Ada Orang Luar Meninggal, Warga Baitul Marhamah Kota Tasik Resah, Ini Kata Ketua RW..

1889
0

KOTA TASIK – Warga Perum Baitul Marhamah 1, Kelurahan Sambongjaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Minggu (08/11) sore, sempat dibuat resah dengan seorang warga luar Tasik yang meninggal dunia.

Info di lapangan, warga yang meninggal dunia tersebut adalah warga Kabupaten Bandung Barat, wanita berusia 22 tahun, seorang mahasiswi.

Wanita berinisial S itu berada di perum tersebut informasinya untuk berobat ke tempat pengobatan tradisional.

S meninggal dunia di rumah milik pengobatan yang lokasinya berada di dalam perumahan. Bahkan saat meninggal, ada petugas kepolisian dan TNI.

Informasi ini sempat membuat resah warga. Laporan kejadian ini pun menjadi pesan berantai.

Kabarnya keberadaan S yang merupakan pasien di tempat pengobatan alternatif itu tak diketahui RT atau RW setempat, karena tidak melapor.

“Warga resah jika rumah dipakai rawat inap pasien yang berobat. Takut kejadian serupa terulang. Apalagi pasiennya banyak dari luar Tasik. Takut Covid,” cetus sumber terpercaya radartasikmalaya.com.

Warga awalnya resah karena wilayah tersebut masuk zona merah Covid-19.

Apalagi ke pengobatan tersebut kabarnya banyak berdatangan pasien dari luar wilayah Kota Tasik.

Meski lokasi pengobatan tersebut di luar wilayah perum, namun salah satu rumah di dalam perum diduga dijadikan lokasi penginapan pasien, tanpa memberitahukan ke RT dan RW setempat.

“Jadi pihak pengobatan itu punya rumah di perum,” ujar Ketua RW 14 Baitul Marhamah, Bambang Dani yang dihubungi melalui ponselnya, Senin (09/11) pagi.

“Lalu, rumah di perum itu dijadikan penampungan orang yang sakit (pasiennya, Red). Jadi kemarin sore pasiennya meninggal dunia dan tak diketahui sakit apa. Makanya kemarin pihak kepolisian pun turun ke sini,” sambungnya.

Terang dia, pasien yang meninggal dunia kemarin sore itu ternyata sudah Seminggu tinggal di rumah tersebut.

Dan pihak pengobatan alternatif pun tak melaporkan hal itu ke pihak RT maupun RW setempat.

“Justru pihak pengobatan tak lapor ke RT dan RW. Posisi rumah di perum kan awalnya rumah kosong atau untuk tempat tinggal (bukan tempat penampungan pasien),” terangnya.

Maka, tegas dia, pihaknya pun saat ini akan memberikan teguran kepada pihak pengelola tempat pengobatan alternatif tersebut.

Karena warga resah dan tak ingin rumah di perum tersebut beralih fungsi.

“Ya keinginan warga rumah itu kan rumah tinggal, jadi tak beralih fungsi menjadi rumah perawatan. Saya sedang membuat surat teguran karena batasan tamu itu 1 kali 24 jam harus lapor. Sementara yang kemarin meninggal sudah lebih dari 5 hari. Khawatos bilih penyusup,” tegasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.