Beranda Hoak atau Bukan Antisipasi Musim Kemarau 2018

Antisipasi Musim Kemarau 2018

176
BERBAGI

PERIODE musim hujan 2017–2018 yang kini sudah mulai berakhir meninggalkan beberapa catatan kelam. Cuaca buruk tak henti melanda berbagai daerah di Indonesia. Musim hujan tidak saja menimbulkan banjir di berbagai kawasan rawan, tetapi juga menyebabkan banyak longsor.

Munculnya siklon tropis Cempaka di selatan Jawa Tengah akhir 2017 telah memicu bencana banjir, longsor dan angin kencang di 28 kabupaten/kota di Pulau Jawa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, dampak siklon tropis mengakibatkan lebih dari 40 orang meninggal dan hilang di Pacitan, Jogja, Wonogiri, Wonosobo dan Purworejo. Bencana cuaca ini merusak 4.888 rumah dan 25 fasilitas umum hingga memaksa 28.190 orang mengungsi.

Curah hujan tinggi juga memicu longsor dahsyat di Desa Pasir Panjang, Salem, Brebes, pada 23 Februari lalu. Para ahli longsor bahkan menilai, peristiwa longsor tersebut cukup spektakuler. Jarak luncuran longsor yang mencapai 1 kilometer mengakibatkan para petani dan pengguna jalan menjadi korban. Tercatat, sebanyak 11 orang meninggal dan 7 orang lainnya hilang.

Sebenarnya masih banyak catatan bencana hidrometeorologi lain. Seperti banjir, longsor dan angin kencang di sejumlah daerah. Kiranya kedua bencana di atas cukup untuk menggambarkan peristiwa memilukan yang mengiringi musim hujan 2017–2018.

Kondisi Fisis
Musim kemarau 2018 kini sudah menjelang. Beberapa kalangan bertanya, kapan musim kemarau dimulai dan seperti apakah sifat musim kemarau tahun ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, butuh kajian kondisi fisis dinamika atmosfer dan suhu muka laut. Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang bersumber di Ekuator Pasifik Tengah dan Indian Ocean Dipole (IOD) di wilayah barat Indonesia.

Fenomena regional juga berpengaruh, seperti sirkulasi monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu muka laut sekitar wilayah Indonesia.

Kajian BMKG dalam buku Prakiraan Musim Kemarau 2018 di Indonesia menyebutkan bahwa indeks ENSO menunjukkan kondisi La Nina lemah dan pada April–Mei 2018 menuju netral. Dipole Mode Index juga diprediksi netral hingga akhir tahun, sementara suhu muka laut Indonesia diprediksi menghangat hingga pertengahan 2018.

Beberapa prediksi menunjukkan bahwa kondisi La Nina lemah akan meluruh pada tengah 2018. Ini memberi indikasi bahwa awal musim kemarau tidak signifikan terpengaruh kondisi El Nino seiring dengan meluruhnya ke kondisi netral. Hingga akhir Februari 2018 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normal dan diprakirakan monsun Asia diprediksi masih normal hingga Maret 2018.

Posisi ITCZ pada akhir Februari 2018 dominan berada di selatan ekuator dan akan bergerak ke utara menuju garis ekuator mengikuti pergerakan tahunannya. Jika dibandingkan terhadap posisi rata-ratanya, posisi tersebut sesuai dengan kisaran rata-rata sehingga potensi sifat musim kemarau di beberapa wilayah diprakirakan akan cenderung normal sesuai kondisi rata-rata wilayah masing-masing.

Suhu muka laut di Indonesia selama kemarau diprakirakan akan menghangat hingga Juli 2018 dengan anomali suhu berkisar 0,5 derajat C s/d +2 derajat C. Wilayah perairan Indonesia lainnya seperti Sumatera bagian utara diprakirakan cenderung normal dengan anomali suhu muka laut berkisar antara -0,5 derajat C s/d 0,5 derajat C.

Awal Musim Kemarau
Awal musim kemarau menurut prakiraan musim kemarau 2018 hasil publikasi BMKG menunjukkan bahwa awal musim kemarau 2018 umumnya dimulai April, Mei dan Juni 2018. Sementara itu, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia diprakirakan mundur atau terlambat sebanyak 52,6 %, sama 36,0 % dan maju 11,4 % jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun.

Prakiraan terhadap ”sifat hujan” selama periode musim kemarau 2018 di sebagian besar wilayah di Indonesia diprakirakan akan normal (56,7 %), atas normal (36,5 %) dan bawah normal (6,7 %).

Diperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga Oktober.

Prakiraan musim juga menunjukkan, awal musim kemarau yang jatuh pada April 2018 terjadi di 19 zona musim di Jawa, 5 zona musim di Bali, 15 zona musim di NTB, 18 zona musim di NTT, dan 2 zona musim di Sulawesi.

Sementara itu, zona musim dengan awal musim kemarau jatuh pada Mei meliputi 22 zona musim Sumatera, 82 zona musim di Jawa, 3 zona musim di Bali, 2 zona musim di NTB, 1 zona musim di NTT, 4 zona musim di Kalimantan, 2 zona musim di Sulawesi, dan 5 zona musim di Papua.

Selanjutnya zona musim yang awal musim kemarau jatuh pada Juni meliputi 25 zona musim Sumatera, 46 zona musim di Jawa, 2 zona musim di Bali, 10 zona musim di Kalimantan, 14 zona musim di Sulawesi, 1 zona musim di Maluku dan 1 zona musim di Papua. Di samping itu, masih ada beberapa zona musim lain yang awal musim kemaraunya dimulai pada bulan Juli, Agustus dan September, tapi zona musimnya tidak banyak.

Semoga catatan ini dapat memberi masukan berbagai pihak sebagai upaya antisipasi, mitigasi dan adaptasi agar masyarakat tidak dirugikan oleh datangnya kemarau. Implikasi dari kondisi kemarau patut diwaspadai seperti turunnya muka air danau/waduk, berkurangnya debit air untuk PLTA, meningkatkan titik panas (hotspot) dan kemungkinan potensi kebakaran hutan dan lahan. (*)

*) Pengamat meteorologi dan geofisika ahli di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.