Bahan Baku Berlabel Produk China TPPU Ikut Dalami Pabrik Narkoba

Aliran Uang PCC Ditelusuri

84
0
ANGKUT BARANG BUKTI. Petugas mengangkut barang dan bahan-bahan mentah pembuatan obat PCC di Kawalu, Kota Tasikmalaya Kamis (28/11). Barang tersebut untuk dikirimkan ke BNN Pusat di Jakarta. foto-foto: Rangga Jatnika-Diki Setiawan / Radar Tasikmalaya

TASIK – Badan Narkotika Nasional (BNN) tidak hanya memproses kasus produksi obat terlarang jenis PCC (paracetamol, caffeine, and carisoprodol)  yang dilakukan Joko CS. Direktorat Tindak Pidana Pencucian Uang (Dir TPPU) BNN pun akan ikut mendalami aliran uang hasil penjualan narkoba tersebut.

Kamis (28/11), BNN dan Kepolisian mengangkut barang bukti bahan mentah dan mesin pembuat obat PCC untuk dikirimkan ke Jakarta. Mesin pembuatan tusuk sate dan sumpit pun ikut diangkut untuk proses penyelidikan.

Kepala BNN Kota Tasik­malaya H Tuteng Budiman mengatakan proses hukum Joko CS me­mang cukup de­ngan barang bukti mesin-mesin pembuatan PCC. Akan tetapi, Direktorat TPPU pun akan mendalami dugaan pencucian uangnya. “Tapi itu nanti setelah kasus produksi PCC-nya,” ungkap dia kepada wartawan kemarin (28/11).

Sementara ini, pihaknya tidak bisa menjelaskan adakah keterkaitan aliran uang antara Pabrik PCC dengan barang olahan bambu itu. Sebab, hal tersebut, belum bisa diketahui setelah tim dari TPPU melakukan pemeriksaan. “Nanti bisa ketahuan omsetnya berapa dan uangnya ke mana saja,” tuturnya.

Sampai petang kemarin, rumah yang menjadi pabrik PCC itu terus dalam penjagaan kepolisian dan BNN. Hal itu untuk mengantisipasi adanya barang bukti yang hilang di lokasi kejadian. “Setelah semuanya diangkut ya kita serahkan ke yang punya (pemilik tempat, Red),” tuturnya.

Dari label kemasan bahan pokok yang diangkut, tertulis produk dari China.

Disinggung apakah barang-barang tersebut memang dipasok dari negeri tirai bambu, H Tuteng tidak bisa memastikan karena harus berdasarkan keterangan dari para tersangka. “Tapi memang itu karung-karung bekas obat yang ada di lokasi (Pabrik PCC, Red),” tuturnya.

Disinggung adakah limbah obat dari pabrik PCC itu, H Tuteng tidak melihat adanya limbah. Hal tersebut karena bahan pokok dari PCC merupakan material serbuk. “Paling yang tercecer di lantai saja, limbahnya,” terang dia.

Sementara itu, pabrik sumpit dan tusuk sate kini sudah tidak beroperasi lagi karena pemiliknya telah mendekam di balik jeruji besi. Dari lembaran tata tertib, terlihat pabrik pengolahan bambu itu dikelola oleh CV Nusantara Jaya Abadi.

Lokasi pembuatan sumpit dan tusuk sate itu memang berdampingan, bahkan terbilang menyatu dengan pabrik PCC. Akan tetapi beberapa lubang bekas pintu sudah ditutup secara permanen, sehingga tidak ada akses langsung dari kedua pabrik itu. Di tambah ruangan pabrik PCC dipasangi lapisan kedap suara.

Salah satu mantan pekerja, Atih (50) mengaku tidak menyangka tempatnya mengais rezeki hanya merupakan kedok dari pembuatan barang berbahaya. Karena selama ini, dia tidak pernah mendengar dan melihat ada hal yang mencurigakan. “Karena di sini juga suka nyetel musik, jadi enggak dengar apa-apa,” katanya.

Disinggung adakah larangan untuk masuk ke dalam rumah yang menjadi tempat pembuatan PCC, Atih mengaku tidak ada. Namun, dirinya dan rekan-rekan yang lain memang tidak punya ketertarikan mengetahui apa yang ada di bangunan itu. “Karena saya kira rumah biasa aja, engak curiga apa-apa,” tuturnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.