Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.9%

19.6%

8.2%

68.3%

Anak Kecanduan Game, KPAID Tasik Siapkan Tenaga Hipnoterapi

151
0

SINGAPARNA – Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengaku khawatir melihat kondisi pandemi covid-19 saat ini.

Pasalnya, akan menjadi sesuatu yang berbahaya bagi anak ketika terlalu lama memegang android, disaat pandemi, dan libur sekolah.

Sehingga kunci pokoknya bagaimana mengoptimalkan peran orang tua untuk bisa mengontrol pendidikan anak.

“Kalo saya menyikapi ini merupakan persoalan rumah. Bagaimana orang tua untuk bisa mengawasi anak. Sehingga dari beberapa peristiwa yang kami tangani kadang-kadang itu dari android dan medsos,” ujarnya kepada Radar, Rabu (5/8).

Ato menyebutkan, ketika anak diberikan kebebasan yang luas tanpa kontrol yang ketat dari orang tua, maka akan berdampak kurang baik terhadap mental anak.

Ini harus dihadapi sehingga wajib harus dilakukan para orang tua, bagaimana memaksimalkan fungsi orang tua untuk dapat menjadi guru bagi anak ketika dalam rumah.

Sekaligus bisa menjadi sumber solusi bagi anak serta menciptakan ide kreatif agar anak betah di rumah. Sehingga anak bisa terpenuhi nutrisi pendidikannya.

Hanya yang jadi persoalan, stake holder pendidikan juga harus masuk ke orang tua.

Pola komunikasinya jangan hanya memerintahkan lewat WA, namun jauh lebih dari pada itu bagaimana para guru dalam hal ini wali kelas masing-masing pandai berkomunikasi dengan para orang tua siswa.

“Bukan hanya semata-mata melalui grup WA, namun juga secara langsung bertatap muka, dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan,” ucapnya.

Ato menyebutkan, dampak buruk bagi anak yang terlalu lama menggunakan gadget yaitu, anak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya negatif.

Ketika berbicara media sosial, akses apapun dapat diakses oleh anak.

Pihaknya pun menangani anak yang kecanduan game, akibat anak terlalu lama memegang gadget android.

Ini menjadi persoalan baru di masa pandemi covid ini, sehingga dampaknya jelas tidak baik akan berdampak pada mental anak-anak.

Salah satu caranya, bagaimana orang tua bisa berperan multi ketika anak sedang berada di rumah.

Dalam hal ini juga, Disdikbud dan Kemenag Kabupaten Tasik diminta untuk bisa sigap mencari solusi tepat untuk menyelamatkan anak-anak.

“Memang hari ini dengan kreatifitasnya para guru melakukan belajar kelompok di rumah masing-masing ini adalah improvisasi di zona-zona tertentu,” ungkapnya.

“Namun sepatutnya Disdik atau Kemenag harus menyiapkan langkah-langkah yang efektif untuk menyelamatkan anak-anak kita. Sebab, jika dibiarkan seperti ini dampaknya sangat buruk bagi anak-anak,” sambungnya.

Sejauh ini, Ato mengaku belum menerima laporan terkait adanya anak yang kecanduan game. Terkecuali dari luar Kabupaten Tasik.

Yang dikhawatirkan, ketika anak bermain tidak membawa HP seperti ada sesuatu yang kehilangan.

Apalagi anak-anak itu banyak dijumpai ketika ada wifi anak-anak itu berkumpul dengan tidak mengenal waktu.

“Ini sudah menjadi fenomena di kita sehingga jika ini dibiarkan sangat berbahaya buat kita,” imbuhnya.

Ato menambahkan, bagi yang kecanduan game itu, KPAID akan menanganinya selama masih bisa diatasi ketika kadarnya masih ringan.

Kebetulan di KPAID memiliki tenaga hipnoterapi. Pihaknya mencoba memberikan terapi untuk tidak kecanduan game ataupun gadget yang lebih parah lagi.

“Kita ada tenaga ahli satu orang untuk hipnoterapi dibantu oleh sebanyak 2 orang. Jadi kesulurahan ada 3 orang,” ungkap Ato menambahkan.

(radika robi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.