33 Anak Alami Krisis Identitas

32
0

CISAYONG – Sebanyak 33 anak asal Kecamatan Salawu dan Kecamatan Mangunreja mengalami krisis identitas. Mereka tidak bisa mendapatkan pelayanan pembuatan administrasi kependudukan dan mengakses fasilitas pemerientah. Hal itu diungkapkan Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto kepada Radar, Rabu (4/12).

Anak-anak ini sekarang ditampung dalam satu yayasan di Kecamatan Salawu yang terdapat sekolah dasar dan pesantren. Sebagian lagi ada yang sudah usia SMP dan SMA ditampung di salah satu yayasan di Kecamatan Mangunreja. “Saat ini mereka krisis identitas karena tidak memiliki akta kelahiran sehingga tidak bisa meneruskan sekolahnya,” ujarnya, menjelaskan.

Selain tidak memiliki akta kelahiran, kata dia, tidak memiliki NIK dan tak diketahui kedua orang tuanya. Kemudian ada yang orang tuanya bercerai, tapi pernikahannya pun dengan nikah sirih. Ada juga yang kedua orang tuanya ada, tapi hasil dari pernikahan siri yang tidak dicatatkan di dalam KUA. “Itu yang kemudian hari ini mereka tidak bisa menikmati dan mengakses fasilitas dari pemerintah seperti PKH, KIS, KIP dan administrasi kependudukan,” katanya.

Dengan laporan ini, kata dia, pihaknya akan segera menindaklanjuti untuk berkoordinasi dengan Disdukcapil juga Pengadilan Agama karena berhubungan dengan isbat nikah. “Hasil dari pendalaman juga bahwa di Desa Kutrawaringin masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akta kelahiran yang diakibatkan oleh orang tuanya menikah tidak dicatatkan KUA. Besok kita akan langsung melakukan komunikasi dengan Disdukcapil Kabupaten Tasikmalaya, supaya persoalan ini bisa ditindaklanjuti,” ujarnya, menjelaskan. (obi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.