Ratusan Hektare Lahan Tambak Terancam Hilang

Aktivitas Pencari Tanah Bikin Resah Warga Ambulu

11
Sejumlah warga Desa Ambulu resah setelah ada aktivitas pengukuran dan pembelian lahan secara besar-besaran di wilayah tersebut. Kondisi itu diperparah dengan tidak adanya sosialisasi terkait peruntukan lahan yang mayoritas adalah lahan tambak tersebut.

CIREBON – Warga Desa Ambulu beberapa bulan terakhir mengaku merasa resah. Pasalnya, saat ini ada aktivitas pengukuran tanah di sentra ekonomi masyarakat Desa Ambulu yang membuat masyarakat tidak tenang.

Terlebih, kondisi itu disertai dengan isu akan mengubah wajah Desa Ambulu yang sebelumnya kampung nelayan menjadi kawasan industri.

Tokoh nelayan Desa Ambulu, Samsurudin kepada Radar Cirebon menuturkan, jika saat ini ratusan hektare lahan tambak bandeng dan lahan garam sedang diproses untuk dibeli oleh pengusaha yang nantinya belum jelas peruntukannya.

Beberapa pemilik tambak bahkan sudah menerima uang muka, namun sampai saat ini warga tidak tahu akan diapakan tambak-tambak tersebut.

“Semuanya saat ini kurang lebih ada 500 hektare yang tengah diproses untuk dibeli pengusaha. Tapi kami tidak diberi tahu untuk apa dan akan diapakan lahan itu nantinya,” beber Samsur.

Padahal, lanjutnya, tambak tersebut adalah lahan utama yang digunakan warga Desa Ambulu untuk mencari nafkah sehari-hari.

Mulai dari memelihara ikan bandeng saat musim hujan dan tambak garam saat musim kemarau. Menurutnya, beberapa warga yang menolak diukur dan dibeli tambaknya tak punya banyak pilihan.

Pasalnya, perwakilan pengusaha yang saat ini mencari tanah di Ambulu mengancam tidak akan membeli tambak tersebut dan tidak akan memberikan atau menutup akses jalan menuju tambak milik warga.

“Jadi sekarang pemilik tambak tidak punya pilihan. Kalau tidak dijual nanti dipersulit dan ditutup jalannya. Kalau permintaan kami sederhana, seharusnya kami diberi tahu ini untuk rencana apa dan mekanisme secara resminya bagaimana? Kami tidak ingin terjebak dengan makelar atau calo yang membeli tanah dengan harga murah, dan menjualnya dengan harga mahal,” imbuhnya.

Dikatakan Samsur, lahan-lahan yang saat ini sedang diukur tersebut, adalah lahan petambak yang sangat produktif untuk memelihara bandeng ataupun untuk membuat garam.

Selain bakal menghilangkan mata pencaharian warga, kondisi tersebut akan merusak kearifan lokal yang selama bertahun-tahun, Desa Ambulu menjadi pemasok utama bandeng Losari yang terkenal hingga ke pelosok daerah.

“Yang terpenting ada sosialisasi dulu. Kami minta praktik seperti (pengukuran dan pembelian lahan) ini dihentikan dulu. Beri kami sosialisasi dulu. Ini mau ada apa dan untuk apa? Jelaskan terlebih dahulu, karena ini menyangkut banyak hal. Mulai kearifan lokal, ekonomi, dan lain-lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon H Yuningsih saat ditemui Radar Cirebon meminta masyarakat untuk berhati-hati dan menunggu instruksi dari pemerintah terkait rencana pembebasan lahan di Desa Ambulu.

Menurutnya, wacana yang pernah ia dengar jika di Ambulu nantinya akan dijadikan pelabuhan, namun ia belum mengetahui kapan hal tersebut direalisasikan.

“Infonya untuk pelabuhan. Tapi saya masih belum tahu detailnya. Tapi yang terpenting, masyarakat jangan sampai jadi korban. Jangan sampai kasus-kasus serupa terkait pembebasan lahan terulang di Ambulu. Harapan kita, jika masyarakat menjual lahan harus kepada pengguna langsung tidak melalui calo. Karena otomatis harganya pasti berbeda antara yang jual lewat perantara dengan yang jual langsung. Kasus seperti ini sering terjadi. Makanya, pemerintah desa dan kecamatan harus bisa melindungi masyarakat, terutama para pemilik lahan,” ungkapnya. (dri)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.