80% Ortu Siswa di Kota Tasik Inginkan Belajar Tatap Muka, Disdik?

78
0
BERMAIN. Anak-anak usia sekolah yang seharusnya mengikuti pembelajaran daring, justru bermain di luar rumah beberapa waktu lalu.
Loading...

TASIK – Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dengan status zona orange di Kota Tasikmalaya belum memungkinkan diselenggarakannya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka.

Untuk itu, Pemkot melalui Dinas Pendidikan harus berputar otak dalam mengoptimalkan KBM dalam jaringan (daring) sebaik mungkin.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H Aslim SH mengakui sudah banyak keluhan orang tua siswa yang sampai ke telinga wakil rakyat. Berkaitan efektivitas KBM daring sepanjang Tahun 2020. Meski tidak dipungkiri, sejumlah siswa bisa mengikuti metode pembelajaran dengan baik, tetapi di sisi lain menyisakan pekerjaan rumah diluar pendidikan akademik.

“Ada sisi yang hilang dari pendidikan berbasis daring dibanding tatap muka, terutama pembentukan karakter akhlakul karimah. Nah, hal ini mohon disiasati oleh Dinas Pendidikan,” tuturnya kepada Radar, Kamis (21/1).

Baca juga : Warga Kabupaten Tasik Akan Divaksin pada Tahap Ketiga

loading...

Menurutnya, diluar materi akademik, psikologis anak sangat tergantung terhadap tindak-tanduk guru yang ia lihat di kelas, dalam pembentukan karakter. Sementara apabila hanya disaksikan secara visual melalui gadget atau layar komputer tidak sebaik berhadapan langsung.

“Personal approach ketika tatap muka akan banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak, yang tidak bisa didapatkan saat daring. Maka harus jadi pemikiran serius, apalagi informasinya PPKM akan diperpanjang,” kata Aslim.

Politisi Gerindra ini berharap ketika kebijakan pemerintah berkenaan metode belajar siswa dikembalikan ke masing-masing daerah. Pemkot harus menyiapkan dan menganalisa sekolah mana saja yang sudah siap dari sisi penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat dan yang belum siap.

“Sehingga, ketika suatu daerah dinyatakan siap dan dibolehkan ada hal lebih. Kalau di rumah saja, anak-anak juga mungkin tidak belajar pentingnya prokes. Kalau di sekolah gurunya harus ingatkan terus agar jadi kebutuhan dan bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini,” ujarnya.

“Daripada sekarang, di rumah terus belajarnya seolah mereka bebas prokes. Masih banyak yang keliaran di lingkungan sekitar tanpa masker saat bermain,” sambungnya mengeluhkan.

Dia menceritakan beberapa waktu lalu sebelum PPKM diberlakukan, Komisi IV sempat melaksanakan rapat kerja dengan stakeholder di bidang pendidikan. Informasi yang ia terima, keputusan dibukanya KBM normal atau tatap muka, tergantung dari kepala daerah.

“Sementara saat ini terlanjur PPKM, maka bagaimana Pemkot mencari formulasi supaya KBM daring ini seoptimal mungkin, kemudian siapkan juga instrument yang wajib ketika KBM tatap muka bisa digelar kembali, supaya ketika kondisi mulai normal anak-anak tidak menunggu lagi,” tegasnya.

Sebelumnya, DPRD Kota Tasikmalaya merekomendasikan Pemkotmemberlakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka bagi peserta didik tingkat sekolah dasar (SD) sederajat.

Sebab, meragukan KBM dalam jaringan (daring) bisa berjalan efektif terutama dalam membentuk karakteristik siswa sejak dini.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Ahmad Junaedi Sakan, usai rapat kerja dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya, Rabu (6/1).

Hasil rapat tersebut disimpulkan, bahwa pihaknya akan merekomendasikan pimpinan DPRD segera berkonsultasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 membuka peluang bagi sekolah dasar sederajat yang siap menerapkan protokol kesehatan untuk melangsungkan KBM tatap muka.

“Kita akan segera meminta pimpinan DPRD menemui Satgas, menyampaikan rekomendasi tersebut. Bukan kita tidak sayang anak-anak berisiko terpapar corona, kami tak ingin secara fisik mereka sehat secara mental justru bermasalah,” papar Ahmad Junaedi kepada Radar, usai rapat di ruang rapat komisi, kemarin.

Menurutnya, dari keterangan Dinas Pendidikan hampir 80 persen orang tua siswa SD sudah menginginkan anak-anaknya mengikuti KBM tatap muka. Kemudian, pihak Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama pun sudah menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) KBM tatap muka di masa pandemidengan protokol kesehatan yang ketat.

“Kemudian begini, analisa kami siswa SD biasanya bersekolah dekat rumah, kalau pun jauh jarang menggunakan angkutan umum karena di antar orang tuanya. Sehingga risiko terpapar di jalan kami kira cukup minim,” analisisnya.

Pria yang akrab disapa Jun, mengungkapkan Pemkot pun tidak harus mewajibkan setiap sekolah untuk melaksanakan KBM tatap muka.

Tetapi memberi kelonggaran bagi orangtua siswa yang siap, fasilitas prokes sekolah yang memadai serta kesanggupan stakeholder dalam mengawasi proses KBM sesuai standar pandemi.

“Jadi yang sudah siap atau orang tuanya mau, harus komitmen bersama-sama menjaga dan mengawasi agar putra-putrinya terhindar risiko penularan corona,” harapnya.

Pihaknya baru membahas kesiapan dan urjensi KBM tatap muka pada jenjang SD sederajat saja. Sebab, apabila diserentakkan khawatir justru membuka peluang penularan lebih masif bahkan ke tingkat usia pelajar.

“Pada prinsipnya Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama tidak ada persoalan. Tinggal good will dari pimpinan saja, yaitu Pak Plt Wali Kota dengan segala pertimbangan dan konsekuensinya,” sambung Jun.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Gilman Mawardi menambahkan merujuk Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang memberikan keleluasaan daerah melaksanakan KBM tatap muka, diwajibkan membatasi durasi waktu belajar. Otomatis bisa menekan risiko atau potensi kerumunan siswa di sekolah.

“Banyak fenomena anak-anak usia SD malah jadi kecanduan gadget karena kebiasaan selama pandemi. Kita tidak mengharapkan hal itu berlanjut, maka seyogyanya rekomendasi KBM tatap muka bisa dipertimbangkan Satgas Covid-19 khusus siswa SD dulu saja,” tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya H Budiaman Sanusi menjelaskan berdasarkan surat edaran terakhir dari Satgas Covid-19. Proses KBM tatap muka masih tidak diperkenankan bagi seluruh jenjang pendidikan.

“Kebetulan kalender pendidikan itu, siswa masuk efektif 12 Januari mendatang. Tapi nanti kita lihat juga hasil evaluasi penerapan edaran sampai 8 Januari ini,” tuturnya.

Dinas Pendidikan sendiri, kata Budiaman, sudah berupaya menyosialisasikan terhadap pihak sekolah hasil kajian dan pertimbangan Gugus Tugas Covid-19 berkenaan kebijakan KBM tatap muka. Namun, apabila nantinya hal itu direstui untuk diselenggarakan tidak semua SD sederajat langsung melaksanakan KBM tatap muka.

“Tapi bertahap, ditinjau dulu kesiapan masing-masing sekolah. Bukan asal mau dan siap-siap saja, tetapi benar-benar dipastikan kesiapannya secara klinis,” harap Budiaman. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.