Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

2.8%

19.1%

7.1%

71%

Agar Piala Dunia Tidak Menjadi Proyek Sia-Sia

695
0
An aerial view shows the Saint Petersburg Stadium, which will host matches of the 2018 FIFA World Cup, in St. Petersburg, Russia May 19, 2018. Picture taken May 19, 2018. REUTERS/Anton Vaganov

SAINT Petersburg menjadi salah satu kota paling penting di antara 11 tuan rumah Piala Dunia 2018. Kota terbesar kedua di Rusia setelah Moskow itu mendapatkan jatah menggelar tujuh pertandingan. Termasuk semifinal pertama (11/7) dan laga perebutan tempat ketiga (14/7).

Sebagaimana kota-kota lain, Saint Petersburg berbenah total untuk menjadi tuan rumah yang baik. Infrastruktur pendukung disiapkan habis-habisan. Salah satunya adalah menambah rute kereta api bawah tanah atau Metro. Ada dua stasiun anyar yang dibangun khusus untuk mendekatkan fans menuju Stadion Saint Petersburg di Pulau Krestovsky. Yakni, Stasiun Novokrestovskaya dan Begovaya.

Dua stasiun yang masih kinyis-kinyis itu berada di jalur 3. Untuk menuju dua stasiun baru tersebut, dibangun jalur di bawah Sungai Neva. Stasiun Novokrestovskaya berlokasi di bagian barat stadion. Pintu keluarnya tepat menghadap ke stadion. Pengunjung tinggal berjalan kaki. Tidak lebih dari 100 meter. Pintu masuk khusus jurnalis dan media center juga berada di sisi tersebut.

Untuk mempercepat dan memudahkan arus pergerakan penonton, ada jembatan yang selesai dibangun sebelum Piala Konfederasi 2017. Ini khusus untuk pejalan kaki. Jembatan sepanjang sekitar 200 meter itu menghubungkan Pulau Krestovsky menuju Distrik Primorsky.

Selain menjadi akses terdekat menuju stadion, Stasiun Novokrestovskaya juga menawarkan spot rekreasi baru. Stasiun ini berada persis di tepi Sungai Neva. Di sini pengunjung bisa menikmati embusan angin sungai. Saking lebarnya Sungai Neva, terasa seperti di pantai.

Ada dermaga tempat berlabuhnya kapal-kapal pesiar berukuran raksasa. Sementara itu, kapal berukuruan kecil bisa masuk sampai ke dalam kota. Di sisi yang lain berdiri Lakhta Center. Bangunan yang sekilas mirip Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), itu ditahbiskan menjadi gedung tertinggi di Eropa sekaligus ke-13 di dunia. Lakhta Center menjulang setinggi 462 meter.

Keberadaan stasiun anyar itu menambah alternatif pilihan menuju stadion. Sebelumnya, penonton yang naik kereta api bawah tanah hanya bisa turun di Stasiun Krestovsky Ostrov. Setelah itu, masih harus berjalan kaki sekitar 2 kilometer. Pilihan lainnya adalah naik bus atau tram. Tapi, halte terdekat dari stadion berjarak lumayan jauh. Sekitar 2,5 kilometer.

Beruntung, pemandangan menuju stadion sangat indah. Pohon-pohon rindang berjejer rapi di sepanjang jalan. Ada taman luas dan sejuk di sebelah kiri. Pengunjung bisa menikmati suasana

dengan duduk di kursi yang bertebaran. Sementara itu, di sisi kanan ada area bermain dengan beragam wahana yang memacu adrenalin. Taman bermain ini menjadi favorit anak-anak dan keluarga.

Seperti kota-kota lain di Rusia, bahasa juga menjadi kendala besar di Saint Petersburg. Tapi, selalu ada jalan keluar kan. Sejak Januari lalu, informasi kedatangan kereta bawah tanah dilengkapi

dengan bahasa Inggris. Papan petunjuk di stasiun juga ditambahi dengan huruf latin. Bahkan, di beberapa tempat di pusat kota papan petunjuknya bertulisan aksara Tiongkok.

Di luar semua infrastruktur pendukung, daya tarik utama Saint Petersburg sebagai host Piala Dunia 2018 adalah stadion. Berdiri megah di tepi Sungai Neva yang legendaris, Stadion Saint Petersburg bisa menampung 64.287 penonton. Terbesar kedua di Rusia setelah Luzhniki, Moskow. Desainnya futuristik. Karya arsitek Jepang Kisho Kurokawa.

Saint Petersburg juga membangun kamp latihan untuk lima negara yang bermarkas di kawasan tersebut. Yakni, Inggris, Korsel, Kroasia, Arab Saudi, dan Kosta Rika. Selain lapangan

latihan dengan kualitas kelas satu, kamp tersebut juga dilengkap fasilitas kesehatan dan kebugaran. Setelah Piala Dunia 2018 kelar, kamp-kamp tersebut diproyeksikan sebagai tempat pengembangan sepak bola usia dini. Jadi, investasi besar yang dikeluarkan tidak terbuang sia-sia.

Jangan seperti di Indonesia. Ramai-ramai membangun stadion megah, tapi tidak terpakai ketika pesta olahraganya selesai. (candra wahyudi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.