6 Mei PSBB Kota Tasik, Warga Khawatir tak Makan

3200
1
BERBINCANG. Warga berbincang di bengkel tambal ban Jalan Nagarawangi Kecamatan Cihideung Minggu (3/5) sore. Deni Nurdiansah / Radar Tasikmalaya

CIHIDEUNG – Kota Tasikmalaya bersiap menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Rencananya, kegiatan untuk menekan penyebaran wabah Covid-19 itu akan dilaksanakan mulai 6 Mei 2020 hingga 14 hari mendatang. Lantas bagaimana kesiapan masyarakat menghadapi kebijakan tersebut?

Minggu (3/5), suasana di Bundaran Nagarawangi sekitar pukul 16. 00 ramai oleh lalu lalang kendaraan. Sebagian dari pengendara, membawa barang belanjaan.

Baca juga : 6 Mei PSBB Kota Tasik, Hanya Pembatasan Jam Operasional & Penegakan Hukum

Sementara itu, sekitar 100 meter dari Tugu Asmaul Husna, beberapa orang lanjut usai sedang berkumpul. Mereka berbincang di sebuah saung kecil yang dijadikan tempat tambal ban.

Salah satu yang menjadi topik pembicaraan yaitu soal PSBB. Mereka khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup selama PSBB berlangsung.

Loading...

”Sebenarnya yang dikhwatirkan bagi kami bukan coronannya, tapi kami khawatir kalau sampai kelaparan,” ujar tukang tambal ban Ujang Rais (58), Minggu (3/5).

Menurutnya, jika pemerintah membatasi pergerakan warga, maka sudah sepantasnya warga mendapatkan bantuan.

”Ibarat kita ini dikurung di kandang, ya harus diberi makan juga,” ujarnya mengibaratkan.

Sejauh ini, Ujang mengaku belum mendapatkan informasi mengenai bantuan sosial yang akan disalurkan pemerintah ke masyarakat selama PSBB.

”Yang ada kondisi ekonomi kami sekarang morat-marit, saya saja yang biasanya dapat Rp 100.000 rata-rata per harinya, kini tidak sampai setengahnya, bahkan hari ini (kemarin, Red) saja saya baru dapat beberapa ribu,” ucapnya.

Menurut dia, kondisi tersebut sudah lama terjadi dan berlarut-larut. Ia khawatir akan semakin memburuk saat PSBB.

”Kalau selama ini yang memberi beras memang ada, itu hanya dari pihak swasta saja yang mau memberi kepada kami,” jelasnya.

Rasa resah juga dialami Oom (68). Pria sepuh ini sudah tidak bekerja lagi saat ini. Dia juga cemas soal pemenuhan pangan selama PSBB.

”Kalau saya tetap menggantungkan harapan kepada pemerintah. Jangan sampai masyarakat kelaparan,” kata dia.

Oom mengaku pernah menerima bantuan berupa beras dan mie dan itu ia dapat dari pihak swasta. ”Kami harapkan ada bantuan nyata dari pemerintah kota,” ucapnya.

Sementara itu, kondisi di Pasar Cikurubuk menjelang pemberlakuan PSBB, normal-normal saja. Tidak adanya panic buying.

”Biasa saja Kang. Justru yang panik itu waktu ada isu pasar mau ditutup,” jelas pedagang beras Heryana kepada Radar.

Hal senada juga diungkapkan pedagang sayuran Teti Sarivah (34). Menurutnya, warga yang berbelanja kemarin masih sebatas normal.

”Tidak terlalu banyak. Seperti hari-hari biasa saja,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf, sebelumnya, menjelaskan meski Jawa Barat akan melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bantuan bagi masyarakat terdampak Covid-19 tetap berjalan.

“Jadi tidak perlu khawatir, bantuan-bantuan pemerintah terus berjalan. Nah, bantuan dari provinsi tahap kedua nanti berubah. Bentuknya tunai,” kata Yusuf tiga hari lalu.

Dia menjelaskan semula bantuan provinsi berupa paket sembako senilai Rp 350.000 ditambah uang tunai Rp 150.000. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kata dia, mengumumkan pada video conference beberapa waktu lalu. Bantuan kedua berupa uang tunai sebesar Rp 500.000.

“Bantuan yang sekarang uang tunai Rp 500.000 bagi masyarakat yang sudah terdata. Kami memohon masyarakat bisa menunggu,” harapnya.

Sementara untuk bantuan yang bersumber dari APBD Pemerintah Kota Tasikmalaya, bentuknya seperti bantuan provinsi tahap awal. Berupa paket sembako senilai Rp 350.000 serta uang tunai Rp 150.000.

Baca juga ; Puluhan Ribu Sembako Terus-terusan Dibagikan ke Warga Kabupaten Tasik Oleh Keluarga Ini..

“Kemarin Pak Wali sudah bekerja sama dengan Bulog dalam mengadakan sembakonya. Itu serupa bantuannya seperti dari provinsi yang kemarin,” ucap Yusuf.

“Pertimbangannya mungkin kan mau menjelang Lebaran, diharapkan masyarakat atau penerima bantuan dimudahkan dalam memenuhi kebutuhan sembako. Khawatir dibelikan baju,” selorohnya melanjutkan. (den/igi)

Loading...
loading...

1 KOMENTAR

  1. maaf masalah nya ini bantuan sama sekali tidak merata hanya 1-2 orang dari 1 rt dan yang dapat orang yang sangat mampu!! mohon penjelasan nya karena sangat tidak efektif apalagi dana bantuan selalu di sunat dulu sebelum sampai ke rakyat belum lagi dari pihak rt rw nya kadang di sunat juga mau gimana lagi?? skrg bantuan pemerintah gabisa jadi hal yg di harap kan. semakin susah para petinggi dan pemerintah yang jujur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.