Anak Korban Asusila Rawan Terjerumus

206
0

TASIK – Mening­katnya kasus kejahatan terhadap anak di Kota Tasikmalaya merupakan salah satu pengaruh buruk perkem­bangan teknologi.

Mudahnya arus informasi negatif dinilai sebagai pemicu masalah moral masyarakat termasuk anak.

Psikolog Rikha Surtika D MPsi menuturkan pengaruh teknologi dan informasi sedikit banyak mengubah karakter masyarakat.

Sayangnya banyak informasi negatif yang banyak diserap yang menggugah rasa ingin tahu.

”Untuk itu informasi khususnya yang berbau asusila perlu dikemas dengan baik supaya tidak menjadi contoh,” ungkapnya saat dihubungi Radar, Selasa (9/4).

Untuk para korban asusila, masa depan mereka sangat rawan terjerumus kepada hal negatif. Ketika tidak ditangani dengan baik, mereka akan merasa kacau dan akhirnya malas untuk memperbaiki hidupnya.

”Tidak sedikit korban asusila merasa terlanjur rusak sehingga tidak peduli lagi dengan masa depannya,” ujar dia.

Peran orang tua sangat penting dalam penanganan kejadian seperti ini, pasalnya mereka adalah benteng pertama yang menjaga anak.

Untuk korban, mereka harus dibentuk mentalnya supaya punya semangat hidup tanpa lari dari peristiwa yang sudah dialami. Hal ini juga perlu dukungan dari lingkungan yang tidak mengucilkan korban.

”Karena ada saja orang tua yang membawa korban pindah ke tempat lain karena merasa malu,” katanya.

Terpenting, ego orang tua harus dikesampingkan dalam mendidik anak meskipun kadang hal itu terjadi tanpa sadar.

Sebisa mungkin upaya yang dilakukan dengan memprioritaskan kondisi dan sudut pandang anak sebagai korban.

”Contoh ada anak yang menjadi korban asusila, biasanya upaya dilakukan itu karena orang tua merasa malu,” terangnya.

Begitu juga dengan upaya mengantisipasi anak supaya tidak menjadi korban, orang tua harus benar-benar melakukan pengawasan sebaik mungkin.

Diantaranya adalah dengan memberikan teladan yang baik kepada anak termasuk dalam hal yang notabene berkonten dewasa.

”Kadang suka ada orang tua yang mengajari anaknya supaya menjaga diri tapi mereka sendiri tanpa sadar berprilaku sebaliknya,” pungkas dia.

Seperti diketahui, kasus kejahatan terhadap anak di Kota Tasikmalaya meningkat. Angkanya mencapai dua kali lipat.

Tahun lalu, 8 kasus. Tahun ini sampai Senin (7/5) jumlahnya sudah 17 kasus. Itu data yang masuk ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasikmalaya.

Kasi Pidum Kejari Kota Tasikmalaya Suparman SH mengatakan seluruh data yang diterima hasil dari laporan yang masuk ke institusinya.

”Sejak Januari-Mei 2018 terdapat 17 perkara pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak. 16 diantaranya merupakan kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. 15 kasus pelakunya dewasa dan satu kasus pelakunya masih di bawah umur,” ungkapnya saat ditemui Radar di ruang kerjanya, Senin (7/5).

Adapun kasus pelanggaran UU Perlindungan Anak lainnya yakni kekerasan secara fisik. Tercatat satu kasus. Itu terjadi di Kecamatan Indihiang. Beberapa waktu lalu, balita dianiaya bibinya hingga meninggal.

“Sekarang kasusnya sudah masuk ke pengadilan,” terangnya. (Rangga Jatnika)

Video Pilihan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.