3 Pembawa Jenazah dari Jakarta ke Tamansari Kota Tasik Jadi ODP

847
0
radartasikmalaya
dr Uus Supangat Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya

INDIHIANG – Kasus datangnya mayat dari Jakarta ke Kecamatan Tamansari dua hari lalu, menambah daftar Orang Dalam Pemantauan (ODP) dalam catatan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Terlebih mayat tersebut datang dari zona merah Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat menyebutkan bahwa mayat dari Jakarta yang dikirim ke Kecamatan Tamansari tersebut tidak bisa dipastikan positif Covid-19 atau bukan. Akan tetapi orang-orang yang bersentuhan dengannya dia tetapkan sebagai ODP.

Baca juga : Tiga PDP di Kabupaten Tasik Negatif Corona

“Ada tiga orang yang memang sama-sama di mobil dari Jakarta ke sini,” ungkapnya kepada Radar, Rabu (1/4).
Hal itu, kata Uus, merupakan hasil wawancara tim medis kepada keluarga terkait siapa saja yang kontak dengan jenazah.

Memang, kata dia, tidak banyak orang bersentuhan langsung karena warga cukup berhati-hati. “Itu pun semua masih keluarga korban,” katanya.

Sejauh ini, kata Uus, ketiga orang tersebut memang tidak menunjukkan gejala yang mencurigakan. Tetap saja mereka harus isolasi secara mandiri di rumah masing-masing. “Karena mereka sudah jadi ODP,” tuturnya.

Loading...

Ketika dalam beberapa hari ke depan ada gejala-gejala mencurigakan pihaknya akan melakukan penanganan lebih lanjut. Diantaranya dengan perawatan di ruang isolasi setelah penetapan sebagai pasien dalam pemantauan (PDP). “Tapi mudah-mudahan mereka tetap sehat,” ujarnya.

Ketika ada kasus serupa terjadi, masyarakat, diimbaunya memang perlu waspada dan berhati-hati, namun bukan berarti menolak kedatangan jenazah, karena tetap harus dipulasara. “Masyarakat harus bijak juga,” terangnya.

Jika memang masyarakat khawatir, terlebih ada kecurigaan, warga bisa lengung berkomunikasi dengan tenaga kesehatan. Dengan demikian, penanganan jenazah bisa dilakukan petugas dengan alat perlindungan diri (APD).

“Kita pasti akan bantu. Jangan khawatir,” ujarnya.
Bila diperlukan, kata dia, tempat dan alat yang sempat digunakan untuk membawa jenazah akan disemprot oleh cairan disinfektan, sehingga warga bisa lebih tenang karena sudah steril.

Di sisi lain, Uus juga mengapresiasi kewaspadaan warga dan kesadaran untuk terhindar dari wabah corona ini. Pasalnya saat ini warga sudah bergerak sendiri melakukan penyemprotan desinfektan. “Karena waspada harus tapi tetap tenang,” terangnya.

Tim medis Puskesmas Tamansari, sebelumnya, dikagetkan dengan datangnya jenazah dari Jakarta Selasa dini hari (31/3). Jenazah tersebut dibawa ambulans bukan dari instansi kesehatan.

Kapolsek Tamansari Iptu Nurrozi menyebutkan anggotanya mendapat laporan datangnya jenazah dari Jakarta ke Puskesmas Tamansari. Setelah dicek, jenazah itu adalah pemuda asal Kecamatan Tamansari. Pemuda tersebut meninggal di Jakarta. “Dini hari sekitar jam 02.00 atau jam 03.00 datangnya (jenazah tersebut, Red),” ungkapnya kepada Radar, Selasa (31/3).

Jenazah itu sebelumnya hendak dibawa ke rumah keluarganya di Kecamatan Tamansari. Namun, kata Kapolsek, mendapat penolakan dari warga sekitar. Warga khawatir pemuda tersebut meninggal karena tertular virus corona di Jakarta. “Maka dari itu jenazah dibawa ke puskesmas,” ujarnya.

Petugas Puskesmas Tamansari yang tidak mendapat informasi sebelumnya soal jenazah itu, kata Kapolsek, sontak kaget. Jenazah pun sementara tertahan di ambulans dan tidak dimasukkan ke puskesmas.

“Karena tidak ada rekam medis, petugas kebingungan dan kita sarankan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat menyebutkan pihaknya menerima informasi soal kedatangan jenazah tersebut sekitar pukul 07.30. Jenazah pun dievakuasi ke RSUD dr Soekardjo dan dipulasara. “Jam 11.00 jenazah sudah dikuburkan,” katanya.

Pemuda tersebut memiliki riwayat penyakit TBC dan sekitar dua minggu ke belakang dibawa keluarganya ke Jakarta. Akan tetapi bukan melakukan pengobatan secara medis, sehingga tidak diketahui dia terkontaminasi Covid-19 atau tidak.

“Ambulans yang digunakan pun bukan dari instansi kesehatan,” terangnya.

Sebagai upaya antisipasi, tim media melakukan penanganan layaknya kepada jenazah penderita covid-19. Karena bagaimana pun pasien meninggal di Jakarta yang merupakan wilayah terdampak atau zona merah.

“Kita komunikasikan dan beri pemahaman kepada warga dan juga keluarga, akhirnya pemakaman mengikuti protokol jenazah covid-19,” jelasnya.

Baca juga : Warga Ciawi Tasik Melahirkan dalam Mobil Polisi di Pinggir Jalan

Hal ini harus menjadi pembelajaran untuk warga lainnya supaya paham perlunya pemeriksaan medis. Terlebih saat ini sedang terjadi pandemi virus di mana-mana. Supaya, tidak terjadi kesalahpahaman dan keraguan ketika hal serupa terjadi di kemudian hari.

“Kalau keluarga sudah berkomunikasi dengan Puskesmas sebelumnya, petugas pun tidak akan kaget dan langsung bisa melakukan penanganan,” ujarnya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.