Budaya Warga Cibeureum saat Menggelar Khitanan

Anak-Anak Diarak Menaiki Manuk Janur

2
Desa Cibeureum Kecamatan Banjar memiliki budaya unik saat ada pesta khitanan. Anak yang di-khitan, akan diarak berkeliling kampung menaiki Manuk Janur.

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Desa Cibeureum Kecamatan Banjar memiliki budaya unik saat ada pesta khitanan. Anak yang di-khitan, akan diarak berkeliling kampung menaiki Manuk Janur.

Cecep Herdi, Banjar

MANUK Janur dibuat dari kerangka kayu yang dihiasi daun kelapa atau janur. Manuk Janur ini sepintas dari kepalanya menyerupai burung garuda yang menjadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Manuk Janur ini merupakan warisan budaya masyarakat Desa Cibeureum. Dibuat dan digunakan oleh masyarakat Cibeureum. Manuk Janur ini akan keliling kampung jika ada hajatan, seperti khitanan anak,” kata Kepala Desa Cibeureum Yayan Sukirlan Senin (17/9).

Menurut dia, pembuatan manuk janur ini membutuhkan waktu beberapa hari. Rumitnya pembuatan Manuk Janur, sehingga harus melibatkan lebih dari empat orang untuk mengerjakannya.

Kaum wanita menganyam janur kelapa, sedangkan pria membuat ukiran untuk bagian rangka dan kepala Manuk Janur.

“Biasanya juga manuk janur ini digunakan untuk mengantarkan anak yang di-khitan ke tempat pemandian. Di Ciberueum budayanya kalau ada yang di-khitan itu biasanya dimandikan dulu. Nah, sebelum dimandikan diarak-arak dulu naik ini (Manuk Janur),” kata dia.

Budaya Manuk Janur ini, tidak hanya digunakan untuk anak yang di-khitan. Penampilannya juga dipamerkan di perayaan HUT Kota Banjar. Bahkan pernah di tampilkan di Jakarta.

“Selain digunakan untuk khitan juga digunakan dalam ajang penampilan seni budaya, baik di lokal maupun di Jakarta,” katanya.

Manuk Janur, menurut dia, harus menjadi budaya yang diturunkan ke anak cucu generasi selanjutnya. Budaya ini tak boleh lekang dimakan zaman.

“Upaya kita untuk memper­tahan­kan budaya ini yakni dengan melibatkan anak-anak remaja dan karang taruna untuk sama-sama membuat. Kemudian ikut saat memamerkan Manuk Janur. Ini menjadi bekal untuk anak usia dini sehingga mereka mempunya rasa memiliki terhadap budaya ini,” kata dia. (cep)

loading...