Beranda Kota Tasik Longsor Mengancam Pemukiman Warga Purbaratu

Longsor Mengancam Pemukiman Warga Purbaratu

81
0
BERBAGI
TERANCAM. Rumah Diah Badriyah di Kampung Sukabakti RT 01 RW 08 Kelurahan Singkup Kecamatan Purbaratu tergerus longsor, Selasa (13/3).

PURBARATU – Pemukiman di Kampung Sukabakti RT 01 RW 08 Kelurahan Singkup Kecamatan Purbaratu terancam hilang digerus longsor. Saat ini satu persatu rumah sudah ditinggalkan pemiliknya. Karena tidak bisa lagi dihuni.

Seperti halnya rumah pasangan Oko (55) dan Diah Badriyah (53). Tempat tinggal mereka sudah dikosongkan sekitar enam bulan lalu. Pasalnya, tebing di dekat rumahnya terus-menerus terkikis. Sebagian rumahnya sudah hilang akibat tergerus longsor awal Maret.

Bahkan, dinding belakang rumah berukuran 7×5 meter itu sudah tepat berada di bibir jurang dengan ketinggian 30 meter. Lokasi pun sudah dipasangi garis polisi. Karena areal tersebut sangat berbahaya.

Diah bersyukur saat longsor terjadi, dia sudah mengungsi ke rumah anaknya yang masih di kampung yang sama. Hal itu karena keluarganya sudah curiga bahwa tebing akan terus mendekat dan membawa rumahnya.

“Daripada celaka, mending ditinggal,” ujarnya kepada Radar, Selasa (13/3).

Pada 2002, posisi rumah Diah dengan bibir sungai Dalem Suba sebenarnya masih berjarak sekitar 100 meter. Waktu itu, ada tiga kebun dan tiga kolam ikan. Namun, kini sudah sirna digerus longsor.

Selain rumah Diah, ada pula tempat tinggal pasangan Kodariyah (57) dan Sodikin (63). Posisinya tinggal lima meter dari bibir jurang. Mereka sudah waswas karena tidak mustahil ke depannya rumahnya pun akan tergerus oleh longsor. “Mau pindah ke mana? Tanahnya hanya di sini,” kata Kodariyah.

Ketua RT setempat, Undang Suganda (54) menyebutkan longsoran tanah terjadi secara bertahap sejak 2002 setelah bagian hulu sungai ditembok. Sejak saat itu tanah di sekitar sungai terus erosi di kedua sisi. Sampai posisi sungai itu pun seolah pindah semakin ke barat. “Tanahnya terkikis sedikit-sedikit. Kecuali kalau hujan deras longsornya banyak,” terangnya.

Sudah banyak yang mengecek ke lokasi baik dari pemerintah daerah dan juga provinsi. Akan tetapi hanya bantuan tanggap darurat saja yang pernah didapatkan warga. “Yang ngontrol banyak, dulu katanya mau pakai bronjong tapi sampai sekarang buktinya enggak ada,” herannya.

Sejak pemerintahan kota berdiri sampai sekarang, kata Undang, belum pernah ada sekali pun wali kota meninjau kondisi kampungnya secara langsung. Dia khawatir jika terus dibiarkan pemukiman di lokasi itu lama kelamaan bisa habis digerus longsor. “Buktinya rumah Diah itu dulunya 100 meter dari sungai, sekarang sudah nempel,” tandasnya. (rga)

loading...

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.