Pengentasan Kemiskinan Tanggung Jawab Bersama Nyaris Ambruk,dan Rumah Dodoh Disangga Bambu

72.499 KK Sangat Miskin

3
RUSAK. Rumah milik Dodoh (64) warga Kampung Babakan Dauwan Desa Cikunir rusak dan sudah disangga menggunakan bambu agar tidak roboh Minggu (7/10).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SINGAPARNA – Sebanyak 72.499 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Tasikmalaya masuk kategori sangat miskin. Itu berdasarkan basis data terpadu (BDT) hasil verifikasi 2017 yang dipublikasikan pusdalisbang.jabarprov.go.id.

Kasi Pengelola Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya Lina Rohmawati mengiyakan soal data tersebut hasil verifikasi dan validasi dengan berbagai kriteria yang ditentukan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Kementerian Sosial. “Ada beberapa desil, mulai dari 1 sampai 4. Yang Desil 1 bisa dikategorikan sangat miskin, desil 2 miskin, desil 3 hampir miskin dan desil 4 rentan miskin, ” ujarnya kepada Radar, Minggu (7/10).

Kata dia, jumlah desil 1 atau sangat miskin sebanyak 72.499 itu tersebar di 39 kecamatan. Kategori yang disebut sangat miskin diantaranya dari rumah tidak layak huni, tidak memiliki penghasilan dan pekerjaan tetap. Serta masih banyak kriteria lainnya. Ada beberapa kecamatan yang jumlah kepala keluarganya masuk kategori sangat miskin paling banyak seperti Kecamatan Cigalontang 4.598, Sodonghilir 3.714, Salawu 3.665, Bojonggambir 3.477, Karangnunggal 3.149.

Menyikapi permasalahan kemiskinan, kata dia, memang harus ada sinkronisasi dari semua unsur. Sehingga pengentasan kemiskinan bisa lebih cepat ditangani. “Saat ini memang masih keterbatasan anggaran untuk pengentasan kemiskinan. Kemudian diharapkan juga ada sinkronisasi semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menyelesaikan kemiskinan sehingga bisa tepat sasaran,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya dr Oki Zulkifli menambahkan memang banyak program pemerintah pusat untuk pengentasan kemiskinan. Itu cukup berdampak dalam mendongkrak kesejahteraan, walaupun belum signifikan. “Program banyak seperti pemberdayaan keluarga-keluarga sasaran,” terangnya.

Soal kemiskinan ini, kata dia, menjadi pekerjaan rumah bersama. Selain peran eksekutif, legislatif harus ada keterlibatan masyarakat dan pihak swasta untuk membantu pengentasan kemiskinan ini. “Legislatif bisa terlibat dalam dukungan anggaran, kerja sama semua OPD dan CSR dari pihak swasta bisa menanggulangi kemiskinan, karena kemiskinan tanggung jawab bersama,” terangnya.

Potret kemiskinan terlihat di Kampung Babak Dauwan RT/RW 04/02 Desa Cikunir Kecamatan Singaparna. Walaupun berada di ibu kota Kabupaten Tasikmalaya, masih terdapat rumah tidak layak huni yang ditempati Dodoh (64).

Rumah berukuran 7×5 meter ini hanya beratapkan terpal dan sudah disangga menggunakan bambu untuk menghindari ambruk. “Disangga ini supaya tidak roboh, karena atapnya sudah lapuk,” ujarnya kepada Radar di rumahnya kemarin.

Tak hanya itu, Dodoh pun mengeluhkan kondisi dindingnya yang terbuat dari bilik sudah berlubang. Setiap malam dia harus merasakan dinginnya angin masuk ke dalam rumah. Dia yang hanya tinggal seorang diri ini pasrah menyikapi kemiskinan ini. Dodoh sudah lama ditinggalkan suaminya. Sedangkan anak laki-lakinya tinggal di Jakarta.

“Ya mau bagaimana lagi, ini yang harus dihadapi. Tapi terkadang saya takut dan lebih mengungsi ke rumah adik ketika angin dan hujan besar, karena air selalu menggenang di dalam rumah,” bebernya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dodoh hanya menunggu kiriman dari anaknya.

Ketua RW 02 Rahmat Permana mengatakan sudah beberapa kali yang datang untuk mendata kondisi rumah Dodoh. Namun sampai saat ini belum kunjung ada bantuan yang bisa diterapkan ke rumah janda tersebut. “Saya sangat prihatin melihat kondisi rumah Dodoh yang hampir ambruk. Bahkan rumahnya sudah disanggah menggunakan bambu. Mudah-mudahan dan diharapkan bantuan untuk perbaikan rumah segera datang sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya. (obi)

loading...