Antisipasi Kekeringan Lahan Pertanian di Musim Kemarau, Pemkab Garut Mulai Fungsikan Embung

55
0

TAROGONG KIDUL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut akan memfungsikan embung atau cekungan penampungan air. Tujuannya, untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi pada musim kemarau saat ini.

Nantinya, embung-embung yang tersebar di 15 kecamatan ini sebagai pemasok air ke lahan pertanian dan kebutuhan air masyarakat. “Embung ini sangat efektif dijadikan tempat pasokan air pada musim kemarau untuk mengairi lahan pertanian,” ujar Bupati Garut H Rudy Gunawan kepada wartawan Kamis (18/7).

Seperti halnya di wilayah Desa Cibunar Kecamatan Tarogong Kidul. Embung di wilayah tersebut bisa dipakai untuk mengairi lahan pertanian seluas 300 hektare di wilayah Kecamatan Tarogong Kidul dan Garut Kota. “Lahan pertanian di Tarogong Kidul dan Garut Kota bisa pakai air dari sini. Saat musim kemarau, tentu akan sangat membantu,” katanya.

Sudah ada belasan embung yang dibangun. Ter­masuk di dae­rah pertanian yang rawan po­ten­si kekeringa. Seperti di wilayah utara dan selatan Garut. “Embung ini didesain dengan sistem tampungan air hujan. Nantinya bisa dialirkan ke ­lahan warga,” ujarnya.

Meski kapasitas embung tak terlalu besar, kata dia, tetapi bisa mengairi pesawahan. Pihak­nya pun me­nyediakan pompanisasi untuk lahan yang sudah kehabisan sumber air. “Kami juga akan melakukan nor­malisasi saluran-saluran irigasi. Sehingga penyuplaian air dari embung bisa lancar,” katanya.

Rudy me­ne­rang­kan antisipasi di­la­kukan karena berdasarkan Laporan dari BMKG, kemarau akan terjadi sampai Oktober. “Perkiraannya masih lama jadi harus ada antisipasi. Jangan sampai ada yang gagal panen,” terangnya.

Sekretatis Dinas Pertanian Kabupaten Garut Haeruman mengatakan dampak kekeringan yang terjadi sekarang sudah mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang masuk sampai tanggal 15 Juli 2019, yang terkena dampak kekeringan pada tanaman padi seluas 2.075 hektare. “Dari jumlah itu hanya 497 hektare saja yang puso (gagal panen). Jadi yang terkena dampak kekeringan ini hanya 6,9 persen dari total lahan pesawahan 29.881 hektare,” terangnya.

Memasuki musim kemarau, pihaknya sudah melakukan persiapan antisipasinya, salah satunya perbaikan saluran irigasi dan pemberian bantuan benih gratis. “Musim kemarau ini kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk menanam palawija, sayuran ataupun tanaman lain yang tidak banyak membutuhkan air di sawahnya pada musim kemarau saat ini,” ujarnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.