34 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

13

TAROGONG KIDUL – Dampak dari musim kemarau panjang, sekitar 34 hektare lahan pesawahan di beberapa kecamatan di Kabupaten Garut terancam gagal panen.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Garut Beni Yoga.

“Dari 34 hektare ini lahan sawah yang kekeringan itu hampir 60 persennya tersebar di wilayah Garut Utara,” ujarnya wartawan Selasa (9/10).

Area pesawahan yang terdampak kekeringan ini merupakan wilayah yang pengairannya ditopang bendungan irigasi Copong. Seperti Kecamatan Limbangan, Cibatu, Cibiuk, Selaawi hingga Leuwigoong.

“Karena kemarau debit air di Sungai Cimanuk berkurang, jadi tidak bisa memasok untuk irigasi di bendungan Capong,” paparnya.

Petani yang sudah terlanjur menanam padi tidak bisa memanennya karena kondisi tanamannya sudah mongering.

Tidak berbuah. Untuk menyiasatinya, para petani di delapan kecamatan yang terdampak kekeringan ini beralih menanam tanaman palawija.

“Untuk tanaman palawija lebih relatif aman. Hasilnya masih bisa dipanen karena memang tidak terlalu membutuhkan air banyak,” katanya.

Marfuah (59), salah satu petani di Kampung Cianten Desa Cigawir Kecamatan Selaawi mengatakan musim kemarau saat ini dirasa cukup panjang. Itu membuat area pesawahan yang digarapnya mengering. Tanamah padi yang sudah ditanam tidak bisa dipanen.

“Tadinya saya spekulasi saja tanam padi. Tapi hujan tak kunjung turun. Jadi tanaman padi saya mati kekeringan,” katanya.

Saat ini, kata dia, tanaman padi yang mati mengering hanya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

“Ya mau gimana lagi daripada tidak dimanfaatkan. Mending buat pakan ternak saja,” terangnya.

Akibat kondisi itu dirinya mengalami kerugian hingga Rp 3 juta. Dirinya pun kebingungan untuk menanam padi kembali ketika musim hujan datang karena modalnya sudah habis. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.