Aliran Wahidiyah Ingin Dirangkul

334
3
DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA DIBONGKAR. Tenda yang akan dijadikan tempat pengajian jemaah Wahidiyah di Lapangan Masjid Baiturahman Bojongkoneng, Singaparna dibongkar oleh Satpol PP dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) kemarin.

Ulama Ikut Fatwa MUI

SINGAPARNA – Para ulama memuji langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya yang membatalkan pelaksanaan pengajian aliran Wahidiyah di Kompleks Masjid Baiturrahman, Bojongkoneng, Singaparna. Keputusan ini dianggap bisa mencegah hal-hal yang akan mengganggu keamanan di Tasikmalaya.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Manonjaya KH Abdul Azis Affandy mengatakan langkah pemkab membatalkan pengajian Wahidiyah tentu saja menjadi keputusan yang berat. Di satu sisi itu adalah pengajian, di sisi lain pemerintah berkewajiban untuk menjaga kondusivitas daerah.
Namun, kata dia, keputusan pembatalan pengajian itu adalah langkah yang tepat. Para ulama pun sudah sepakat dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya. Yakni aliran Wahidiyah tidak bersumber dari Ahlus-Sunnah wal Jama’ah (Aswaja). Kemudian ada istilah menanamkan iman dan mencabut iman seseorang. “(Padahal) Allah yang menanamkan iman dan mencabut iman seseorang. Allah yang memberikan taufik dan hidayah,” jelasnya.
Jadi fatwa MUI itu, tambah KH Azis, harus dihargai semua pihak. Karena MUI satu-satunya lembaga yang didirikan oleh pemerintah yang bermaksud menjaga kebenaran. Dia juga meminta kepada pihak yang memberikan izin supaya berkomunikasi dengan MUI. “Intinya saya mengikuti fatwa MUI yang sekaligus merupakan kebijakan pemerintah,” ungkapnya.
Pimpinan Ponpes Al-Choeriyah Cibeas Cintaraja, Singaparna KH Cucu Suryadayana juga mengikuti apa yang sudah difatwakan oleh MUI Kabupaten Tasikmalaya pada 2007 soal sebagian aliran Wahidiyah. “Jadi Kabupaten Tasikmalaya tidak menerima adanya paham Wahidiyah. Kalau pengajiannya bagus,” papar Ketua MUI Kecamatan Singaparna ini.
Menurut dia, di Wahidiyah itu ada semacam pengultusan restu dari Romo Abdul Latif Mazid Rodiyallohuanhu. Romo ini dianggap sebagai seorang sahabat nabi. Seorang waliyulloh juga diberi gelar Qoddasallohu Sirrohu. “Romo itu kan kalau di agama kristen pemuka agama, romo. Kalau di Islam kiai,” paparnya.
Wakil Departemen Penyiaran dan Pembinaan Wahidiyah Kota/Kabupaten Tasikmalaya Dadang Ahmad Solehadin menjelaskan pihaknya menerima pembatalan pengajian dan selawatan Wahidiyah di Komplek Masjid Baiturrahman. “Tidak apa-apa. Jadi niat baik kita untuk berselawat tidak diizinkan. Yang saya heran kenapa pembatalannya tidak jauh-jauh hari,” ungkap Dadang.
Dadang mengklaim surat izin dari MUI Kabupaten Tasikmalaya, FKUB, ketua DKM Masjid Baiturrahman sudah diterima Wahidiyah. Termasuk Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan Ketua DPRD H Ruhimat. “Bukti-buktinya ada. Kami minta jangan ada semacam pengarahan bahwa Wahidiyah aliran sesat,” paparnya.
Menurut dia, dari riset MUI pusat, belum pernah mengeluarkan fatwa. MUI sudah mengkajinya. Jadi pihak Wahidiyah pun tidak sembrono dan gegabah ketika akan menggelar pengajian dan selawatan. Bahkan persiapannya lima sampai enam bulan. “Harapan kami dari Wahidiyah kepada MUI tolong rangkul kami,” ungkapnya.
Adanya peristiwa ini, kata dia, mudah-mudahan semuanya diberikan taufik dan hidayah. Diberikan kesadaran dan titik terang. Demi keberkahan keadilan di negara dan bangsa ini. “Selawatan ini dilakukan untuk meminta keberkahan untuk negara dan daerah. Tidak ada apa-apa hanya mengajak untuk mengingat Allah dengan berselawat. Membangun kebersamaan dan kedamaian di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya,” papar dia. (dik)

Loading...
loading...

3 KOMENTAR

  1. Ulama siapa yg bersyukur…jangan asal ngomong tentang ulama kalo nggak paham siapa yg pantas disebut ulama, orang cuma hapal hadist tapi nggak paham adab disebut ullama…..mereka nggak paham tentang wahidiyah…tapi sok tahu..sok suci…masih untung romo yai nggak tabuh genderang perang fisik. Mikir…hanya masalah pesanan ormas kalian membubarkan saudara sendiri……

  2. Ulama siapa yg bersyukur…jangan asal ngomong tentang ulama kalo nggak paham siapa yg pantas disebut ulama, orang cuma hapal hadist tapi nggak paham adab disebut ullama…..mereka nggak paham tentang wahidiyah…tapi sok tahu..sok suci…masih untung romo yai nggak tabuh genderang perang fisik. Mikir…hanya masalah pesanan ormas kalian membubarkan saudara sendiri……

  3. Dengan segala hormat kami sangat sangat menghormati orang alim karna pada dasarnya kami orang yg paling bodoh dlm hal pemahaman agama yg sangat dalam.namun kami sangat menyayangkan kepada orang orang yang sangat kami junjung tinggi.di jadikan suri tauladan.ko masih mau menjastis pemahaman yang notabene sama sama pembimbing ummat.terus terusan melontarkan isyu sara tanpa mau melakukan tabayyun.pikir saya hal ini kan sudah di selesaikan oleh mui kota tsm kh dudung alamsyah.lewat proses tabayyun yg di pasilitasi oleh partai kebangkitan bangsa.yg hasilnya mui tidak menyesatkan wahidiyah baik ajarannya apalagi sejawatnya.lihat di outline.hasil riset tim kajian fatwa mui pusat thn 2017.hasilnya bisa bapak bapak tanya sendiri kepada yg bersangkutan.wahidiyah itu jelas legal formalnya.kelembagaanya sangat terbuka.kenapa .demi kemaslahatan ummat tidak mau datang ke pusatnya untuk melakukan tabayyun.kalau memang wahidiyah salah dan sesat minta di bubarkan saja ke kementrian yg telah melegalkannya jangan di hantam akarnya.rasanya ga adil pak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.