Kesejahteraan Atlet Wajib Diperhatikan

141
0
Loading...

SINGAPARNA – Pengcab Perbakin Kabupaten Tasikmalaya Dr H Iwan Saputra SE membenarkan kesejahteraan atlet itu wajib menjadi perhatian serius. Karena atlet sudah mampu mengharumkan nama baik daerah.

“Ketika sudah dianggap berhasil memberikan prestasi, pembinaannya tidak berhenti sampai di sini saja melainkan diperhatikan juga kesejahteraannya tentang jaminan kehidupan. Jangan sampai sudah berprestasi dianggap selesai segalanya,” ungkapnya kepada Radar, Senin (14/5).

Jaminan kehidupan yang diberikan atlet itu bisa bermacam-macam, mulai dari memberikan kesempatan bekerja kepada atlet yang berhasil memberikan prestasi dan mengharumkan Kabupaten Tasikmalaya. Sehingga mereka merasa tetap dihargai ketika keringatnya sudah dikeluarkan.

“Misalnya pemerintah berkomunikasi dengan Menpan RB atau KASN terkait rekrutmen PNS yang bisa diisi oleh atlet berprestasi sebagai penghargaan atas jasa yang sudah diberikannya,” ungkapnya. Ketika atlet sudah diberikan perhatian penuh mereka akan lebih tenang dan tidak mencari pelabuhan baru. Melainkan terus fokus dalam pengembangan kemampuannya untuk kembali meraih prestasi.

Sebelumnya, Wakil Ketua I dan II KONI Kabupaten Tasikmalaya Maman Dali dan Wawan Setiawan mengatakan dalam olahraga prestasi tidak hanya potensi atlet yang penting tapi dukungan anggaran dan jaminan kesejahteraan atlet juga berperan.

Loading...

Kesejahteraan tidak harus dengan memberikan bonus saat berprestasi, melainkan pekerjaan bagi atlet untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Sejauh ini memang ada beberapa atlet yang sudah ditempatkan di BUMD. Namun BUMD belum maksimal memberikan ruangnya,” ujarnya kepada Radar, kemarin (13/5).

Selain mencoba memasukan pada dunia kerja, bagi atlet berprestasi tapi masih sekolah KONI juga memberikan dukungan dengan membiayai kuliahnya. Akan tetapi di mata atlet hal tersebut masih dirasa kurang cukup, sehingga tidak jarang mereka hijrah ke luar Kabupaten Tasikmalaya. “Cukup banyak atlet kita yang pergi ke daerah lain untuk mencari pekerjaan dan akhirnya mereka juga mengabdikan keahlian olahraganya di daerah baru,” bebernya.

Permasalahan ini terjadi bukan hanya pada atlet yang sudah berprestasi saja, melainkan atlet yang sudah melalui tahap binaan juga melakukan hal sama. “Misalnya atlet potensi sudah dibina secara berjenjang dan berkesinambungan. Tapi ketika memasuki masa kerja dia pergi ke daerah lain untuk mencari pekerjaan,” paparnya. (yfi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.