5.000 Pelajar Terjebak ’Kerja Paksa’ di Luar Negeri

70
0

CINA- Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Asia-Oseania mengatakan ada sebanyak 5.000 pelajar RI di Cina dan Taiwan terjerat praktik kuliah ‘kerja paksa’ yang tak proporsional.

Jumlah itu didapat dari investigasi satgas yang dibentuk PPI Kawasan Asia-Oseania, ber­anggotakan perwakilan ma­hasiswa Indonesia di Cina, Tai­wan, Korea Selatan, dan Jepang, yang menjalani program selama empat bulan sejak Februari 2019.

”Satgas telah menemukan praktik ini di Taiwan serta Cina. Temuan ini cukup mengejutkan kami karena di saat antusiasme kuliah ke luar negeri begitu tinggi, ada pihak yang tidak bertanggung jawab dan menyesatkan calon mahasiwa,” kata Nikko Ali Akbar, anggota Satgas Anti Kerja Paksa dari Tiongkok, di Tianjin, Senin (20/5).

Dalam kasus ini, pihak PPI Kawasan Asia-Oseania menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai diam soal dugaan ‘kerja paksa’ ribuan mahasiswa Indonesia program kuliah kerja/magang di Cina dan Taiwan.

Koordinator PPI Kawasan Asia-Oseania Galant Al Barok menyatakan begitu minimnya respons atas laporan yang disampaikan PPI ke Kedutaan Besar RI di Beijing. Padahal, laporan itu sudah disampaikan sejak tahun lalu.

“KBRI hanya menerima laporan kami dan meneruskannya kepada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) agar dapat memverifikasi agen-agen perekrut tersebut. KBRI Beijing tidak bisa intervensi ke dalam ranah universitas di Cina,” ungkapnya.

PPI Kawasan Asia-Oseania menjelaskan eksploitasi mahasiswa ini berawal dari sebuah agen di Surabaya yang membuka perekrutan dan menargetkan siswa lulusan SMA dalam praktiknya.

Tim satgas PPI itu tak mengungkap nama agen tersebut dan nama universitas yang menerima ribuan pelajar RI ini.

Namun, tim satgas mengaku banyak calon mahasiswa yang terbius agen tersebut lantaran diiming-imingi kuliah sembari kerja. Agen disebut berperan membantu calon mahasiswa mengurusi seluruh keperluan kuliah seperti kepengurusan dokumen.

Para calon mahasiswa lalu terbang menuju salah satu kota di selatan China dengan status visa ‘study working’. Di Negeri Ginseng, ada pihak yang menjemput para siswa dan mengantarkan mereka ke sebuah kampus.

“Para calon mahasiswa lalu diminta untuk menyerahkan sejumlah uang dengan alasan untuk biaya visa dan akomodasi. Setelah itu, mereka dibawa ke sebuah pabrik,” bunyi pernyataan PPI Kawasan Asia-Oseania.

Selama menjalani program kuliah kerja, para mahasiswa disebut diminta bekerja selama lima hari dan dua hari kuliah selama seminggu. Tak hanya itu, para mahasiswa juga diwajibkan untuk kerja lembur hingga pukul 02.00 dini hari.

Menurut informasi yang didapat satgas, para siswa akan dikenakan potongan gaji jika tidak bisa bekerja atau absen setiap harinya. Perihal pendapatan, para mahasiswa disebut mendapat gaji sebesar 500-1.000 yuan atau Rp1-2 juta. Jumlah tersebut didapat mahasiswa setelah dipotong biaya kuliah sebesar 700 yuan atau Rp1,4 juta.

“Mereka hidup di pabrik secara tidak layak dan mendapat sejumlah perlakuan kasar dalam keadaan paspor ditahan pihak pabrik,” kata PPI Kawasan Asia-Oseania.

Lebih lanjut, tim satgas PPI Kawasan Asia-Oseania melihat sistem perekrutan mahasiswa tidak bertanggung jawab ini ber­langsung ter­organisir. Sebab, sejumlah agen pen­didikan dan perekrutan ma­hasiswa aktif mem­­promosikan skema program ku­liah kerja di luar negeri.

Untuk itu, PPI Kawasan Asia-Oseania mendesak pemerintah Indonesia untuk meninjau langsung universitas-universitas di Cina dan Taiwan tempat para pelajar RI tersebut mengenyam pendidikan.

“Hal ini penting untuk mengetahui legalitas universitas dan program, karena menurut temuan tim Satgas, ijazah dari universitas ini tidak diakui keabsahannya,” terangnya.

Pada awal 2019, kasus serupa juga mencuat di Taiwan. Sebanyak 300 pelajar RI di salah satu universitas Taiwan diduga menjadi korban eksploitasi akibat skema program kuliah-magang tersebut.

Dugaan tersebut muncul, setelah salah satu anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang (KMT), Ko Chih-en, mengungkap hasil investigasinya. Dia menyebut, ratusan mahasiswa RI itu terdaftar di Universitas Hsing Wu, distrik Linkou, Taipei. (der/cnn/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.