Beranda Hoak atau Bukan Pengembangan Industri Halal

Pengembangan Industri Halal

123
BERBAGI

Dewasa ini industri halal telah menjadi objek populer dan tren terkini dalam dunia bisnis internasional. Bahkan beberapa tahun ini cukup menjadi perhatian para pelaku bisnis maupun para konsumen itu sendiri.

Pemberian label “halal” atau “syariah” pada suatu produk, bukan lagi menjadi suatu bentuk kewajiban atau ketaatan muslim melainkan telah menjadi kekuatan pasar yang kuat. Juga menjadi simbol global untuk jaminan kualitas dan pilihan gaya hidup. Ini terbukti dengan banyaknya partisipasi dan keterlibatan negara-negara nonmuslim dalam menjadikan halal industri sebagai standar pilihan gaya hidup.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah mayoritas penduduknya beragama muslim, memiliki potensi dan peluang yang sangat besar dalam mengembangkan industri halal. Namun menurut Global Islamic Economy Report 2016/2017, Indonesia menempati peringkat 10.

Jauh tertinggal dari Malaysia yang berada di posisi pertama dari berbagai indikator yang ada (GIER, 2017). Hal ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk mengembangkan industri halal baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Pengertian Halal

Kata halal dikutip dari Alquran yakni “halalan thayyiban” , asal katanya “halla” atau “al-hill” yang berarti lepas dan tidak terikat.

Secara etimologi kata halal berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena terlepas dari ketentuan-ketentuan yang melarangnya atau segala sesuatu yang terbebas dari bahaya duniawi dan ukhrawi. Sedangkan kata thayyib berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan.

Thayyib berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kedaluwarsa), atau bercampur benda najis. Istilah halalaln thayyiban bukan hanya mencakup makanan minuman saja namun meliputi semua hal yang terkait dengan sesuatu yang dikonsumsi oleh manusia baik secara zatnya maupun hakikatnya.

Menurut Abdul Mannan sesuatu yang halal dan baik itu bukan dilihat dari hasil. Namun lebih kepada proses atau cara mendapatkan rezeki tersebut dan melakukannya harus dengan cara yang halal dan tidak melanggar hukum.

Sedangkan menurut al-Qurtuby bahwa sesuatu yang halal dan baik adalah yang dapat menghilangkan mudarat atau terbebasnya dari bahaya, sehingga jika kita mengonsumsi sesuatu secara berlebihan dan mengakibatkan marabahaya terhadap kesehatan, maka hal tersebut termasuk ke dalam kategori haram atau dilarang.

Artinya halal dan thayyib adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan baik untuk mendapatkan harta dan untuk menggunakannya harus ada aspek tersebut.

Strategi Pengembangan Industri Halal Indonesia

Dalam rangka pengembangan in­_dustri halal, peme­­­­rintah membangun kawasan industri halal bukan hanya pada industri makan minum (mamin) dan kosmetik saja, namun lebih dari itu.

Kebijakan tersebut dengan dibentuknya UU JPH (Jaminan Produk Halal) Nomor 33 Tahun 2014 yang diundangkan pada tanggal 17 Oktober 2014. Dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa produk yang masuk dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

Untuk itu, pemerintah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan JPH. Namun, dalam implementasinya pelaksanaan UU JPH masih belum maksimal. Sehingga dalam persaingan industri halal, Indonesia masih tertinggal dengan negara lain seperti Malaysia.

Terkait implementasi UU JPH Nomor 33 Tahun 2014 yang belum maksimal, perlu dilakukan strategi baru guna mengembangkan industri halal tersebut.

Sebelum diterapkan strategi dan trik pengembangannya, maka perlu dilihat terlebih dahulu permasalahan yang terdapat pada aspek pengembangan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian Aam Rusdiayana seorang peneliti SMART Indonesia mengatakan bahwa permasalahan yang sering terjadi dalam pengembangan industri halal di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi lima aspek. Yaitu kebijakan, produksi, sosialisasi, infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM).

Berdasarkan permasalahan tersebut maka strategi dan upaya pengembangannya jelas terarah, yakni peningkatan SDM melalui peningkatan kesadaran masyarakat khususnya di tingkat produsen dan konsumen akan pentingnya sertifikat halal, pemenuhan infrastruktur serta gencarnya sosialisasi terhadap kebijakan pemerintah yang diiringi dengan terpenuhinya produk halal.

Jika upaya-upaya strategis untuk mengembangkan industri halal tersebut dilakukan secara efektif dan efisien besar kemungkinan potensi industri halal dapat memberi dampak positif terhadap perekonomian Indonesia . Insyaallah. (*)

* Dosen IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.