6 Perawat Korban Corona di Kota Tasik Minim Perhatian Pemkot

266
0

TASIK – Enam perawat di RSUD dr Soekardjo yang sempat dinyatakan positif Covid-19, saat ini harus menjalani isolasi mandiri dari rumah. Risiko yang mereka terima belum mendapat perhatian apapun dari Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Dari informasi yang dihimpun Radar, empat dari enam perawat tersebut merupakan pegawai non PNS. Saat ini mereka belum bisa bekerja kembali, karena harus berdiam diri di rumah masing-masing.

Baca juga : Akademi Persib Punya 20 Kiper Baru dari Tasik, Banjar & Pangandaran

Ditanya soal apakah ada perhatian dari pemerintah untuk mereka? Ketua Persatuan Perawat Indonesia (PPNI) RSUD dr Soekardj, H Dudang Erawan Suseno mengaku belum ada. Dia pun tidak tahu apa pemerintah akan mengalokasikan dana untuk santunan atau tidak.

“Sejauh ini belum ada (perhatian, Red), tapi mungkin dari kami (PPNI) dan dari rumah sakit sedang diusahakan,” ungkapnya kepada Radar, Senin (13/7).

Dari aspek kesehatan, H Dudang menuturkan mereka dalam kondisi yang cukup baik. Namun kondisi ini, memberikan kerugian moril dan material untuk mereka. “Siapa pun ketika dinyatakan positif corona, pasti agak down meskipun sekarang sudah dinyatakan negatif lagi,” tuturnya.

Loading...

Di samping itu, insentif yang mereka harapkan sejak awal sampai kemarin tak kunjung ada kejelasan. Pihaknya berharap pemerintah daerah ada kepedulian membantu rekan-rekannya yang sempat menjadi pasien Covid-19.

“Bentuk perhatian seperti apa pun, akan sangat membantu memotivasi mereka yang sudah bekerja untuk pemerintah,” katanya.

Terpisah, Wadir Umum RSUD dr Soekardjo H Deni Diyana mengaku tidak tahu menahu ada tidaknya santunan untuk perawat yang sebelumnya diisolasi. Menurutnya, hal itu memang perlu dilakukan. “Kami akan coba upayakan, mudah-mudahan ada santunan untuk mereka,” ujarnya.

Efek munculnya enam perawat yang positif Covid-19 membuat RSUD kembali meniadakan jam besuk. Hal itu tetap berlaku meskipun mereka sudah dinyatakan negatif. “Kami juga sudah sterilkan dengan semprot desinfektan, tapi tetap kita perlu antisipasi,” tuturnya.

Menurutnya, penutupan akses besuk pasien itu merupakan langkah paling aman baik untuk pegawai rumah sakit, pasien termasuk pengunjung. Karena Orang Tanpa Gejala (OTG) yang membawa virus Covid-19 sulit dideteksi. “Daripada berisiko, lebih baik kita tutup dulu untuk sementara waktu,” terangnya.

Sebelumnya, berdasarkan hasil traking terhadap enam perawat yang positif Covid-19, Dinas Kesehatan tidak menemukan ada penularan.

Kini para perawat itu sudah dinyatakan negatif dan dikeluarkan dari ruang isolasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat menjelaskan bahwa hasil swab test menunjukkan keenamnya negatif. Ini gugus tugas cukup lega. “Alhamdulillah, hasilnya sudah negatif,” ungkapnya kepada Radar, Minggu (12/7).

Namun sementara waktu, enam perawat tersebut direkomendasikan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Sehingga belum diperkenankan kembali bekerja. “Sebagai antisipasi saja, mereka isolasi mandiri dulu,” katanya.

Baca juga : Razia Pesta Miras oleh Pol PP di Kosan di Kahuripan Tawang Kota Tasik, Ini Kata MUI..

Berdasarkan data Gugus Tugas, hanya ada penambahan empat pasien positif dari 51 menjadi 55. Hal tersebut karena dua perawat yang sempat positif itu merupakan warga Kabupaten Tasikmalaya. “Jadi hanya empat yang masuk di data kita,” ujarnya.

Pasca temuan enam perawat tersebut positif Covid-19, tim survilans melakukan traking. Khususnya kepada keluarga sebagai orang yang cukup melakukan kontak erat dengan mereka. “Tapi hasilnya juga negatif, jadi tidak ada yang tertular dari mereka,” terangnya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.