Angka Kematian Akibat Corona di Kota Tasik Tertinggi di Jabar

971
0
radartasikmalaya.com
ilustrasi covid-19/ radartasikmalaya.com

KOTA TASIK – Tingkat kematian akibat corona di Kota Tasik merupakan kasus tertinggi yang terjadi di Jawa Barat (Jabar).

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Tasikmalaya, Uus Supangat mengatakan, sebanyak 6 persen dari total kasus terkonfirmasi positif yang ada di Kota Tasik berujung pada kematian.

“Angka kematian kita ini tertinggi di Jabar, 6 persen,” katanya kepada wartawan, Kamis (01/10) malam.

Berdasarkan data yang terakhir diunggah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya, Kamis pagi tadi, total kasus terkonfirmasi positif berjumlah 153 kasus.

Dari total kasus itu, 60 orang dinyatakan sembuh, 84 orang masih dalam perawatan, dan sembilan orang meninggal dunia.

Namun, pada Kamis siang, Dinkes Kota Tasik kembali mencatat penambahan kasus baru sebanyak 53 kasus.

Puluhan kasus baru itu berasal dari klaster pesantren di wilayah Kota Tasik.

Berpegang pada data tingkat kematian itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Tasik tak lagi membiarkan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 melakukan isolasi mandiri.

Sebab, selain berpotensi menimbulkan klaster keluarga, pasien yang isolasi mandiri tak dapat dipantau dengan maksimal dari sisi medis.

Karena itu, sejak Selasa (29/09) lalu, Pemkot menggunakan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Universitas Siliwangi (Unsil) sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 tanpa gejala.

Sedangkan ruang isolasi di rumah sakit hanya digunakan untuk pasien yang memiliki gejala atau punya penyakit bawaan (Komorbid).

Namun, baru dua hari digunakan, tingkat keterisian Rusunawa Unsil sudah mencapai 60 persen.

Uus menjelaskan, di Rusunawa itu terdapat 40 ruangan yang tersedia. Satu ruangan berisi dua tempat tidur. Sebanyak 30 ruangan digunakan untuk pasien dan sisanya untuk tenaga kesehatan.

“Yang bisa dipakai untuk pasien 30 ruangan. Dalam kondisi darurat itu bisa menampung 60 pasien. Namun diusahakan satu ruangan itu satu pasien,” bebernya.

Dengan adanya penambahan 53 kasus baru itu, pihaknya kini sedang mencari alternatif lain untuk ruang isolasi pasien terkonfirmasi positif. Sebab, Rusunawa Unsil tak mungkin dapat menampung seluruh pasien itu.

Sementara itu dari keseluruhan 67 ruang isolasi di rumah sakit, hanya empat tempat tidur yang dapat digunakan, yaitu di RSUD dr Soekardjo. Ruang isolasi di rumah sakit lainnya terisi penuh.

“Itu sebagian dari rumah sakit sudah dipindah ke rusunawa. Namun kasus terus bertambah, jadi terisi lagi di rumah sakit,” tambahnya.

Uus menandaskan, kasus yang ada saat ini sudah melampaui batas kemampuan layanan kesehatan di Kota Tasik.

Namun, ia mengaku tak akan patah semangat. Pihaknya akan tempuh alternatif lain.

“Hari ini Pak Sekda (Ivan Dicksan) dan Pak Wali (Budi Budiman) akan berbicara demgan beberapa pemilik hotel. Mudah-mudahan ada hasil. Kalau ada kurang, kita manfaatkan gedung pemerintah lainnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk penambahan 53 kasus baru dari klaster pesantren hingga kini masih menjalani isolasi mandiri di lingkungan pesantren.

Pihaknya sedang memverifikasi ulang jumlah ruang isolasi yang tersedia agar bisa digunakan oleh para pasien positif.

“Mereka saat ini masih isolasi mandiri karena belum dijemput. Kita masih verifikasi ruangan yang tersedia. Takut ada yang tumpang tindih,” pungkasnya.

(rezza rizaldi)

Berita Terkait :

Positif Covid-19 Membludak, 2 Hotel di Kota Tasik Bakal Dipake Ruang Isolasi

INNALILLAHI.. Sore Ini, Kasus Positif di Kota Tasik Nambah Lagi 13 Warga, Sehari 53 Kasus

PARAH! Hari Ini Nambah Lagi 40 Warga Kota Tasik Positif Covid-19

Kasus Corona di Kota Tasik Naik Terus, Pemprov Bantu 10 Ribu Alat Rapid Test

Kasus Covid-19 di Kota Tasik Nambah Lagi 4 Orang, 33 Diisolasi di Rusunawa 48 di RSUD

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.