Aktivis STHG Pertanyakan Kasus Ari

314
0
RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA KOMPAK. Para aktivis STHG dan jajaran Polres Tasikmalaya Kota usai beraudiensi terkait kasus kematian Ari, salah satu mahasiswa STHG di Mapolresta Tasikmalaya, Rabu (27/12).

bungursari – Sejumlah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Sekolah Tinggi Hukum Galunggung (STHG) beraudiensi ke Polres Tasikmalaya Kota Rabu (27/12). Mereka mempertanyakan hasil penyelidikan polisi terkait penyebab kematian Ari Afrizal Fauzi (22), mahasiswa STHG yang sempat diduga menjadi korban penganiayaan.
Para mahasiswa berjas merah itu disambut Wakapolresta Tasikmalaya Kompol Mujianto SIK, Kasat Binmas AKP H Iwan, Kasat Intel AKP Dikdik Rohim Hadi SH MSi serta KBO Reskrim Iptu Ikhwan dan melakukan diskusi di Aula Mapolresta.
Dalam pertemuan itu Ketua BEM STHG Dinan Syamsul Maarif mempertanyakan terkait penyelidikan polisi soal kematian Ari. Pasalnya hal itu masih menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa STHG mengingat belum adanya kepastian.
“Kebetulan hari ini (kemarin) 40 hari meninggalnya teman kami (Ari),” ungkapnya.
Informasi dari kepolisian selaku instansi yang menyelidiki kejadian maut itu dinilai penting bagi para mahasiswa STHG. Untuk itu pihaknya meminta hasil penyelidikan terbaru untuk kembali disampaikan kepada para mahasiswa. “Karena ini juga sering menjadi bahan diskusi kami di kampus,” terangnya.
Kompol Mujianto menjelaskan bahwa sejauh ini pihaknya belum menemukan ada indikasi penganiayaan pada kasus tersebut. Ada pun bukti dan saksi yang muncul menunjukkan Ari meninggal karena kecelakaan tunggal. “Kami juga sudah melakukan gelar perkara yang dihadiri kuasa hukum korban,” terangnya.
Lebih lanjut, KBO Reskrim Iptu Ikhwan menjelaskan pihaknya sudah memintai keterangan sedikitnya 7 saksi dalam penyelidikannya. Termasuk saksi kunci yaitu teman korban yang berada di lokasi saat peristiwa maut itu terjadi. “Sampai kami lakukan pra rekonstruksi, tidak ditemukan ada unsur kesengajaan (penganiayaan, Red) yang dilakukan seseorang kepada korban,” terangnya.
Pihak kepolisian berharap mahasiswa bisa berkoordinasi jika memang mereka menemukan bukti dan petunjuk baru atas kasus tersebut.
Dalam audiensi tersebut, para aktivis STHG bersama Polresta Tasikmalaya juga melakukan diskusi terkait permasalahan hukum untuk keperluan akademis mereka. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.