu (9/2).

Hal ini, kata Ustaz Iri, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi aparat yang identik dengan warna coklat tersebut. Untuk itu, pihaknya bersama tokoh warga akan mendatangi Mapolresta dalam waktu dekat ini. Dia ingin mendapat penjelasan langsung terkait upaya kepolisian dalam menyelidiki kasus tersebut.

Baca juga : Pernah tak Sejalan di Pilgub Jabar 2018, PKS Mulai Dukung Ridwan Kamil

“Mungkin besok atau lusa saya dan rekan-rekan akan silaturahmi ke Polres,” ungkapnya.

Ustaz Iri menilai penyelidik Polres Tasikmalaya Kota kesulitan dalam mengungkap kasus ini.

Karena di lain pihak Polres Tasikmalaya sudah mengungkap kasus temu mayat di Taraju, apalagi waktunya bersamaan dengan penemuan mayat DS di Jalan Cilembang.

“Kalau di Kabupaten kan sudah terungkap, sepertinya Polres Kota kesulitan menyelidiki kasus pelajar yang meninggal ini,” katanya.

Diharapkan kepolisian bisa secepatnya memastikan apa yang menjadi penyebab DS meninggal dunia. Selain kepentingan pengungkapan perkara, juga menjawab kebingungan publik.

“Ketika kasus ini terlalu lama diungkap, dikhawatirkan kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian jadi berkurang dan akan menjadi preseden buruk bagi polisi,” tuturnya.

Kasus penemuan mayat DS memang mendapat perhatian publik khususnya di Kota Tasikmalaya. Kepolisian dituntut kerja ekstra untuk bisa menemukan jawaban dari tanda tanya masyarakat.

Pakar Hukum Pidana Dr Eman Sungkawa SH MH mengatakan dalam mengungkap sebuah kejadian peristiwa tindak pidana atau bukan, perlu dilakukan penyelidikan.

Untuk melakukannya tidak bisa dilakukan orang biasa, karena harus memiliki kemampuan melakukan investigasi.

“Makanya dalam hal ini insting penyelidik harus tajam supaya peka dalam menangkap setiap petunjuk,” katanya beberapa waktu lalu.

Kasus ini pun mendapat perhatian tokoh ulama, Ketua FPI Kota Tasikmalaya Ustaz Yanyan Albayani mengatakan saat ini masyarakat mempercayakan pengungkapan kasus tersebut kepada polisi.

Maka dari itu, ini menjadi momen untuk menunjukkan kredibilitas dari kepolisian.

“Saatnya polisi membuktikan kepada masyarakat dengan mengungkap kasus ini,” pungkasnya.

Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya KH Aminudin Bustomi meminta kepolisian bergerak cepat. Karena ini bukan urusan antara penegak hukum dan keluarga korban, tapi publik secara umum. “Karena masyarakat secara umum bertanya-tanya dan khawatir,” terangnya.

Masyarakat pun diminta untuk tidak menebar isu-isu yang tidak jelas dan sabar menunggu hasil penyelidikan. Pihaknya, percaya aparat kepolisian mampu mengungkap misteri kematian DS.

“Percayakan kepada polisi, jangan mudah mempercayai informasi yang tidak punya kredibilitas,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua KPAID Kota Tasikmalaya Eki S Baehaqi menilai asumsi liar publik cukup wajar terkait kasus ini.

Selain kondisi jenazah yang memprihatinkan, posisinya yang berada di dalam gorong-gorong pun menimbulkan tanda tanya besar. “Di media sosial pun banyak yang menjustifikasi itu pembunuhan,” ujarnya kepada Radar, Kamis (30/1).

Maka dari itu, kata Eki, polisi harus sesegera mungkin memberikan kepastian untuk menjawab kebingungan publik.

Karena asumsi liar ini memberikan kekhawatiran untuk para orang tua dan pelajar. “Karena korban hilang itu saat pulang sekolah, otomatis akan ada kekhawatiran di kalangan pelajar khususnya orang tua,” terangnya.

Ayah kandung DS, Budi Rahmat (45) berharap kasus kematian anaknya segera terungkap. Dia mengaku tidak tahu bagaimana kondisi anaknya saat ditemukan di lokasi penemuan jenazah.

Akan tetapi, dirinya tidak memungkiri apa yang menjadi asumsi publik bahwa DS meninggal karena dibunuh dia amini. “Bisa memang kecelakaan, bisa juga dicelakakan (dibunuh, Red),” tuturnya.

Ibu kandung DS, Wati Candrwati (40) mengungkapkan tidak bisa memungkiri adanya kecurigaan anaknya dibunuh. Tetapi bagaimana pun, dia tetap menunggu hasil penyelidikan dari aparat kepolisian. “Banyak juga kan yang menganggapnya begitu (dibunuh, Red),” tuturnya.

Namun Wati tetap bersabar menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian tentang kematian anaknya. Jika memang dibunuh, dia berharap pelaku bisa cepat diungkap dan ditangkap oleh aparat. “Kalau memang betul (dibunuh, Red) mudah-mudahan cepat ditangkap pelakunya,” papar dia kemarin (31/1).

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Tasikmalaya H Budiaman Sanusi angkat bicara terkait meninggalnya DS (13), siswi SMPN 6 Tasikmalaya yang jenazahnya ditemukan di gorong-,gorong depan sekolahnya.

“Apapun hasilnya soal kasus itu (DS, Red) belum ada informasi. Karena itu ranah pihak kepolisian. Ya harapab kita, khususnya di SMPN 6 jangan resah dan gundah baik siswanya, maupun orangtua,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (4/2) siang.

Bagi Disdik sendiri, kata Budiaman, kasus DS ini merupakan musibah. “Siapa yang ingin kejadian itu. Ke depan, ya kita sarankan kalau situasinya seperti itu ketika bubar sekolah keadaan hujan, ya betul-betul diawasi sampai anak itu meninggalkan sekolah,” tandasnya. (rga)

1 KOMENTAR

  1. Kan ngantos hasil otopsi ge kedah 14 dinten. Bilih lepat atuh dirurusuh mah. Ngantos hasil medis mah sanes kewenangan Polisi atuh panginten. Lina Jubaedah almarhumah mantan istri Sule ge sakitu pergi waktos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.