4 Karyawan Positif Corona, Okupansi Hotel di Cipanas Garut Anjlok 80%

76
0
radartasikmalaya.com
Ilustrasi

TAROGONG KIDUL – Dampak adanya empat karyawan yang positif Covid-19, okupansi atau tingkat hunian hotel di objek wisata Cipanas mengalami penurunan cukup signifikan.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Garut Tanto Sudianto Rieza.

Baca juga : Bantuan Kuota untuk SMA/SMK di Garut, Begini Kata KCD

“Dampaknya sangat besar. Wisatawan banyak yang membatalkan kunjungan. Jadi okupansi hotel turun,” ujar Tanto kepada wartawan, Senin (7/9).

Menurut dia, penurunan tingkat hunian akibat kejadian itu mencapai 80 persen. Penurunan tingkat hunian juga dirasakan hampir seluruh hotel di Cipanas. “Padahal hanya tiga hotel yang diindikasikan Covid-19. Tetapi dampaknya dirasakan semuanya,” terangnya.

Tanto menyayangkan beredarnya surat soal nama hotel yang ditutup. Seharusnya surat tersebut tidak bocor ke publik.

Loading...

“Kami menyayangkan dan prihatin terhadap manajemen kearsipan pemerintah. Bocornya surat itu seharusnya tidak terjadi. Kalau hanya imbauan bisa jadi konsumsi publik,” ucapnya.

Bocornya surat itu membuat wisata di Garut kembali merosot. Banyak agen travel di Jakarta dan luar daerah yang membatalkan kunjungan ke Garut.

“Jangan sampai bocornya surat seformal itu terulang kembali. Bocornya surat ini tak hanya berdampak ke pengusaha, tapi berdampak juga ke kepentingan pemerintah,” katanya.

Di satu sisi, pemerintah dibebani mengeleminasi penyebaran Covid-19. Namun di sisi lain, pemerintah harus bisa membangkitkan ekonomi.

“Dengan adanya hal ini, mematikan sektor ekonomi pariwisata. Makanya perlu ada langkah lain untuk membangkitkan ekonomi,” ujarnya.

Perwakilan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Garut Ivi D Sunardi menilai adanya kasus Covid-19 di klaster wisata jadi efek domino bagi wisata lain. Padahal, pariwisata di Garut tengah menumbuhkan kepercayaan.

Baca juga : Leuwi Kanjeng Dalem, Wisata Tersembunyi di Garut

“Protokol kesehatan sudah diterapkan di semua hotel dan restoran. Banyak yang konfirmasi ke kami soal kasus ini. Harus ada sinergitas antara pemerintah dan pelaku usaha,” ucapnya.

Ia mempertanyakan munculnya klaster wisata ke publik. Padahal klaster lain bisa disembunyikan pemerintah. Dengan kasus ini, ia berharap pemerintah juga ikut membantu perkembangan sektor wisata. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.