22 Desa Berpotensi Terdampak Tsunami

82
0

PAMEUNGPEUK – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan adanya potensi tsunami besar di wilayah pantai selatan Jawa. Melihat ancaman itu, BNPB terus melakukan mitigasi bencana di sepanjang pantai selatan.

Salah satu tindakan yang dilakukan yakni melakukan Ekpedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami. Kegiatan itu dilakukan mulai Banyuwangi sampai Banten, termasuk Kabupaten Garut.

Kasubdit Peran Organisasi Relawan Masyarakat Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPB Wartono mengatakan Ekpedisi Destana Tsunami dilaksanakan untuk mengedukasi masyarakat, baik dalam menghadapi bencana maupun menyaring informasi soal bencana. “Masyarakat jangan termakan informasi hoax. Seperti berita terkait tsunami besar yang akan menerjang pantai selatan Jawa,” ujarnya disela sosialisasi relawan Ekspedisi Destana Tsunami di Komplek Lapan Kecamatan Cikelet Selasa (6/4).

Menurut dia, potensi tsunami memang ada. Tetapi hanya peringatan dan bukan untuk menakut-nakuti masyarakat di kawasan pantai selatan. “Potensi itu bukan prediksi. Kalau potensi di seluruh pantai juga ada. Kalau kapan kejadiannya itu di luar kuasa kita,” ujarnya.

Selain melakukan sosialisasi mitigasi bencana, pihaknya juga melakukan evaluasi setiap desa soal ketangguhan bencana serta memeriksa alat pendeteksi tsunami atau early warning system (EWS) di pantai selatan. “Untuk Garut, dari delapan unit hanya dua yang berfungsi. Temuan ini nantinya akan dibahas dengan hasil ekspedisi. Setelah itu datanya kami olah dan dibagikan ke BPBD,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Garut Dadi Djakaria mengatakan ada 22 desa di 7 kecamatan yang berpotensi terdampak bencana tsunami. Maka dari itu pihaknya dengan tim Ekpedisi Destana Tsunami terus memfokuskan memberikan sosialisasi soal mitigasi bencana.

Menurut dia, sosialisasi mitigasi bencana dilakukan untuk mengoptimalkan pengurangan risiko ketika terjadinya bencana tsunami. “Sepanjang 80 kilometer garis pantai itu ombaknya besar. Makanya sangat perlu ada mitigasi bencana tsunami,” ujarnya. Sejauh ini, kata dia, BPBD juga telah menyiapkan sejumlah infrastruktur untuk proses evakuasi jika terjadi bencana.

Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman mengatakan saat ini Kabupaten Garut sudah menunjukkan kesiapannya dalam menghadapi bencana, khususnya bencana tsunami. “Ini (Ekspedisi Destana Tsunami) bisa menjadi penenang masyarakat di daerah rawan bencana,” katanya.

Kepala SMPN 1 Cibalong Ridwan mengatakan kedatangan tim ekspedisi dari BNPB bisa membantu memberi pemahaman kepada para siswa dan guru. “Kami akan koordinasi ke BPBD Garut dan BNPB biar dapat bantuan jalur evakuasi. Jadi kalau ada bencana, siswa dan guru bisa diarahkan ke belakang sekolah,” katanya.

Arosi Hidayah (14), siswa keals IX SMPN 1 Cibalong berharap ada simulasi penanganan bencana. Kata dia, sampai saat ini belum adanya kegiatan simulasi. “Kalau sosialisasi sudah sering ada. Tapi kalau simulasi belum pernah. Kami menginginkan itu. Simulasi ini sangat penting karena rumah sama sekolah saya sangat dekat pantai,” ujarnya di sela-sela sosialisasi kemarin.

Dengan simulasi, lanjutnya, siswa bisa mengetahui penangananan saat terjadi bencana. Terutama untuk mengurangi kepanikan jika bencana tsunami atau gempa bumi. “Di belakang sekolah ada jalan, cuma kecil. Jadi perlu ada perbaikan fasilitas juga. Ditambah juga jalur evakuasi dari sekolah ke lokasi evakuasinya,” katanya. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.