3 Kedusunan di Desa Sukapada Tasik Sepi Ditinggalkan Warga, Ini Sebabnya..

69
0
radartasikmalaya.com
Kondisi rumah warga Sukapada yang ditinggalkan, Rabu (03/02) sore. istimewa for radartasikmalaya.com
Loading...

KABUPATEN – 3 kedusunan di Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasik, mendadak sepi.

Tiga kedusunan itu adalah Garadaha, Bojot dan Citeureup.

Warga penghuni di kedusunan tersebut memilih meninggalkan rumah.

Kondisi ini terjadi sudah sejak lama. Terakhir di pertengah Januari 2021 lalu, sebanyak 5 rumah ditinggalkan penghuninya.

Kondisi ini terjadi akibat pergerakan tanah yang terjadi di tiga kedusunan yang menyebabkan rumah retak-retak dan miring.

loading...

Khawatir rumahnya ambruk dan mengancam keselamatannya, warga pun memilih untuk mengungsi.

Salah seorang warga yang mengungsi, Lela (35), warga Kedusunan Garadaha mengaku memilih untuk meninggalkan rumahnya, karena khawatir ambruk dan mengancam keselamatannya.

Rumahnya mengalami retak-retak dan miring terdampak pergerakan tanah.

“Saya memilih meninggalkan rumah karena khawatir rumah ambruk dan membahayakan seisi rumah,” ujar Lela kepada wartawan, Rabu (03/02) sore.

Kepala Desa Sukapada, Achmad Hidayat membenarkan kondisi tersebut.

Menurutnya, pergerakan tanah sudah terjadi sejak tahun 1995.

Tanah di wilayahnya mengalami pergerakan terutama disaat musim hujan hingga mengakibatkan rumah warga mengalami kerusakan

Terakhir, pergerakan tanah kembali terjadi pada pertengahan Januari 2021, hingga mengakibatkan 5 rumah warga rusak dan ditinggalkan penghuninya.

“Pada tahun 2019 dan 2020 tidak ada pergerakan tanah, namun di awal tahun 2021 pergerakan tanah kembali terjadi,” tuturnya.

Beber dia, pergerakan tanah itu tidak seperti bencana longsor namun tanah secara perlahan bergeser.

Pergerakan itu terlihat ketika rumah warga mengalami retak-retak dan miring. Untuk itu pihaknya menyarankan penghuni rumah untuk mengosongkan.

“Ada tiga dusun yang terdampak pergerakan tanah. Total warga yang terdampak sekitar 250 kepala keluarga,” bebernya.

Dia menambahkan, baru-baru ini warga yang terdampak pergerakan tanah di Kedusunan Citeureup ada sekitar 20 KK, Bojot sebanyak 100 rumah dan Garadaha sebanyak 150 rumah.

Pihaknya pemerintahan desa tidak tinggal diam, terus berupaya, melaporkan dan memberitahukan kepada pihak terkait setiap ada kejadian.

“Sudah pernah ada bantuan untuk relokasi, namun baru untuk 24 KK. Sementara sebagian besarnya belum, sehingga masyarakat mengungsi mandiri,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.