Ajak Masyarakat Peduli Konservasi

111
0
Istimewa PENGABDIAN. Tim Dosen Biologi Unsil Tasikmalaya foto bersama masyarakat di Cagar Alam Sancang Kabupaten Garut Sabtu (13/7). Kegiatan ini bagian dari program Iptek Bina bagi Masyarakat (IBbM).

TASIK – Tim dosen biologi Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya melaksanakan program Iptek Bina bagi Masyarakat (IBbM) di Cagar Alam Sancang Kabupaten Garut Sabtu (13/7).

Tim dosen yang terdiri dari Dr Diana Hernawati, Dr Romy Faisal Mustofa SPd MPd dan Liah Badriah SPd MPd ini memberikan edukasi kepada masyarakat dari kalangan guru, siswa dan pecinta alam mengenai kelestarian alam.

Tujuannya membentuk masyarakat sebagai agen konservasi dalam menjaga budaya, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.

Dosen Unsil Dr Romy Faisal Mustofa SPd MPd mengatakan, Cagar Alam Sancang Kabupaten Garut menyimpan potensi alam yang menarik. Di sana terdapat flora, fauna serta gugusan-gugusan batu yang menimbulkan panorama alam yang unik.

Namun, sambungnya, daya tarik alam itu tidak dimaksimalkan, bahkan masyarakat mulai melakukan perambahan terhadap lahan di dalam cagar alam. “Makanya kami hadir memberikan edukasi mengenai pelestarian alam dengan metode kolaboratif,” ujar Romy saat diwawancara di Unsil Tasikmalaya Senin (22/7).

Edukasi yang diberikan mengusung konsep etnopedagogik untuk dikembangkan dan diterapkan pada kegiatan kelompok pecinta alam.

“Etnopedagogik adalah praktik pendidikan berbasis kearifan lokal dalam berbagai ranah seperti pengobatan, seni bela diri, lingkungan hidup, pertanian, ekonomi, pemerintahan dan lain-lain,” ujarnya.

Makna lain dari etnopedagogik, sambungnya, adalah aktivitas mengajar lintas budaya. Etnopedagogik memandang pengetahuan atau kearifan lokal sebagai sumber inovasi dan keterampilan yang dapat diberdayakan demi kesejahteraan masyarakat. Etnopedagogik ini berkaitan erat dengan kegiatan konservasi.

“Konservasi di sini merupakan usaha untuk menjaga, mempertahankan dan melestarikan apa yang dimiliki untuk tetap lestari. Jadi menjaga ciri khas flora maupun fauna asli yang ada di cagar tersebut,” tutur alumni S3 Universitas Negeri Malang tersebut.

Berbekal konsep etnopedagogik ini, kata Romy, diharapkan kelompok pecinta alam menjadi agen konservasi yang menjaga budaya, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. “Melalui pengabdian masyarakat ini kami berusaha menjadikan penduduk lokal sebagai penjaga dan pelestari alam,” katanya.

Lanjutnya, dengan edukasi yang dilaksanakan secara kontinu bisa terbentuk kelompok masyarakat yang paham keberagaman budaya hayati.

“Konservasi ini penting untuk masa depan bangsa,” kata dia. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.