Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%

500 Pesantren se-Jabar Sepakati Serikat Ekonomi

120
0

CISAYONG – Sebanyak 500 pondok pesantren dari berbagai wilayah di Jawa Barat menyepakati dibentuknya Serikat Ekonomi Pesantren (SEP), di Pondok Pesantren Idrisiyyah Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (12/11).

Inisiator SEP, Ahmad Tazakka Bonanza mengatakan, pembentukan serikat itu bertujuan untuk meningkatkan ekonomi pesantren.

Artinya, pesantren yang belum memiliki kegiatan usaha akan dibina untuk dapat membentuk koperasi menjalankan usaha mereka.

“Jadi, pesantren yang belum punya usaha juga bisa menginisiasi kegiatan usaha. Setelah itu, kita buatkan kelembagaannya, lalu bantu permodalan, manajemen, pemasarannya juga,” terang Ahmad, kepada Radar, kemarin.

Menurut Ahmad, melalui serikat ekonomi ini, pesantren dapat mengembangkan ekonominya secara beriringan. Bukan hanya pesantren besar yang semakin maju, melainkan juga pesantren kecil.

Serikatnya tidak akan hanya berpangku tangan menunggu bantuan pemerintah. Lebih dari itu, pengurus akan mengelola serikat secara profesional.

“Kita cari dana dari pihak ketiga. Tetapi tentu bantuan dari pemerintah juga akan kita akses,” ungkap dia.

Lewat serikat ekonomi pesantren ini, pihaknya menargetkan keanggotaan hingga mencapai 1.000 pesantren di Jawa Barat. “Kita akan data 1.000-an pesantren untuk dimasukkan di Jabar,” kata dia.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Prof Rully Indrawan mengapresiasi atas pembentukan Serikat Ekonomi Pesantren di lingkup wilayah Jawa Barat.

Menurut dia, pesantren merupakan komunitas yang tidak hanya sekedar mendidik para santri. Lebih dari itu, pesantren juga memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi, khususnya di daerah.

Karena itu, kata Rully, perlu diciptakan kelompok bisnis dalam bentuk koperasi atau dalam bentuk apapun dalam lingkungan pesantren.

Dengan jaringan antar pesantren, kelompok bisnis satu bisa bekerja sama atau berkolaborasi dengan usaha dari pesantren.

Menurut dia, kolaborasi itu sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis modern. Saat ini, ia menilai, tidak ada satu kelompok, komunitas, atau bahkan perusahaan yang bisa bergerak sendiri.

“Kelompok harus menjadi bagian terintegrasi dari sisi produksi, pemasaran, maupun pengembangan sumber daya manusia, dengan kelompok lainnya,” kata dia.

Maka dengan bentuk serikat ekonomi ini, tambah dia, satu pesantren dengan pesantren lainnya dapat berkolaborasi, sehingga bisa menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

“Kami dari kementerian akan terus mendukung kelompok masyarakat yang ingin mengembangkan kewirausahaan. Kita akan arahkan mereka membentuk koperasi agar memiliki daya saing yang lebih baik,” tambah dia.

Rully menambahkan, Kementerian Koperasi dan UKM akan terus membangun ekosistem kerjasama antar kelompok seperti serikat ekonomi pesantren. Dengan begitu, tujuan akhir untuk terbangun ekonomi masyarakat, di mana masyarakat menjadi pelaku ekonomi nasional dapat tercapai.

Selain itu, dengan kerja sama juga akan terjadi pemerataan pendapatan nasional melalui kelompok-kelompok usaha kecil. Dampaknya, akan tercipta lapangan kerja yang luas.

“Jadi nanti orang tak perlu lagi mencari kerja ke kota karena di daerah masing-masing bisa menciptakan lapangan kerja,” ujar dia.

Pada prinsipnya, ungkap dia,.kerjasama antar pesantren serupa Serikat Ekonomi Pesantren bukan merupakan yang pertama kali dilakukan. Di daerah lain seperti Jawa Timur dan Yogyakarta, hal serupa sudah banyak dibentuk. Namun di Jabar, menurut dia, Serikat Ekonomi Pesantren merupakan yang pertama dilakukan.

“Kita akan dampingi terus dengan pelatihan, kebutuhan pembiayaan, pemasaran, termasuk kita kaitkan dengan koperasi besar agar mereka dapat jadi pendamping,” ungkapnya, menambahkan.

(diki setiawan/ radartasikmalaya)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.