Aliran Modal Asing Rp 11,3 Triliun Kabur

23
0

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang keluar dari Indonesia (capital outflow) pada 13-16 Mei 2019 mencapai Rp11,3 triliun. Penyebabnya, karena sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ketegangan hubungan perdagangan kedua negara menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Ketidakpastian itu selanjutnya membuat para investor yang sebelumnya sudah mengalirkan modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, justru memilih untuk mengeluarkan dananya lagi. “Ini menimbulkan dampak peralihan modal yang semula masuk malah kembali ke negara-negara maju,” kata Perry di Jakarta Sabtu (18/5).

Menurut Perry, dampak perang dagang menekan instrumen portofolio di pasar keuangan yang bersifat jangak pendek, baik Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham. Padahal, menurut catatan BI, aliran modal asing masih masuk ke Tanah Air pada awal bulan.

Hal ini lantaran imbal hasil (yield) SBN masih cukup menarik, yaitu di kisaran 8,02 persen. “Tapi dalam dua minggu ini (dana asing) keluar karena merespons ketidakpastian di pasar keuangan global,” ujarnya.

Untuk itu, Perry berharap ketidakpastian sektor keuangan global akibat sentimen perang dagang AS-China bisa segera berakhir. Khususnya melalui jalur perundingan G20 Leaders Meeting yang akan diselenggarakan di Osaka, Jepang pada 22 Juni mendatang. “Semoga ada kesepakatan antara AS dan China karena perundingan masih terus berlangsung,” terangnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kian memanas akan berdampak jangka menengah dan panjang, khususnya terhadap neraca dagang Indonesia. Terlebih lagi, kata dia, dalam situasi sekarang ini, tidak mudah dalam meningkatkan nilai ekspor di tengah sentimen perang dagang tersebut. “Tidak mudah sekarang ini, setelah perang dagang apalagi, kami tidak yakin bahwa itu akan jangka pendek karena kalau mereka sudah kapok, harusnya berdamai cepat,” katanya.

Darmin melihat bukan hanya ekspor yang melambat, tapi juga impor. Perlambatan ini jelas akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ke depannya. “Sehingga kalau kami tidak bisa mencari jalan menjaga pertumbuhan itu bisa menurun,” terangnya. (der/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.