5.604 Pasangan Bercerai, Rumah Tangga 132 PNS Memilih Berpisah

136
0
Nandang Hasanudin Hakim sekaligus Humas Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Ciamis

CIAMIS – Kasus perceraian di Kabupaten Ciamis sejak awal tahun hingga November 2019 mencapai 5.604 kasus. Jumlah lebih banyak ketimbang 2018 yang berjumlah 5.044.

Hakim sekaligus Humas Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Ciamis Nandang Hasanudin berkaca dari data Januari hingga November 2019, jumlah perceraian di Ciamis lebih banyak 560 perkara dibanding 2018.

Tahun ini, dari 5.604 kasus perceraian, talak cerai 1.849 perkara dan cerai gugat 3.755 perkara. Umumnya yang bercerai dari kalangan masyarakat umum. Adapun penyebab perceraian, karena ekonomi, adanya orang ketiga dan pertengkaran.

“Selain masyarakat umum juga ada dari kalangan ASN yang sampai saat ini kita catat ada 132 orang. Namun ternyata faktor penyebabnya justru dari faktor ekonomi dan perselingkuhan atau pihak ketiga,” jelas Nandang di PA Ciamis.

Salah satu faktor yang menyebabkan PNS bercerai yaitu perselingkuhan dan ekonomi. Dibanding dengan tahun sebelumnya, angka perceraian di kalangan ASN tahun ini mengalami peningkatan, namun tak signifikan.


“ASN di Ciamis yang bercerai itu memang karena ada pihak ketiga dengan meninggalkan sepihak juga karena soal ekonomi ada juga,” ujarnya.

Penyebab umum perceraian, baik di PNS dan masyarakat umum, kata dia, yaitu soal faktor ekonomi. Suaminya pengangguran. Ada juga suami yang berpenghasilan, namun tak mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari, bahkan ada karena keinginan istri yang terlalu banyak, sehingga suami tak tahan untuk memenuhinya.

“Ada faktor poligami secara sembunyi-sembunyi dan kelakuan suami atau istri yang di luar batas seperti judi dan sejenisnya. Hal itu kita ketahui faktor penceraian baik dari kalangan umum atau ASN juga,” paparnya.

Selain meningkatnya kasus perceraian di Kabupaten Ciamis, permohonan dispensasi nikah (menikah di bawah batas usia) juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 ada 150 pemohon dispensasi menikah, sedangkan 2019 dari Januari sampai November sudah ada 215 pemohon. Karena adanya ketentuan baru tentang batas usia nikah yang menjadi 19 tahun dari sebelumnya 16 tahun.

“Pemohon itu ada dispensasi karena hamil di luar nikah, dispensasi ini umumnya keinginan orang tua yang ingin segera menikahkan anaknya,” jelasnya.

Orang tua ingin segera menikahkan anaknya, meskipun usianya belum 19 tahun, karena pergaulan anak saat ini antara laki-laki dan perempuan sudah sangat dekat, sehingga khawatir terjadi hal negatif terutama yang melanggar norma agama.

“Ada juga karena faktor budaya, terutama di daerah pinggiran atau kampung yang biasa menikahkan anaknya ketika sudah lulus sekolah, serta dianggap sudah dewasa. Jadi itu yang banyak permohonan kepada PA saat ini,” tandasnya. (isr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.