26 Nakes Positif Covid-19 Tanpa Gejala, RSUD Pameungpeuk Garut Ditutup Lama

130
0
TUTUP. Beberapa orang berada di depan RSUD Pameungpeuk baru-baru ini. Rumah sakit tersebut ditutup sementara setelah beberapa pegawai positif Covid-19. istimewa

PAMEUNGPEUK – Direktur RSUD Pameungpeuk dr Lulu Fahrizah Balqis menyebutkan penyebaran Covid-19 di rumah sakit diduga dari salah satu tenaga kesehatan (nakes) yang suaminya bekerja di wilayah kota Garut.

“Jadi awalnya ada satu nakes yang suaminya bekerja di Garut dan keduanya positif Covid-19,” ujar dr Lulu kepada wartawan, Selasa (1/12).

Mengetahui nakes yang positif, pihaknya langsung melakukan tracking dan tes swab massal di rumah sakit, khususnya terhadap yang kontak erat. “Kita swab 264 nakes pada 20 November. Tanggal 25 hasilnya keluar, ada 20 yang positif. Lalu bertambah lagi total menjadi 26 orang,” katanya.

Ia menyebutkan total terdapat 26 karyawan RSUD Pameungpeuk yang terkonfirmasi positif Covid-19. Tak semua yang positif adalah nakes, melainkan ada petugas nonnakes. Namun, mayoritas adalah nakes.

Pemeriksaan lanjutan kepada para nakes lainnya juga telah dilakukan. Namun, hingga kini hasil swab test lanjutan itu belum diketahui. Menurut dia, seluruh karyawan yang positif berstatus tanpa gejala. “Semua baik-baik saja,” terangnya.

Meski begitu, para karyawan yang positif tetap diisolasi di RSUD Pameungpeuk. Sebab, jika menjalani isolasi mandiri dikhawatirkan akan memunculkan klaster keluarga.

Ditemukannya puluhan karyawan yang terkonfirmasi poisitif Covid-19, Lulu kemudian mengambil langkah untuk menghentikan layanan kesehatan di RSUD Pameungpeuk sejak 26 November. Sebab, jumlah karyawan yang terkonfirmasi positif hampir mencapai 10 persen karyawan di rumah sakit tersebut.

Selain itu, karyawan yang terkonfirmasi positif berasal dari berbagai bagian.

Baca juga : Baru Sebatas Kabar, Aliansi Masyarakat Garut Tolak Kedatangan HRS

“Ada yang dari layanan rawat jalan, bahkan sampai petugas kebersihan,” terangnya.

Dalam memutuskan menghentikan layanan RSUD, Lulu telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat maupun Kabupaten Garut. Selama layanan rawat jalan dihentikan, pihak rumah sakit melakukan sterilisasi di seluruh ruangan.

Sementara ini layanan rawat jalan dialihkan ke puskesmas terdekat. Namun, pasien yang menjalani rawat inap tetap dilayani.

Lulu belum dapat memastikan kapan layanan RSUD Pameungpeuk dapat kembali berjalan normal. “Kalau hasil swab kedua sudah ada hasilnya, baru kita bisa tentukan. Mungkin dalam waktu dekat, pelayanan ringan bisa dilakukan. Namun tak akan langsung semua,” ujarnya.

Mengantisipasi lonjakan, kata dia, RSUD Pameungpeuk mulai menyiapkan ruang isolasi. Awalnya hanya ada delapan tempat tidur untuk tempat isolasi pasien Covid-19.

Namun kini pihaknya menjadi ruang IGD menjadi tempat isolasi. “Ke 26 nakes juga isolasi di sini. Kalau nanti ada lonjakan lagi, kami akan siapkan ruang rawat inap untuk tempat isolasi,” katanya.

RSUD Pameungpeuk merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayah selatan Jabar. Lulu menyebut akan berusaha untuk menyiapkan ruang isolasi dan pengetatan nakes dalam memakai alat pelindung diri.

Lulu meminta masyarakat tak menstigma buruk terhadap pasien yang terkonfirmasi Covid-19. Menurutnya, Covid-19 bukan sebuah aib dan bisa disembuhkan. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.