Aneh, Sidang Kasus Besar Pabrik Pil PCC di Pengadilan Tasik Dilarang Diabadikan Kamera

497
0

KOTA TASIK – Sidang perdana kasus pabrik pil PCC berkedok pabrik sumpit di Kawalu, Kota Tasikmalaya yang diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN), Senin (10/2) siang mulai digelar di Pengadilan Negeri (PN), Jalan Silwangi Kota Tasik.

Lima terdakwa kasus dalam tersebut, Yohan (27), Joko (25), Eri (24), Deni (25) dan Agus (57) dihadirkan di persidangan.

Meski persidangan bersifat terbuka, namun sayang para awak media tak diperbolehkan mengambil gambar sehingga terkesan tertutup.

Baca juga : Pernah tak Sejalan di Pilgub Jabar 2018, PKS Mulai Dukung Ridwan Kamil

Bahkan, salah seorang fotografer baru saja mengeluarkan kameranya, jalannya persidangan saat membacakan dakwaan pada pukul 12.49 WIB itu langsung diberhentikan sementara.

Lalu, hakim pun menegaskan “Jangan mengambil foto. Karena mengganggu jalannya persidangan,”.

Baca juga : Teror Perkosaan di Tasik, Korbannya Siswi SD, ASN, Guru & IRT
Baca juga : Pelaku Teror Perkosaan di Tasik Selalu Mengaku Uwaknya Korban

Tak hanya itu, 2 orang pewarta juga ditegur petugas keamanan pengadilan dan dilarang mengeluarkan ponselnya untuk merekam gambar persidangan.

Padahal, para jurnalis ini sudah memperlihatkan kartu identitasnya.

Usai hakim melarang mengambil gambar, selang beberapa menit persidangan perdana kasus pengungkapan pabrik PCC dengan jumlah produksi terbesar se-Indonesia ini kembali berjalan.

Ini adalah persidangan perdana di Tasikmalaya dengan ancaman kepada para terdakwanya adalah hukuman mati.

“Kami dilarang mengambil gambar persidangan. Ini bertentangan dengan undang-undang keterbukaan informasi publik. Saya juga tahu batasan dalam mengambil gambar,” ujar Adeng Bustomi, pewarta foto Antara kepada radartasikmalaya.com.

“Bahkan perkara ini kan ditangani BNN pusat, Kejari, Kejati Jabar dan Kejagung. Selama 17 tahun bertugas di Tasikmalaya baru kali ini ada kejadian tersebut. Ini persidangan kan jelas sifatnya terbuka untuk umum,” tutur Asep Juharyono, jurnalis RCTI.

Sementara itu usai persidangan salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus tersebut, Yadi Mulyadi mengatakan, dakwaan yang dibacakan di persidangan ini dari 5 terdakwa itu untuk 4 orang ditangkap di Rumah Makan di daerah Kebumen, dan seorang atas nama M Joko Pamungkas ditangkap di TKP, di Kawalu.

“Jadi tadi dibacakan dakwaannya, maka pihak terdakwa juga penasehat hukumnya tak mengajukan keberatan atau eksepsi atas dakwaan tersebut. Lalu minggu depan dilanjutkan dengan sidang pemeriksaan saksi,” katanya kepada wartawan.

Dakwaan untuk 4 orang itu, jelas dia, pasal 13 junto 132, itu pasal primer. Pasal subsdernya pasal 113 junto 114 yang lebih subsidernya 112 junto 132. Ini masih sebatas surat dakwaan saja. “Dilihat dari barang buktinya berat. Dari pasal yang didakwakan ini hukum mati dan seumur hidup,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.