Adegan ke-18 Sang Kakak Dibunuh

57
REKA ULANG. Satreskrim Polres Tasikmalaya menggelar rekonstruksi Rabu (5/12) kasus pembunuhan adik terhadap kakak kandungnya di Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya.

TASIK – Polres Tasikmalaya merekonstruksi kasus pembunuhan adik terhadap kakak kandungnya di Kampung Paseh Desa Jayamukti Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya.

Sebanyak 28 adegan dilakukan paman dan keponakannya yakni Ajid (36) dan Saipul (22), warga Desa Jayamukti Kecamatan Pancatengah terhadap kakaknya atau pamannya sendiri yaitu Makim (50) pada 13 November 2018 lalu.

Pembunuhan tersebut dilatar belakangi karena pelaku (adik korban, Red) menuduh korban mengguna-guna hingga pelaku sakit lama atau impoten.

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Pribadi Atma SPd MH menjelaskan sebanyak 28 adegan dilakukan saat reka ulang. “Sebelumnya dibuat 27 adegan pembunuhan, namun ketika di lapangan ada satu pengembangan saat rekonstruksi. Sehingga menjadi 28 rangkaian,” ujar Pribadi kepada wartawan usai rekonstruksi ulang di belakang Asrama Polisi (Aspol) Mangunreja, Rabu (5/12).

Pada adegan ke-14 sampai 18, kata Pribadi, pelaku Ajid terbukti melakukan pembunuhan dengan cara memukul korban menggunakan kepalan tangan hingga tiga kali sampai korban terjatuh.

Kemudian, di adegan ke-15, pelaku Saipul mencoba melilitkan lakban ke mulut korban. Hingga adegan ke-16 pelaku Ajid mengambil batu dan memukulkan ke bagian kepala korban.

Di adegan ke-17 pelaku Ajid mengambil balok dan memukulkan ke punggung korban hingga tidak sadarkan diri. ”Akhirnya pada adegan ke-18, pelaku memasukan korban ke dalam karung. Kemudian dimasukan ke dalam mobil, namun keburu diketahui warga, dan pada adegan 28 atau terakhir korban meninggal saat dibawa ke Puskesmas setempat,” ungkapnya.

Adapun pelaku sudah merencanakan pembunuhan terhadap korban, tambah Pribadi, karena pada adegan pertama sampai ketiga pelaku sudah mempersiapkan alat-alat seperti pisau, golok, tali, karung dan lakban yang dibawa dari kontrakannya di Tangerang sebelum menuju ke rumah korban.

Pelaku dijerat pasal 340 soal pembunuhan berencana, dengan ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun ditambah dengan pasal 338 dan 170 KUHP.

Adapun dari hasil otopsi dari dokter forensik, kata dia, yang menyebabkan korban meninggal karena ada pecah di tengkorak belakang serta otak kecil sehingga pecah dan pendarahan.

Menurut Pribadi, rekonstruksi atau reka ulang pembunuhan ini dilakukan sebagai langkah dari kepolisian untuk mendapatkan suatu deskripsi atau gambaran sebelum pelaku membunuh korban.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya Yosep Setiawan mengungkapkan hasil rekonstruksi secara berkas perkara kasus pembunuhan ini belum masuk ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya.

“Hasil rekonstruksi ini membantu kami untuk membuat rekonstruksi dakwaan yang akan dikenakan terhadap tersangka. Kami sudah ada gambaran, untuk membuat rekonstruksi dakwaan yang tepat bagi kedua tersangka,” ungkapnya. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.