Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
16%

84%

Anak Yatim Perlu Advokasi

39
0
BERBINCANG HANGAT. Dian Muhammad Fikri (9), anak yatim asal Cikebo RT/RW 03/04 Kelurahan Talagasari Kecamatan Kawalu duduk di serambi rumahnya, Jumat (14/6). Dia berbincang dengan Babinsa Kelurahan Talagasari Kawalu Serka TNI Ogi Hakiki dan Ketua RT setempat Agus Romdoni. (rangga Jatnika/radartasikmalaya.com)

Yatim perlu mendapatkan perhatian. Tak hanya pemenuhan pangan dan sandang, tapi dibutuhkan advokasi pendidikan dan pembimbing sebagai pengganti peran seorang ayah.

Hal ini diungkapkan Pimpinan Ponpes Laskar Langit Ustaz Yadi Fiana alias Bang Jack. Dia mengatakan advokasi pendidikan untuk anak yatim sangatlah penting. Karena jika hanya bantuan untuk makan, kebanyakan mereka sudah tercukupi.

“Bukan hanya sekolah, tapi juga memberikan mereka pendampingan dalam belajar dan yang lainnya,” ungkapnya kepada Radar, Jumat (14/6).

Jika hal ini bisa dilakukan, dia yakin bisa memutus mata rantai kebodohan. Mereka akan punya semangat belajar yang tinggi, karena ada seseorang yang memberikan motivasi. “Ini jadi pembangunan mental generasi muda,” katanya.

Siapa yang bertanggungjawab mengurus anak yatim, pemerintah termasuk di antaranya. Namun di samping itu, orang tua yang ada di sekitar anak tersebut punya tanggung jawab juga. “Kalau bicara pemerintah, semua warga negara adalah tanggungjawab pemerintah,” katanya.

Pihaknya sendiri punya rencana untuk melaksanakan program akomodasi pendidikan anak yatim. Sumber anggarannya akan dia cari agniya-agniya yang bisa diajak bekerja sama. “Misalkan dengan CSR atau apa, rasanya tidak mustahil,” terangnya.

Selain itu, dia juga ingin memberdayakan ibu mereka yang belum memiliki pendapatan tetap. Supaya bukan hanya kehidupan anaknya, tapi ekonomi keluarganya pun meningkat.

“Kita cari peluanganya, dan memberikan pembelkalan manajemen,” tuturnya.

Salah satu anak yatim yakni, Dian Muhammad Fikri (9) tinggal bersama ibunya, Ihat Solihat (64) di sebuah rumah panggung berukuran sekitar 4×3 meter di Cikebo RT/RW 03/04 Kelurahan Talagasari Kecamatan Kawalu.

Di dalamnya hanya ada dua ruangan dan dapur berada di luar rumah. Ihat punya satu anak lagi bernama Fauzi (16) yang hanya sekolah sampai SMP dan saat ini bekerja sebagai buruh.

Ketua RT setempat, Agus Romdoni mengatakan secara ekonomi memang keluarga tersebut tergolong menengah ke bawah. Rumahnya pun berdiri di lahan milik warga lain dan dibangun secara swadaya.

“Kerjaan ibunya juga serabutan,” katanya.

Jika bepergian, mereka harus berjalan ke jalan raya karena hanya bisa mengandalkan angkutan umum. Keluarganya tidak memiliki kendaraan untuk digunakan ketika bepergian. “Tapi alhamdulillah keluarga ini dapat bantuan PKH, kemarin juga dari Baznas,” tuturnya.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tasikmalaya H Wawan Nawawi, sebelumnya, menyebutkan pihaknya mencatat ada 5.700 anak yatim di Kota Tasikmalaya. Jumlah tersebut merupakan hasil pencermatan dari segi usia dan kondisi ekonominya.

“Kalau yang memang ekonominya mampu atau sudah dewasa kita tidak cantumkan,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (13/6).

Jumlah tersebut merupakan sebagian angka yang tercatat di Baznas. Realitas di lapangan bisa lebih banyak. Terlebih pihaknya juga tidak menghitung anak-anak yatim yang dititipkan di panti asuhan. “Kita lebih fokus kepada anak yatim di luar panti,” katanya.

Disinggung perhatian dari pemerintah, H Wawan melihat masih minim. Dia pahami pemerintah bertanggung jawab kepada semua masyarakat yang kesulitan, tidak hanya anak yatim saja.

“Masih kurang. Bukan hanya dari pemerintah tapi mereka juga butuh perhatian dari semua pihak,” katanya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.