Gelombang Tinggi, Ratusan Nelayan Tasela Tidak Melaut

Alat Deteksi Tsunami di Pantai Selatan Jawa Tidak Berfungsi

155
0
ilustrasi

TASIK – Alat pendeteksi dini tsunami di Pantai Selatan Jawa tidak berfungsi. Alat tersebut rusak sudah beberapa tahun ke belakang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya akan mengusulkan ke pemerintah pusat untuk mendapatkan alat yang baru.

“Makanya saat ini kita memerlukan itu (alat pendeteksi tsunami, Red) karena serine pendeteksi dini tsunami tidak bisa menyela,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya H Wawan R Efendi SE MM usai Rakor Ekspedisi Destana Tsunami di aula Kantor BPBD Kabupaten Tasikmalaya Selasa (23/7).

Saat ini, pengadaan alat pendeteksi tsunami sangat dibutuhkan, karena merupakan kunci untuk meminimalisir hadirnya banyak korban ketika ada bencana tsunami.

“Itu sangat mendesak kebutuhannya mengingat Pantai Selatan ini rawan terhadap bencana tsunami,” tuturnya.

Wilayah Pantai Selatan juga masih minim rambu-rambu edukasi evakuasi saat terjadi bencana tsunami. “Itu perlu ditambah agar menjadi edukasi bagi masyarakat khususnya yang berada di pinggir pantai,” kata Wawan.

Pemerintah Kabupaten Tasik­malaya, kata dia, akan menga­jukan kembali alat pendeteksi tsunami dan rambu-rambu evakuasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Di acara Ekspedisi Destana Tsunami akan kita minta lagi agar dipasang,” kata dia.

Koordinator Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) Kecamatan Cipatujah Rahmat Saputra mengatakan masyarakat di Pantai Selatan ketakutan karena rusaknya alat pendeteksi tsunami. Karena, tidak ada peringatan terlebih dahulu bila terjadi tsunami. “Itu sangat diperlukan oleh masyarakat, apalagi ketika terjadi gempa akan menjadi patokan ketika serine itu berbunyi masyarakat langsung menyelamatkan diri,” ujar dia. “Harapan besar kami diperbaiki, alat itu agar menjadi patokan kami,” ujarnya.

Rahmat menyarankan pemerintah harus memasang lebih dari lima titik pendeteksi tsunami, khususnya bibir pantai yang banyak pemukiman, seperti Sindangkerta, Pasanggrahan dan Pamanyang. “Itu memang datarannya lebih rendah bila diterjang tsunami akan sangat terdampak parah,” saran dia.

Wilayah Pantai Selatan juga, kata dia, memerlukan rambu-rambu evakuasi bencana tsunami.

“Saat ini sudah sedikit, bahkan rambu-rambu yang masih ada kondisinya sudah rusak dan itu harus menjadi prioritas di bibir pantai selatan,” ujarnya menjelaskan.

Gelombang Air Laut Tinggi

Nelayan di Pantai Selatan Kecamatan Cipatujah terpaksa libur melaut karena angin kencang dan gelombang air laut tinggi.

Ketua Forum Nelayan Pamayangsari Kecamatan Cipatujah Sana Sofyan menyatakan selama dua hari, Senin (22/7) dan Selasa (23/7), 270 nelayan di Pamayangsari tidak melaut, karena kondisi air laut yang tidak menentu, bahkan kondisi gelombang mencapai lebih dari tiga meter.

“Angin kencang dan gelombang tinggi yang memaksa kami dua hari ini libur melaut,” kata dia kepada Radar Selasa (23/7). “Padahal hasil tangkapan saat ini cukup banyak,” ujar dia.

Sana menjelaskan, selama dua hari ini, nelayan yang hanya memiliki mata pencaharian melaut berdiam diri, karena tidak memiliki pekerjaan lain, sedangkan yang mempunyai usaha melaksanakan usahanya. “Karena bertani pun saat ini tidak bisa karena kondisinya musim kemarau, jadi kami berdiam diri di rumah,” ungkap dia.

Menurut prediksi dari BMKG, gelombang tinggi dan angin kencang akan normal kembali Kamis mendatang.

“Mudah-mudahan saja gelombang dan angin bisa normal seperti biasanya, sehingga kami bisa melaut kembali,” ujar dia. (ujg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.