Angka Perceraian Makin Tinggi

371
0
DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA TUNJUKKAN. Panmud Pengadilan Agama Nunung Nurlela SH memperlihatkan data angka perceraian di ruangannya kemarin.

Masalah Ekonomi Jadi Faktor Utama
SINGAPARNA – Angka perceraian di Kabupaten Tasikmalaya setiap tahun meningkat. Berdasarkan data di Pengadilan Agama Tasikmalaya Kelas I A pada 2016 angka cerai mencapai 3.377 perkara dan 2017 sebanyak 3.576 perkara. Masalah ekonomi menjadi faktor utamanya.
Panitera Muda (Panmud) Pengadilan Agama Tasikmalaya Kelas I A, Nunung Nurlela SH menjelaskan perkara perceraian yang diterima oleh pengadilan agama pada 2017 ada 3.576 kasus. Terdiri dari cerai talak 929 dan cerai gugat 2.647 kasus.
Untuk 2016, terang Nunung, perkara perceraian yang diterima seluruhnya ada 3.377 kasus. Terdiri dari cerai talak 913 dan cerai gugat 2.464 kasus. “Ada peningkatan angka perceraian dari tahun 2016 sampai 2017. Naik menjadi 199 perkara perceraian,” ujar Nunung saat di wawancara Radar di ruangannya, Jumat (5/1).
Menurut Nunung, faktor penyebab utama perceraian di 2016 maupun 2017 di Kabupaten Tasikmalaya, sekitar 60 persen karena masalah ekonomi. Contohnya pemohon yang mengajukan cerai talak. “Pemohonnya atau suaminya mengajukan cerai talak karena permintaan nafkah dari termohon atau istrinya lebih besar dari pada gaji atau upah yang diterimanya,” ungkapnya.
Kemudian cerai gugat, si pemohonnya adalah istrinya. Menggugat cerai karena suaminya tidak mampu lagi memberikan nafkah. “Sama masalah ekonomi. Karena suaminya tidak sanggup memberikan nafkah untuk risiko rumah tangganya,” paparnya.
Di posisi kedua setelah masalah ekonomi, kata dia, perceraian terjadi karena perselisihan tempat tinggal. “Istrinya pengen di rumah orang tuanya. Sementara suaminya pengen di tempat lain. Atau rumah orang tuanya,” jelasnya.
Di posisi ketiga, jelas dia, perceraian terjadi akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suami kepada istrinya. Sehingga istrinya mengajukan cerai gugat. “Dan terakhir sisanya terjadi perceraian karena ada pihak ketiga atau perselingkuhan,” terang dia.
Salah seorang pemohon cerai talak asal Kecamatan Sukaraja AR (30) mengaku mendaftarkan gugatan cerai talak terhadap istrinya ke pengadilan dengan alasan masalah ekonomi. “Permintaan nafkah istri, lebih besar dari pada penghasilan saya,” ungkapnya. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.