7 Dosen STAINU Tasikmalaya Diskors Gara-gara Ini..

991
0
POLEMIK. STAINU Tasikmalaya tengah dilanda persoalan yang berujung pemberikan sanksi kepada tujuh dosennyua.

CIHIDEUNG – Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Tasikmalaya diterpa konflik. Tujuh dosen di sekolah tinggi tersebut tiba-tiba mendapat skors dari yayasan.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) dan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Kota Tasikmalaya menerbitkan surat keputusan bersama. Hal itu berkaitan dengan tujuh orang dosen tetap yang diberi sanksi.

Baca juga : BI Klaim Inflasi September 2020 di Tasik Terkendali

Ke tujuh dosen tersebut yakni Dr Hj Hani Sholihah MAg, Muh Masan Al Asari SHI MH, Eki Surojul Baehaqi SH MH, Al Hilyatul Halimah MPd, Imas Komalasari SS, MM, Yuni Hadiyati SPdi MSi dan Agi Mahehesa SPd MPd. Sanksi untuk mereka berlaku sampai September 2023 mendatang.

Salah satu dosen yang terkena skors, M Hasan Asyari menyebutkan dia dan beberapa rekannya sudah diskors sepihak pada Desember 2019.

Beberapa hari lal, muncul lagi pemberitahuan sanksi dan tujuh orang dosen kena skors. “Bukan pertama kali saya kena skors,” ungkapnya kepada Radar, Minggu (4/10).

Loading...

Menurutnya, skors ini karena dia dan rekan-rekannya melakukan protes. Hal ini bermula pada April lalu, di mana para dosen yang tergabung dalam Aliansi Dosen Reformis melakukan petisi ke PCNU Kota Tasikmalaya. “Dalam petisi itu kami meminta ketua StAINU diganti,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Hasan, tenaga pendidik yang statusnya Pegawai Negeri Sipil (PNS) pun ikut disanksi oleh yayasan. Hal ini, menurutnya cukup aneh dan berlebihan. “Jadi seperti tidak paham proses, atau memang ada apa,” terangnya.

Padahal, petisi itu pun mendapat respons dari PCNU Kota Tasikmalaya yang memfasilitasi komunikasi kedua pihak. Akhirnya, muncul solusi perbaikan kepengurusan STAINU. “Jadi perbaikan dilakukan, tapi tidak sampai ketua (STAINU) diganti,” tuturnya.

Tanpa diduga, pada 18 September 2020 kemarin muncul pemberitahuan tujuh orang dosen yang diskors. Kekecewaan bertambah karena skors tersebut disetujui pula oleh pihak PCNU Kota Tasikmalaya. “Kan ditandatangani Ketua PCNU juga,” tuturnya.

Hal serupa diungkapkan Eki, salah satu dosen yang juga mendapatkan sanksi tersebut. Dia mengaku sanksi yang diberikan LPTNU dan PCNU kepada dia dan rekan-rekannya kurang berdasar. “Kebijakan sebuah lembaga harusnya berpijak pada regulasi, bukan atas dasar like or dislike,” katanya.

Terpisah, Ketua ISNU Kota Tasikmalaya, Aos Mahrus MSi dalam rilisnya kepada Radar, mengatakan STAINU adalah ibu kandung yang mengandung dan melahirkan sarjana-sarjana nahdliyyin.
“Sudah seharusnya lah seorang ibu kandung memberikan cinta dan kasih sayang untuk anak kandungnya,” ujarnya.

Lalu bila dosen yang merupakan anak kandung ideologi Aswaja dan kader NU, dengan rekam jejak kaderisasi yang jelas ada yang merupakan alumni IPNU, PMII dan bahkan Ansor malah disingkirkan. Namun dosen yang sama sekali tidak jelas rekam jejaknya tetap dipertahankan mati-matian.

“Peristiwa pemberhentian dosen baik sementara atau secara tetap yang terjadi pada tanggal 3 Oktober 2020 terhadap tujuh dosen yang merupakan kader NU adalah bukti kegagalan sistemik yang nyata. Bahwa ada persoalan yang serius di lembaga perguruan tinggi STAINU Tasikmalaya,” terangnya.

Sebagai warga nahdliyin yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Tasikmalaya, kata Aos, tentu merupakan beban moral tersendiri bila perguruan tinggi yang merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh NU ini terdapat mismanajerial di dalamnya.

Baca juga : 4 Siswa MAN 4 Tasikmalaya Ikuti Lomba Karya Ilmiyah Tingkat Nasional

“PCNU LPTNU harus melihat persoalan ini secara lebih bijak, jangan sampai menjadi alat kepentingan seseorang demi mempertahankan jabatan dengan mengorbankan banyak kader NU lainnya yang potensial. Mereka justru harus didorong untuk berkembang bukan untuk dijatuhkan. Sementara dosen lain yang tidak berhaluan islam ahlussunnah waljama’ah dibiarkan secara bebas serta leluasa bahkan dipertahankan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua STAINU Tasikmalaya Fuad Hasyim belum bisa memberikan tanggapan melalui sambungan telepon saat diminta konfirmasi oleh Radar, kemarin. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.