Damailah Korea

179
0
Loading...

RATA-RATA terjadi lebih dari sepuluh insiden di Semenanjung Korea setiap dekade sejak Perang Korea berakhir pada 1953. Artinya, hampir setiap tahun ada ketegangan di perbatasan kedua Korea.

Baik di darat, laut, maupun udara. Pada 26 Maret 2010, misalnya, Kapal Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) ROKS Cheonan tenggelam diduga akibat ditorpedo Korut. Sebanyak 46 orang tewas.

Tujuh tahun sebelumnya, sebuah pesawat tempur Korut digerebek enam pesawat tempur Korsel setelah melanggar wilayah udara.

Dan, di akhir tahun lalu, persisnya 17 Desember, upaya seorang tentara Korut melintas batas diwarnai tembakan yang dilepaskan dari wilayah Korut ke wilayah negeri jirannya itu.

Itu hanya segelintir contoh. Dan, hanya yang terjadi di sekitar perbatasan darat, laut, dan udara kedua negara.

Loading...

Bayangkan, dari dekade ke dekade hidup dalam ketakutan seperti itu. Sekalipun tergolong makmur, warga Korsel harus selalu waswas dan curiga terhadap gerak-gerik sang tetangga yang misterius. Dan, ini yang mengerikan, punya senjata pemusnah masal.

Begitu pula Korut, betapa banyak potensi negeri itu yang terbuang karena ketertutupan sebagai buntut panjang Perang Korea.

Mereka hidup di bawah sistem yang mendoktrin semua warganya seolah-olah perang akan terjadi besok pagi.

Karena itu, apa yang terjadi di Panmunjom Jumat (27/4) sungguh melegakan.

Pemimpin Korut Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in bertemu dalam suasana yang sangat bersahabat. Berjabat tangan, bergandengan tangan, saling menyeberang perbatasan.

Dan, yang lebih penting lagi, menghasilkan sejumlah kesepakatan. Diantaranya, mengakhiri Perang Korea secara resmi dan permanen. Juga, denuklirisasi.

Kita tahu, tak lantas semua beres hanya dengan ditekennya Deklarasi Panmunjom itu. Sebagaimana lazimnya kesepakatan, masih harus dijabarkan dalam tataran teknis pelaksanaan.

Yang berarti, pejabat teknis kedua negara masih harus bertemu dan bernegosiasi lagi. Dan, kita tahu, negosiasi diplomatik butuh waktu yang tidak sebentar.

Itu pun dengan catatan: tak ada perubahaan sikap dari pucuk pimpinan atau rezim yang berkuasa di kedua negara. Yang bisa dipicu oleh banyak hal. Termasuk ”provokasi” pihak ketiga.

Tapi, dengan segala catatan itu, warga Korea dan warga dunia tetap mesti mensyukuri kuncup persahabatan yang mulai mekar.

Harus ada komitmen internasional untuk mendorong kedua Korea agar segera mengimplementasikan apa yang mereka sepakati di Panmunjom itu. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.